Selasa, 26 April 2016

Memori Hitam



          Cermin itu diam saja, tak ada reaksi apapun sedari tadi. Padahal aku begitu kacau dan bingung. Lama sekali aku menatap cermin, berbagai dialog dalam pikiran menyeruak. Akalku berpikir untuk menghentikan semua ini, namun hatiku ciut begitu saja. Sial. Sampai kapan aku begini terus?
*******
“Selamat malam. Selamat datang di Galeri Hitam.” Seseorang dengan kemeja hitam dan dasi kupu-kupu menyambutku sembari membukakan pintu. Dia sungguh ramah, tapi tetap saja, aku begitu gugup.
“Hai, Kevin. Sini! Akhirnya kamu datang juga. Gimana menurutmu?” Wanita cantik yang selalu membuat wajahku memerah, menyambutku. Lian Amora, begitu orang mengenalnya.
“Oh, hai. A-aku suka lukisanmu, semuanya bagus. Tapi kenapa nuansanya hitam?” Aku berbohong. Sejak tadi belum ada satu pun lukisan yang ku lihat.
“Karena aku suka warna hitam. Hitam begitu misterius, tapi indah untuk diselami. Yuk, ikut aku.” Dia menggandeng tanganku. Menarikku ke tengah ruangan. Terlihat satu lukisan yang sangat besar. Dan tiba-tiba saja semuanya gelap.
*******
            Ketika ku buka mataku, tercium aroma yang sudah sangat familiar bagiku, rumah sakit. Di sampingku, ada Lian yang terkantuk-kantuk.
“Kevin, kamu sudah sadar?” Lian tersadar dari kantuknya dan berdiri, menatapku khawatir.
“Iya. Maaf ngerepotin…”
“Kenapa kamu nggak jujur tentang sakitmu? Kalau aku tau, aku membantumu. Aku minta maaf.”
“K-kamu tau dari mana? Aku tadi cuma sedikit pusing, kok. Tenang aja. Mukamu jelek kalau lagi khawatir.”
“Ini bukan waktunya bercanda, Kevin. Mulai sekarang kamu harus hati-hati, aku pasti bantu kamu buat ngelawan penyakit aneh ini. Oke?” Matanya berkaca-kaca. Kenapa dia begitu khawatir?
            Begitulah, akhirnya dia mengetahui penyakit memalukanku ini. Kevin Dinara, lelaki berusia 27 tahun yang memiliki penyakit Stendhal Syndrom, dimana penderitanya mengalami rasa takut berlebih pada objek seni seperti lukisan, sehingga bisa sakit kepala, jantung berdebar, bahkan halusinasi. Memalukan, bukan? Lelaki dewasa takut pada lukisan. Karena itu, selama ini aku menyembunyikannya, hanya keluargaku yang tahu. Dan kini, orang yang ku cintai mengetahuinya.
*******
            Hari ini aku diperbolehkan pulang. Aku berharap pulang dari sini Stendhal-ku bisa menghilang. Tapi itu tidak mungkin. Dia telah bercokol kuat di dalam akal dan hatiku. Memutus urat keberanianku atas benda mati menyebalkan itu. Dan gerimis turun, untung saja aku sudah sampai di rumah. Ketika memasuki kamarku, tiba-tiba saja jantungku berdebar, keringat dingin meluncur bebas dari keningku, aku menarik napas panjang, menenangkan diri. Begitu melemahkan hingga aku jatuh dan merayap menuju tempat tidurku sendiri. Harus ku lawan, harus ku lawan. Sampai di ranjang, ku tarik selimutku, menahan kelemahanku dan tertidur dalam ketakutan. Dan ketika terbangun, ada Lian di depanku.
“Maaf, Kevin. Kamu harus belajar menghilangkan Stendhal-mu itu. Aku sengaja mengirim lukisan besar yang kamu lihat kemarin ini. Lihat, mawar hitam dalam lukisan ini begitu indah, kan? Kenapa harus takut?” Dia memaksaku untuk menatap langsung lukisan itu. Kepalaku terasa sakit sekali.
“A-aku masih nggak bi-bisa, Yan. To-tolong jangan paksa aku…” Aku menghiba padanya.
“Jangan membantah! Terus saja lihat lukisanku ini, lihat!” Lian mencengkeramku kuat. Ada apa dengan Lian? Dia begitu memaksa hingga rasanya kepalaku mau pecah.
“Lian! A-apa yang kamu lakukan? Kamu nggak tau gimana sakitnya! Lepasin aku!” Aku memberontak. Mencoba melepas cengkeramannya. Namun semakin kuat aku berontak, semakin garang ia menggertak.
“Aku tau gimana sakitnya, aku tau! Sekarang kamu cuma harus nurut apa kataku, aku mohon, Kevin…” Lian melonggarkan cengkeramannya, dan air matanya mulai menetes.
“Kevin, aku nggak mau mengulang rasa sakit kedua kalinya. Jadi tolong, lawan rasa sakitmu itu. Sekarang pelan-pelan, lihat lukisanku itu. Lihat indahnya mawar hitam yang ku buat. Lihat tajamnya duri-duri pada tangkainya. Lihat, Kevin.”
“A-aku masih belum bisa, Lian.” Aku menggeleng, menahan sakit di kepalaku.
“Kalau begitu, lihat mawar ini, mawar hitam ini.” Ia mengeluarkan setangkai mawar hitam. Mawar itu begitu indah, hitam berkilau dengan duri-duri tajam di tiap sisi tangkainya, membuatnya gagah. Aku menikmati pesona mawar hitam ini, tidak seperti lukisannya yang menyakitkan itu.
“Tahun lalu, aku bertengkar hebat dengan ayahku. Entah kenapa dia selalu mengahalangi mimpiku untuk menjadi pelukis hebat. Dia begitu jijik dengan lukisan-lukisan yang ku buat, hingga membakar habis semuanya. Aku sangat marah waktu itu. Hingga ayah terkena serangan jantung dan dirawat di rumah sakit, aku nggak peduli. Aku tetap melanjutkan persiapan untuk grand opening galeri pertamaku…” Lian berhenti sejenak, mengambil napas dan mengusap air matanya yang tak henti mengalir.
“Dan saat galeriku dibuka, aku mendapat telepon dari ibu. Aku berlari ke rumah sakit, berharap ayah masih bernapas hingga aku sampai disana. Dan ketika sampai, ayah mengelus rambutku, meminta maaf padaku. Sejak saat itu aku tau, ayah punya penyakit yang sama sepertimu. Entah kenapa tiba-tiba dia memintaku untuk melukiskan mawar hitam untuknya. Meski heran, aku tetap melakukannya. Sampai pada olesan cat terakhirku, ayah menghembuskan napas terakhirnya. Aku begitu benci pada diriku. Karena itu, aku nggak akan membiarkanmu kalah dengan Stendhal-mu itu, Kevin.” Dia menatap mataku, dalam.
“Jadi ini lukisan untuk ayahmu? Tapi, kenapa kamu begitu peduli denganku? Aku bukan siap—“
“Karna aku mencintaimu! Apa kamu bodoh? Aku nggak mau kehilangan orang yang kucinta lagi, Kevin…” Lian memotong ucapanku, menggantinya dengan ungkapan cinta yang tegas.
“Lian…” Aku masih belum mempercayai kata-katanya barusan.
“Sekarang kita coba lagi ya, Kevin? Kamu lihat pelan-pelan lukisan ini.”
            Entah kekuatan dari mana, aku memberanikan diri untuk melihat lukisan itu. Perlahan tapi pasti. Aku berhasil! Apa ini kekuatan cinta? Aku melihat betapa indah dan gagahnya lukisan mawar hitam ini, bahkan lebih indah dari bunga aslinya. Lukisan itu makin membesar hingga membawaku melayang, menyusuri awan. Banyak suara di sekelilingku, namun tak ada seseorang disini. Banyak suara mesin bip-bip-bip, bahkan suara tangisan. Aku tak peduli, mawar ini begitu mempesona, sayang untuk dilewatkan.
            Sampai ketika aku melihat Lian yang bersimpuh sendiri di tengah hujan, memukuli tanah yang tak bersalah. Menancapkan banyak mawar hitam dan membiarkan jari-jarinya tergores duri-duri mawar. Dia berteriak di tengah guntur, menunjukkan wajahnya yang begitu pilu, hatinya seolah tercabik kenangan pahit. Bukan aku yang menginginkan ini semua, Lian. Maafkan aku.
“Kenapa kamu menyerah, Kevin? Kenapa kamu menyusul ayah? Kenapa? Kenapa pembuluh darah di otakmu itu menyerah, Kevin? Kenapa ia pecah? Apa aku harus memutus nadiku juga? Hah?!” Lian memukuli batu nisan itu, tak peduli hingga darah dimana-mana.
Maafkan aku, Lian…