Cermin itu diam
saja, tak ada reaksi apapun sedari tadi. Padahal aku begitu kacau dan bingung.
Lama sekali aku menatap cermin, berbagai dialog dalam pikiran menyeruak. Akalku
berpikir untuk menghentikan semua ini, namun hatiku ciut begitu saja. Sial.
Sampai kapan aku begini terus?
*******
“Selamat malam.
Selamat datang di Galeri Hitam.” Seseorang dengan kemeja hitam dan dasi
kupu-kupu menyambutku sembari membukakan pintu. Dia sungguh ramah, tapi tetap
saja, aku begitu gugup.
“Hai, Kevin. Sini!
Akhirnya kamu datang juga. Gimana menurutmu?” Wanita cantik yang selalu membuat
wajahku memerah, menyambutku. Lian Amora, begitu orang mengenalnya.
“Oh, hai. A-aku
suka lukisanmu, semuanya bagus. Tapi kenapa nuansanya hitam?” Aku berbohong.
Sejak tadi belum ada satu pun lukisan yang ku lihat.
“Karena aku suka
warna hitam. Hitam begitu misterius, tapi indah untuk diselami. Yuk, ikut aku.”
Dia menggandeng tanganku. Menarikku ke tengah ruangan. Terlihat satu lukisan
yang sangat besar. Dan tiba-tiba saja semuanya gelap.
*******
Ketika ku buka mataku, tercium aroma
yang sudah sangat familiar bagiku, rumah sakit. Di sampingku, ada Lian yang
terkantuk-kantuk.
“Kevin, kamu sudah
sadar?” Lian tersadar dari kantuknya dan berdiri, menatapku khawatir.
“Iya. Maaf ngerepotin…”
“Kenapa kamu nggak
jujur tentang sakitmu? Kalau aku tau, aku membantumu. Aku minta maaf.”
“K-kamu tau dari
mana? Aku tadi cuma sedikit pusing, kok. Tenang aja. Mukamu jelek kalau lagi
khawatir.”
“Ini bukan
waktunya bercanda, Kevin. Mulai sekarang kamu harus hati-hati, aku pasti bantu
kamu buat ngelawan penyakit aneh ini. Oke?” Matanya berkaca-kaca. Kenapa dia
begitu khawatir?
Begitulah, akhirnya dia mengetahui
penyakit memalukanku ini. Kevin Dinara, lelaki berusia 27 tahun yang memiliki
penyakit Stendhal Syndrom, dimana penderitanya mengalami rasa takut berlebih
pada objek seni seperti lukisan, sehingga bisa sakit kepala, jantung berdebar,
bahkan halusinasi. Memalukan, bukan? Lelaki dewasa takut pada lukisan. Karena
itu, selama ini aku menyembunyikannya, hanya keluargaku yang tahu. Dan kini,
orang yang ku cintai mengetahuinya.
*******
Hari ini aku diperbolehkan pulang.
Aku berharap pulang dari sini Stendhal-ku bisa menghilang. Tapi itu tidak
mungkin. Dia telah bercokol kuat di dalam akal dan hatiku. Memutus urat
keberanianku atas benda mati menyebalkan itu. Dan gerimis turun, untung saja
aku sudah sampai di rumah. Ketika memasuki kamarku, tiba-tiba saja jantungku
berdebar, keringat dingin meluncur bebas dari keningku, aku menarik napas
panjang, menenangkan diri. Begitu melemahkan hingga aku jatuh dan merayap
menuju tempat tidurku sendiri. Harus ku lawan, harus ku lawan. Sampai di
ranjang, ku tarik selimutku, menahan kelemahanku dan tertidur dalam ketakutan.
Dan ketika terbangun, ada Lian di depanku.
“Maaf, Kevin.
Kamu harus belajar menghilangkan Stendhal-mu itu. Aku sengaja mengirim lukisan
besar yang kamu lihat kemarin ini. Lihat, mawar hitam dalam lukisan ini begitu
indah, kan? Kenapa harus takut?” Dia memaksaku untuk menatap langsung lukisan
itu. Kepalaku terasa sakit sekali.
“A-aku masih
nggak bi-bisa, Yan. To-tolong jangan paksa aku…” Aku menghiba padanya.
“Jangan
membantah! Terus saja lihat lukisanku ini, lihat!” Lian mencengkeramku kuat.
Ada apa dengan Lian? Dia begitu memaksa hingga rasanya kepalaku mau pecah.
“Lian! A-apa
yang kamu lakukan? Kamu nggak tau gimana sakitnya! Lepasin aku!” Aku
memberontak. Mencoba melepas cengkeramannya. Namun semakin kuat aku berontak,
semakin garang ia menggertak.
“Aku tau gimana
sakitnya, aku tau! Sekarang kamu cuma harus nurut apa kataku, aku mohon,
Kevin…” Lian melonggarkan cengkeramannya, dan air matanya mulai menetes.
“Kevin, aku
nggak mau mengulang rasa sakit kedua kalinya. Jadi tolong, lawan rasa sakitmu
itu. Sekarang pelan-pelan, lihat lukisanku itu. Lihat indahnya mawar hitam yang
ku buat. Lihat tajamnya duri-duri pada tangkainya. Lihat, Kevin.”
“A-aku masih
belum bisa, Lian.” Aku menggeleng, menahan sakit di kepalaku.
“Kalau begitu,
lihat mawar ini, mawar hitam ini.” Ia mengeluarkan setangkai mawar hitam. Mawar
itu begitu indah, hitam berkilau dengan duri-duri tajam di tiap sisi
tangkainya, membuatnya gagah. Aku menikmati pesona mawar hitam ini, tidak
seperti lukisannya yang menyakitkan itu.
“Tahun lalu, aku
bertengkar hebat dengan ayahku. Entah kenapa dia selalu mengahalangi mimpiku
untuk menjadi pelukis hebat. Dia begitu jijik dengan lukisan-lukisan yang ku
buat, hingga membakar habis semuanya. Aku sangat marah waktu itu. Hingga ayah
terkena serangan jantung dan dirawat di rumah sakit, aku nggak peduli. Aku
tetap melanjutkan persiapan untuk grand opening galeri pertamaku…” Lian
berhenti sejenak, mengambil napas dan mengusap air matanya yang tak henti
mengalir.
“Dan saat
galeriku dibuka, aku mendapat telepon dari ibu. Aku berlari ke rumah sakit,
berharap ayah masih bernapas hingga aku sampai disana. Dan ketika sampai, ayah
mengelus rambutku, meminta maaf padaku. Sejak saat itu aku tau, ayah punya
penyakit yang sama sepertimu. Entah kenapa tiba-tiba dia memintaku untuk melukiskan
mawar hitam untuknya. Meski heran, aku tetap melakukannya. Sampai pada olesan
cat terakhirku, ayah menghembuskan napas terakhirnya. Aku begitu benci pada
diriku. Karena itu, aku nggak akan membiarkanmu kalah dengan Stendhal-mu itu,
Kevin.” Dia menatap mataku, dalam.
“Jadi ini
lukisan untuk ayahmu? Tapi, kenapa kamu begitu peduli denganku? Aku bukan
siap—“
“Karna aku
mencintaimu! Apa kamu bodoh? Aku nggak mau kehilangan orang yang kucinta lagi,
Kevin…” Lian memotong ucapanku, menggantinya dengan ungkapan cinta yang tegas.
“Lian…” Aku
masih belum mempercayai kata-katanya barusan.
“Sekarang kita
coba lagi ya, Kevin? Kamu lihat pelan-pelan lukisan ini.”
Entah kekuatan dari mana, aku
memberanikan diri untuk melihat lukisan itu. Perlahan tapi pasti. Aku berhasil!
Apa ini kekuatan cinta? Aku melihat betapa indah dan gagahnya lukisan mawar hitam
ini, bahkan lebih indah dari bunga aslinya. Lukisan itu makin membesar hingga
membawaku melayang, menyusuri awan. Banyak suara di sekelilingku, namun tak ada
seseorang disini. Banyak suara mesin bip-bip-bip, bahkan suara tangisan. Aku
tak peduli, mawar ini begitu mempesona, sayang untuk dilewatkan.
Sampai ketika aku melihat Lian yang
bersimpuh sendiri di tengah hujan, memukuli tanah yang tak bersalah.
Menancapkan banyak mawar hitam dan membiarkan jari-jarinya tergores duri-duri
mawar. Dia berteriak di tengah guntur, menunjukkan wajahnya yang begitu pilu,
hatinya seolah tercabik kenangan pahit. Bukan aku yang menginginkan ini semua,
Lian. Maafkan aku.
“Kenapa kamu
menyerah, Kevin? Kenapa kamu menyusul ayah? Kenapa? Kenapa pembuluh darah di
otakmu itu menyerah, Kevin? Kenapa ia pecah? Apa aku harus memutus nadiku juga?
Hah?!” Lian memukuli batu nisan itu, tak peduli hingga darah dimana-mana.
Maafkan aku,
Lian…