Senin, 25 Mei 2015

Menapaki Jalan Terjal Pembuatan Film~



Hai, Kawaaan!! Aku mau ngelanjutin posting tentang pembuatan film nih, proses-proses menapaki jalan terjal pembuatan film yang memakan waktu hanya 2 hari. DUA HARI pemirsa, bayangkan!! Hebat, bukan? hahaha B-)

Oke langsung aja bang tanpa menunggu lama, aku akan membongkar semuanyaa~ :v

HARI PERTAMA

Jum’at, 2 Mei 2015. Di rumah Nanda, Dorowati tercintah :*

                Hari ini kita ngambil tempat di rumah Nanda karena kita ngincer meja makannya :v butuh meja makan buat beberapa adegan. Oiya, walopun kitakita udah di rumah Nanda dari jam 9an, kita baru mulai “syuting” sekitar jam setengah 11an gitu, molor buat ngemil, makeup, becanda-becanda gitu. Kita Cuma ngambil sedikit adegan, gak ada separonya kayanya, pokoknya kita nyuwante bangeet. Kita makan gratis, Kawan. Makan soto ayam, hahaha makasiyaaa mamanya Nanda :-D

                Kesulitan pas di rumah Nanda ialah ketika orang-orang pada lewat pas kita take adegan di jalanan, bolak-balik mulu apalagi si anak kecil tak dikenal yang mengendarai sepeda, jangan Tanya dia anak siapa :’v Adegan juga macet di Nanda pas adegan marah-marah, Nanda take ulang sampe beberapa kali entah tujuh kali atau berapa, yang jelas dia gak dapet piring cantik. Selain itu, waktu kita kepotong sama sholat Jum’at. Tapi gapapa, walopun kita ini aktor dan aktris profesional yang kece membludak, kita masih inget sama Allah kok, sholat jangan ditinggal B-)

                Kita memutuskan buat pulang jam 4an, dan waktu itu lagi ujan. Yah gapapa lah demi sebuah film karya bersama, kita rela buat ujan-ujanan B-) *anjaay*



HARI KEDUA

Sabtu, 2 Mei 2015. Di rumah Gilang, Marabunta~

                Nah, hari ini kita ngambil banyaaaak banget adegan, kejar tayang gitu. Abisnya pas jum’at kemaren kita nywante-nywante, jadinya hari kedua ini jor-joran deh._.

                Adegan paling lama itu pas di toko mbahnya Gilang, mungkin karna faktor berisiknya jalan raya (karna di pinggir jalan), harus bolak-balik dari toko ke rumah Gilang atau sebaliknya, dan laen-laen. Terus, pas udah selesai dari toko dan balik ke rumah Gilang, malah ujan-_- Bukannya gak bersukur karna ujan, tapi kan kita lagi butuh hari yang cerah buat maksimalin film kita, tapi yaudalahyaa mau digimanain lagi. Kita lanjut take adegan lainnya, sulitnya itu pas take adegan Gilang bareng mama (Bila), salah mulu Gilangnya, sampe lelah diri ini melihatnya :v Tapi gapapa, pada akhirnya kita bisa kok beradegan yang semestinya.

                Udah jam 4an banyak yang mulai gegana, entah pengen pulang karna lavar atau ngantuk atau diomelin emak, satu persatu dari kita mulai gugur (baca: pulang). Sekitar maghrib, tersisalah beberapa anak, mungkin separo dari jumlah kita keseluruhan. Sebenernya masih banyak adegan yang harus diambil, tapi karna udah larut dan pengen cepet selesai, kita persingkat aja, adegan-adegan yang gak terlalu penting dan bisa diilangin ya kita ilangin. Syudah capek qaqa~

                Oiya, kita di rumah Gilang ini makan geratis dua kali lho, Kawan. DUA KALI. Alhamdulillaah haha XD makasiyaaaa mamanya Gilang~ Dan berakhir sudah syuting film kita, sekitar isya’ kita pulang ke rumah orangtua masing-masing.

Begitulah, Kawan. Susah juga lho bikin film, ini buat pengalaman pertama kali. Walaupun hasilnya jauuuuh dari film-film yang ada di tipi-tipi, kita tetep puas atas hasil garapan kita sendiri. Walaupun kualitas gambarnya gak terlalu bagus karena pake kamera pocket, kita tetep seneng ngeliatnya. Walaupun akting kita masih amatiran, kita tetep bangga kok sama kemampuan kita sendiri *masasi?*

Iya seriusan. Bikin film ini sesuatu yang susah, ribet, njelimet, rempong, riweuh, seru, ngangenin, pengalaman yang amazing, banyak hal yang bisa kita tau. Yang jelas, aku sebagai anggota dari pembuatan film ini, gak bakal ngelupain momen-momen kebersamaan dan kegilaan bareng Kelompok A ini. Walaupun bikin malu pas ditayangin, ini tetep bakalan jadi hal yang Unforgotten. Suwer deh hihi^^

Yaudah, pegel ngetik curcolan ini, makasiyaa buat yang udah mau ngeluangin waktunya buat baca wkwk, love u({}) Keep bloging! ;)

Kamis, 14 Mei 2015

Dibalik Film "Sepotong Senja yang Hilang"~



Hai, Kawan! Kita ketemu lagi. Sempet bingung banget mau nulis apaan, nulis puisi lagi gak galau *masa?*, mau nulis curhatan juga males, yaudah kite nulis tentang pembuatan film aja yak, sesuai dengan usul salah satu temen aku hehe.

Film? Film apaan nel?
Please, jangan pura-pura bego, kalian kan tau kalo aku ini aktris tersohor abad ini B-)

SERIUSAN nel! Film apaan??!

Oke-oke, santai bang. Ini film buat tugas Bahasa Indonesia, satu kelas (XI IPA 3) yang isinya 30 biji dibagi jadi 2 kelompok, nah aku kebagian di kelompok A. Kali ini bahas filmnya kelompok aku aja ya, biar afdhol.
Kelompok A ini mempersembahkan film bergenre mellow-drama atau film mewek-mewekan yang berjudul “Sepotong Senja yang Hilang”. Jiailaaah ajib bener kan yak judulnya? Itu diadaptasi dari cerpen yang berjudul sama. Film ini berdurasi 26 menit, mengambil setting di rumah sukarelawan kami yang mau berbagi rumah dan makanan gratis, yaitu Nanda Risyadi (pada 1 Mei 2015) dan juga rumahnya Fachrurrozi Gilang R. (pada 2 Mei 2015). Makasih ya gaes :3 Oiya, kita juga ngambil setting di toko mbahnya Gilang, makasiyaa hihi

Hmm ini nih bocah-bocah kelompok A yang kece badai membahana:
1.       Diana Stefanie. Sebagai koordinator, kamerawati, director, dan juga pemeran dokter.

2.       Jovita Rahma Edria. Sebagai wakil koordinator, pembuat darah-darahan, dan juga pemeran sekretaris kantor.

3.       Alfi Unsiati Ummi Hana. Sebagai pencetus ide digunakannya cerpen “Sepotong Senja yang Hilang” sebagai bahan film, nyonya casting, dan pemeran Fajar.

4.       Salsabila Naura Mawaddah. Sebagai pemeran Mama yang mewek muluuu huhuhu.

5.       Dhimas Putra Yudha Perdana. Sebagai pemeran Papa yang dikira selingkuh, hiks.

6.       Fachrurrozi Gilang Ramadhan. Sebagai ‘Nizzam’, anak sulung Mama dan Papa.

7.       Naelly Hesty Koesnaeny. Yak, ini aku sendiri sebagai ‘Nisa’, anak kedua yang notabene kembaran sama Nizzam.

8.       Alfin Nur Mishbahuddin. Sebagai ‘Hikko’, anak ketiganya Mama Papa.

9.       Nanda Risyadi. Sebagai ‘Bilqis’, anak terakhir yang merupakan bidadari cantiknya kak Nizzam :v

10.   Nadiyah Neswari. Sebagai adiknya Mama yang tabah dan gak nikah-nikah :’v termasuk editor dan kamerawati juga loh~

11.   Intan Erlina Sari. Ini editor utamanya *asekkk* sekaligus pengetik naskah film ini, berperan juga sebagai ‘temennya Papa’ yang dikira selingkuh. Oiya dia jadi maekup artis juga looh

12.   Akmal Fikri KKW. Sebagai pegawai tokonya Mama.

13.   Sinta Yulianti. Ini juga pegawai tokonya Mama. Soswit ya nomor 12 dan 13 ini wkwk.

14.   Sastri Ade Priyangga. Sebagai temennya Hikko yang doyan basketan.

15.   Wibi Wisnu Wicaksono. Sebagai temen Hikko yang demen ama sepak bola.

Gimana? Kebukti kan kalo kitakita ini emang kece badai pecah membahana? Haha udah biasa dibilang begitu B-)
Nah, ini baru bocah-bocahnya, capek ngetik mulu, ntar dilanjutin lagi yaa nulis tentang “Suka Duka Menapaki Jalan Terjal Pembuatan Film”. Thanks guys! Keep bloging ;)

Jumat, 08 Mei 2015

Diam.



Kadang lebih baik diam,
Bagai embun pada mentari pagi
Sebelum ia menghilang
Bagai bintang pada fajar
Sebelum ia tenggelam
Aku bukanlah pengecut
Yang gentar atau takut
Bukannya tak mau
Hanya saja ragu
Apa kau akan tetap
Melihat ke arahku dengan mantap
Apa kau masih akan
Tertawa lepas tanpa beban
Bersamaku, bersama rasa ini
Namun, aku terlalu ngeri
Membayangkan kau memahami ini
Mungkin lebih baik diam.

Senin, 04 Mei 2015

Jangan hanya menanti!



Hai, tulisan ini bukan berupa puisi. Tapi, perlu juga kok buat dibaca ;)

Kamu pernah nggak menanti sesuatu yang nggak pasti? Nggak tau apa yang harus dinanti dan diharapkan, tetapi tetap kamu lakukan demi mengikuti perasaan yang bimbang. Layaknya drama Godot, pada akhirnya kamu menyadari bahwa apa yang dinanti itu nggak akan datang, bukan sebuah cita-cita melainkan angan semata, ya, harapan kosong.

Jujur aku mengalaminya. Selama 2 tahun bertahan dalam penantian tanpa kepastian. Ya, bisa dikatakan aku ini bodoh. Siapa atau apa yang kunanti pun tidak pernah merasa dinantikan. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Takdir Tuhan? Oh bukan, Takdir nggak pernah bisa disalahkan, ini sudah menjadi alur yang indah untuk dijalani.
Dan sekarang, aku mengalami perubahan. Bukannya aku lelah dan enggan menanti lagi, tapi apa aku salah jika aku mencoba pindah ke halte lain? Mungkin menunggu bus yang lebih mahal, atau yang lebih sederhana begitu.

Aku menemukan seseorang yang mampu membuatku membuka mata, terbangun dari mimpi kosong, dia Green. Ada teman yang mengatakan bahwa Green belum lebih baik dari sosok yang telah lama kunantikan, si “12”. Tapi entah kenapa, dari segala keterbatasan Green, aku menangkap panggilan untuk “pindah”. Iya, pindah. Apa kamu belum paham juga?

Hidup nggak semudah dongeng-dongeng Disney atau FTV siang, Kawan. Apalagi soal Cinta di masa remaja yang badai mendunia ini. Rumit memang, tapi indah untuk dijalani, dinikmati, dan dipelajari. Bahkan di zaman modern seperti ini, masih banyak para gadis yang bertingkah konvensional, tradisional, atau apalah itu namanya. Seperti, mencuri-curi pandang si dia, salting saat dia menatap matamu, atau bahagia minta ampun saat dia menyapamu. Iya, kan? Jangan gengsi untuk mengakui, aku juga begitu, kok.

Bagaimana dengan para pria? Ah, jangan tanyakan padaku, pria sulit ditebak, bahkan jika kamu memberiku 10 clue untuk menebaknya. Para pria berkata bahwa “Wanita itu sulit dimengerti”, heiii kau juga sulit ditebak, Bung. Kita impas kan sekarang?

Pada intinya, aku sebagai seorang gadis remaja yang rentan akan serangan cinta, menyadari bahwa cinta nggak perlu dinanti, tapi diusahakan atau paling tidak dipantaskan. Ibarat pohon yang berbuah, jangan hanya menunggu buah itu jatuh ke tanah, kita nggak akan pernah tau buah itu akan sampai ke tanah siapa atau ke tangan siapa. Tapi usahakanlah, dengan galah atau memanjat pohonnya, butuh perjuangan kan? Atau paling tidak, pantaskan diri kita dahulu untuk menerima buah tersebut, kalau kita jarang merawat pohon tersebut, apa pantas kita dapatkan buahnya?

Oke, Kawan.Terima kasih yaa sudah menyempatkan diri membaca coretan anak remaja galau macam aku ini. Tuhan pasti tau kok, cinta mana yang layak untuk kita, entah dari keluarga, sahabat, teman, atau bahkan si dia, pantaskan diri saja dulu. ;)

Bye~