Selasa, 26 April 2016

Memori Hitam



          Cermin itu diam saja, tak ada reaksi apapun sedari tadi. Padahal aku begitu kacau dan bingung. Lama sekali aku menatap cermin, berbagai dialog dalam pikiran menyeruak. Akalku berpikir untuk menghentikan semua ini, namun hatiku ciut begitu saja. Sial. Sampai kapan aku begini terus?
*******
“Selamat malam. Selamat datang di Galeri Hitam.” Seseorang dengan kemeja hitam dan dasi kupu-kupu menyambutku sembari membukakan pintu. Dia sungguh ramah, tapi tetap saja, aku begitu gugup.
“Hai, Kevin. Sini! Akhirnya kamu datang juga. Gimana menurutmu?” Wanita cantik yang selalu membuat wajahku memerah, menyambutku. Lian Amora, begitu orang mengenalnya.
“Oh, hai. A-aku suka lukisanmu, semuanya bagus. Tapi kenapa nuansanya hitam?” Aku berbohong. Sejak tadi belum ada satu pun lukisan yang ku lihat.
“Karena aku suka warna hitam. Hitam begitu misterius, tapi indah untuk diselami. Yuk, ikut aku.” Dia menggandeng tanganku. Menarikku ke tengah ruangan. Terlihat satu lukisan yang sangat besar. Dan tiba-tiba saja semuanya gelap.
*******
            Ketika ku buka mataku, tercium aroma yang sudah sangat familiar bagiku, rumah sakit. Di sampingku, ada Lian yang terkantuk-kantuk.
“Kevin, kamu sudah sadar?” Lian tersadar dari kantuknya dan berdiri, menatapku khawatir.
“Iya. Maaf ngerepotin…”
“Kenapa kamu nggak jujur tentang sakitmu? Kalau aku tau, aku membantumu. Aku minta maaf.”
“K-kamu tau dari mana? Aku tadi cuma sedikit pusing, kok. Tenang aja. Mukamu jelek kalau lagi khawatir.”
“Ini bukan waktunya bercanda, Kevin. Mulai sekarang kamu harus hati-hati, aku pasti bantu kamu buat ngelawan penyakit aneh ini. Oke?” Matanya berkaca-kaca. Kenapa dia begitu khawatir?
            Begitulah, akhirnya dia mengetahui penyakit memalukanku ini. Kevin Dinara, lelaki berusia 27 tahun yang memiliki penyakit Stendhal Syndrom, dimana penderitanya mengalami rasa takut berlebih pada objek seni seperti lukisan, sehingga bisa sakit kepala, jantung berdebar, bahkan halusinasi. Memalukan, bukan? Lelaki dewasa takut pada lukisan. Karena itu, selama ini aku menyembunyikannya, hanya keluargaku yang tahu. Dan kini, orang yang ku cintai mengetahuinya.
*******
            Hari ini aku diperbolehkan pulang. Aku berharap pulang dari sini Stendhal-ku bisa menghilang. Tapi itu tidak mungkin. Dia telah bercokol kuat di dalam akal dan hatiku. Memutus urat keberanianku atas benda mati menyebalkan itu. Dan gerimis turun, untung saja aku sudah sampai di rumah. Ketika memasuki kamarku, tiba-tiba saja jantungku berdebar, keringat dingin meluncur bebas dari keningku, aku menarik napas panjang, menenangkan diri. Begitu melemahkan hingga aku jatuh dan merayap menuju tempat tidurku sendiri. Harus ku lawan, harus ku lawan. Sampai di ranjang, ku tarik selimutku, menahan kelemahanku dan tertidur dalam ketakutan. Dan ketika terbangun, ada Lian di depanku.
“Maaf, Kevin. Kamu harus belajar menghilangkan Stendhal-mu itu. Aku sengaja mengirim lukisan besar yang kamu lihat kemarin ini. Lihat, mawar hitam dalam lukisan ini begitu indah, kan? Kenapa harus takut?” Dia memaksaku untuk menatap langsung lukisan itu. Kepalaku terasa sakit sekali.
“A-aku masih nggak bi-bisa, Yan. To-tolong jangan paksa aku…” Aku menghiba padanya.
“Jangan membantah! Terus saja lihat lukisanku ini, lihat!” Lian mencengkeramku kuat. Ada apa dengan Lian? Dia begitu memaksa hingga rasanya kepalaku mau pecah.
“Lian! A-apa yang kamu lakukan? Kamu nggak tau gimana sakitnya! Lepasin aku!” Aku memberontak. Mencoba melepas cengkeramannya. Namun semakin kuat aku berontak, semakin garang ia menggertak.
“Aku tau gimana sakitnya, aku tau! Sekarang kamu cuma harus nurut apa kataku, aku mohon, Kevin…” Lian melonggarkan cengkeramannya, dan air matanya mulai menetes.
“Kevin, aku nggak mau mengulang rasa sakit kedua kalinya. Jadi tolong, lawan rasa sakitmu itu. Sekarang pelan-pelan, lihat lukisanku itu. Lihat indahnya mawar hitam yang ku buat. Lihat tajamnya duri-duri pada tangkainya. Lihat, Kevin.”
“A-aku masih belum bisa, Lian.” Aku menggeleng, menahan sakit di kepalaku.
“Kalau begitu, lihat mawar ini, mawar hitam ini.” Ia mengeluarkan setangkai mawar hitam. Mawar itu begitu indah, hitam berkilau dengan duri-duri tajam di tiap sisi tangkainya, membuatnya gagah. Aku menikmati pesona mawar hitam ini, tidak seperti lukisannya yang menyakitkan itu.
“Tahun lalu, aku bertengkar hebat dengan ayahku. Entah kenapa dia selalu mengahalangi mimpiku untuk menjadi pelukis hebat. Dia begitu jijik dengan lukisan-lukisan yang ku buat, hingga membakar habis semuanya. Aku sangat marah waktu itu. Hingga ayah terkena serangan jantung dan dirawat di rumah sakit, aku nggak peduli. Aku tetap melanjutkan persiapan untuk grand opening galeri pertamaku…” Lian berhenti sejenak, mengambil napas dan mengusap air matanya yang tak henti mengalir.
“Dan saat galeriku dibuka, aku mendapat telepon dari ibu. Aku berlari ke rumah sakit, berharap ayah masih bernapas hingga aku sampai disana. Dan ketika sampai, ayah mengelus rambutku, meminta maaf padaku. Sejak saat itu aku tau, ayah punya penyakit yang sama sepertimu. Entah kenapa tiba-tiba dia memintaku untuk melukiskan mawar hitam untuknya. Meski heran, aku tetap melakukannya. Sampai pada olesan cat terakhirku, ayah menghembuskan napas terakhirnya. Aku begitu benci pada diriku. Karena itu, aku nggak akan membiarkanmu kalah dengan Stendhal-mu itu, Kevin.” Dia menatap mataku, dalam.
“Jadi ini lukisan untuk ayahmu? Tapi, kenapa kamu begitu peduli denganku? Aku bukan siap—“
“Karna aku mencintaimu! Apa kamu bodoh? Aku nggak mau kehilangan orang yang kucinta lagi, Kevin…” Lian memotong ucapanku, menggantinya dengan ungkapan cinta yang tegas.
“Lian…” Aku masih belum mempercayai kata-katanya barusan.
“Sekarang kita coba lagi ya, Kevin? Kamu lihat pelan-pelan lukisan ini.”
            Entah kekuatan dari mana, aku memberanikan diri untuk melihat lukisan itu. Perlahan tapi pasti. Aku berhasil! Apa ini kekuatan cinta? Aku melihat betapa indah dan gagahnya lukisan mawar hitam ini, bahkan lebih indah dari bunga aslinya. Lukisan itu makin membesar hingga membawaku melayang, menyusuri awan. Banyak suara di sekelilingku, namun tak ada seseorang disini. Banyak suara mesin bip-bip-bip, bahkan suara tangisan. Aku tak peduli, mawar ini begitu mempesona, sayang untuk dilewatkan.
            Sampai ketika aku melihat Lian yang bersimpuh sendiri di tengah hujan, memukuli tanah yang tak bersalah. Menancapkan banyak mawar hitam dan membiarkan jari-jarinya tergores duri-duri mawar. Dia berteriak di tengah guntur, menunjukkan wajahnya yang begitu pilu, hatinya seolah tercabik kenangan pahit. Bukan aku yang menginginkan ini semua, Lian. Maafkan aku.
“Kenapa kamu menyerah, Kevin? Kenapa kamu menyusul ayah? Kenapa? Kenapa pembuluh darah di otakmu itu menyerah, Kevin? Kenapa ia pecah? Apa aku harus memutus nadiku juga? Hah?!” Lian memukuli batu nisan itu, tak peduli hingga darah dimana-mana.
Maafkan aku, Lian…

Minggu, 16 Agustus 2015

Aku dan Gitar Kecilku



Setiap hari aku berkelana
Naik dari satu bis ke bis yang lain
Menyanyikan lagu dengan suara seadanya, dengan gitar kecilku
Umurku masih sepuluh tahun, masih perlu pergi ke sekolah
Tapi apa daya, Tuhan memberiku ujian yang cukup membuatku tangguh
Aku harus mengamen demi recehan penyambung hidup
Bapak? Bapak sudah lama dipanggil olehNya untuk pulang
Hanya gitar tua kecil ini yang ia berikan untuk kelangsungan hidupku
Ibu? Sosok yang selalu aku rindukan, aku impikan
Entah dimana ibu berada, Bapak tidak pernah memberitahuku
Yang bapak bilang hanyalah “Ibumu pergi ke tempat lain, yang lebih nyaman baginya.”
Aku hidup bersama kedua adikku, mereka masih kecil dan begitu polos
Mereka makan seadanya, semampu aku memberinya

Kadang aku berteriak pada Tuhan
“Kenapa hidup begitu tidak adil?”
“Kenapa tak Kau sertakan kami untuk ikut bapak pergi ke rumahMu?”
“Kami lelah, Ya Tuhan!!”
Selanjutnya aku menangis
Dan entah bagaimana, tiap tetes tangisan malah menguatkanku kembali

Dengan kaos kumal aku mengusap peluhku
Menadahkan kaleng bekas untuk diisi logam-logam uang
Kadang mereka melihatku iba, kadang mereka tak peduli
Terlebih lagi, para preman yang tega mengambil beberapa keeping uangku
Aku harus makan apa?
Aku harus bagaimana?
Mencuri? Tidak, bapak mengajarkanku untuk hidup jujur, sepahit apapun hidup
Aku tak mau bertindak bodoh
Aku tak bersekolah, bukan berarti aku bodoh
Aku masih bisa menjalani hidup dengan cara yang benar
Aku tak mau seperti anak-anak sekolah yang berjejer di pinggir jalan
Bukannya sekolah, mereka malah membolos, berpacaran, merokok, dan melakukan hal-hal bodoh lainnya

Apa mereka tak pernah belajar bagaimana bersyukur?
Bersyukur dapat hidup layak dan bersekolah dengan patut
Apa mereka lupa cara berterima kasih?
Berterima kasih pada Tuhan yang memberikan kemudahan dalam hidup
Aku tahu, mungkin mereka belum pernah berkenalan dengan orang sepertiku
Mungkin mereka belum pernah merasakan pahitnya hidup, sulitnya mencari uang
Mungkin mereka belum pernah merasakan
Betapa inginnya orang sepertiku untuk bersekolah

Kamis, 13 Agustus 2015

Catatan Harian: Piatu yang Merindukan Ibu






Ibu, sebentar lagi hari Kemerdekaan, masih ingatkah engkau pada perayaan 7 tahun lalu?
Engkau sengaja menjual gorengan di pinggir lapangan
Sembari melihatku yang sedang berlomba membawa kelereng diatas sendok
Engkau menyemangatiku, meyakinkanku bahwa aku bisa mencapai garis akhir
Namun sampai pada setengah perjalanan, aku terjatuh
Aku malu dan mulai menangis melihat lawan-lawanku masih melanjutkan perlombaan
Tak ada yang peduli padaku, bahkan panitia pun acuh
Namun tiba-tiba ada tangan lembut menyentuh pipiku, mengusap air mataku
Tangan ibu menenangkanku, walau keriput dan penuh minyak gorengan
“Tak apa, nak. Kamu sudah berusaha, ayo bangun lagi. Selesaikan sampai akhir, perlahan dan hati-hati.”

Aku merindukan hangat kasihmu, Ibu
Aku iri pada setiap anak yang masih bisa bertemu dengan ibunya
Aku iri pada setiap anak yang bisa bercanda dengan ibunya
Aku iri pada setiap anak yang bisa memeluk ibunya
Aku ingin bertemu denganmu, Ibu

Dalam tiap langkah hidupku, aku selalu benci pada mereka
Mereka yang tak pernah mendengarkan ibunya
Mereka yang menunda perintah dari ibunya hanya karena tak ingin ketinggalan berita di sosial media
Mereka yang membentak ibunya, membanting pintu karena ibunya tak menuruti apa kehendaknya
Mereka yang masa bodoh dengan kesehatan ibunya
Mereka yang menganggap sepele ketika ibunya demam
Mereka yang tak pernah ada waktu luang untuk bercengkrama dengan ibunya
Aku benci mereka, Bu..

Apa mereka tahu, rasanya kehilangan separuh jiwanya?
Apa mereka tahu, tak ada yang mampu menggantikan hangatnya pelukan dari seorang ibu?
Apa mereka tahu, betapa sakitnya merindu pada ibu yang telah tiada?
Tidak, bu, aku pikir mereka tak tahu apapun
Mereka belum merasakan apapun
Sebelum kehilangan, sebelum ditinggalkan,
Mereka tak akan pernah tahu
Betapa pilu merindu pada ibu...


Rabu, 22 Juli 2015

For G



            Memasak memang terlihat baik untuk perempuan, tapi tidak untukku. Yah, entah kenapa, memasak nasi pun aku tak bisa. Rok? Benda terkutuk yang menyulitkanku ketika berjalan, tak pernah ada di lemariku. Kata ibuku, dari kecil aku lebih suka bermain kelereng bersama teman laki-laki dari pada masak-masakan di rumah. Aku lebih senang memakai celana jeans untuk pergi ke pesta ulang tahun dari pada harus memakai dress. Sebenarnya aku ini apa? Lelaki atau perempuan? Huh. Pertanyaan yang menjengkelkan dari mulut teman-temanku.

*******

“Ta, lo besok bisa ikut nggak?” Mela tiba-tiba saja muncul membuyarkan lamunanku.

“Ih ngagetin mulu lo kerjaannya. Ikut kemana?” Aku membalikkan badan untuk menghadap lurus ke arah Mela.

“Lo pasti nggak buka SMS gue, ya kan? Duh, Genta sayang.. Besok gue bikin pajama’s party, lo ikut, ya? Gue tunggu jam 8 malem.”

“Yah, gue nggak bisa, Mel. Besok gue ada janji sama abang gue.”

“Yaelah, janjian mulu lo kayak orang pacaran, janji apaan, sih? Segitu pentingnya ya sampe nggak bisa ikutan acara sahabatnya?” Wajah Mela berubah dari antusias menjadi cemberut.

“Biasa, Mel. Gue janjian nonton bola bareng besok, gue taruhan sama abang gue. Yang kalah harus mecahin semangka yang dibeli mbok Minem, pake kepala. Hahaha.” Aku tertawa sendiri di hadapan Mela yang cemberut dari tadi. Sudah dapat kubayangkan betapa sakitnya kepala abangku ketika memecahkan semangka-semangka itu.

“Duh, Gentaaa! Lo kapan sih mau jadi cewek? Maenan lo sama abang lo tuh ‘enggak banget’. Iwh..”

“Eh, non. Kan lo tau sendiri kalo gue nggak suka sama acara-acara gaya lo. Apalagi pajama’s party, itu ngegossip sampe malem, ngomongin cowok-cowok, ngobrolin barang-barang yang lagi diskon, gitu kan? Ih males banget gue, repot!” Kali ini aku yang cerewet menanggapi sahabatku ini.

“Itu wajar, Ta. Cewek emang begitu, elonya aja yang nggak normal. Ayolah ikut gue aja, gue ajarin cara jadi cewek tulen kayak gue, pelan-pelan, kok.” Mela memegang tanganku, sepertinya rasa kasihannya terhadap karakterku muncul lagi.

“Ih, lo ngapain sih megang-megang tangan segala? Geli tau. Gini ya, kita emang sahabat, Mel. Tapi bukan berarti kita harus sama, kan? Lo itu cewek tulen yang fashionable banget, cantik, banyak cowok yang ngelirik lo. Pertahanin aja gaya lo sendiri. Gue juga pertahanin gaya gue sendiri. Okay, sista? Gue cabut dulu, laper..” Aku mengambil ranselku dan keluar untuk mencari makan siang. Mela hanya berdiri, diam. Mungkin dia mulai menyerah untuk membujukku.

*******

            Malam ini pertandingan bola akan dimulai. Ada dua botol minuman ringan, dua bungkus popcorn, sepiring pizza, dan tentu saja, dua buah semangka besar. Aku tidak sabar merekam video abangku ketika dia memecahkan semangka-semangka itu.

“Yak! Maju terus! Oper kiri! Yak! Goooaaaal!! Wuhuuuu!” Aku berlari-lari mengelilingi abangku yang ketar-ketir dengan kepalanya.

“Duh berisik banget sih lo! Duduk. Baru juga 2-1, masih ada 20 menit lagi woy.” Abangku menenangkan dirinya sendiri rupanya, padahal dia tahu, bagaimana nasib kepalanya 20 menit ke depan.

            Pertandingan telah selesai. Kami menyiapkan dua semangka itu, menempatkan serbet besar agar tidak mengotori ruangan, dan juga menyiapkan sekantung es batu untuk menyegarkan sang kepala yang malang.

“Ayo! Pecahin tuh semangka pertama! Semangat ya, Sayang… Hehehe.”

“Ish, rame lo. Lihat ya, gue bisa mecahin dalam sekali pukul.” Aku memperhatikan semangka itu. Ya, Kawan. Abangku yang menang. Tuhan, kuatkanlah kepalaku, sekuat omelan ibu pada tiap harinya.

Brak! Pukulan pertama, belum berhasil.

Dug! Pukulan kedua, masih gagal. Kali ini harus berhasil, kepalaku mulai berkedut.

Prak! Krek! Berhasil! Walau hanya retakan kecil, setidaknya itu sudah bisa dikatakan pecah. Yess!

“Boleh, lah. Lumayan juga kepala lo, haha. Sekarang yang kedua, fighting!” Abangku makin menyebalkan saja, dia malah enak-enakan memakan sepiring pizza, sambil menonton aksi debusku tentunya.

            Untuk buah yang kedua ini, aku harus berhasil memecahkannya dalam sekali pukul, penglihatanku sudah mulai tidak fokus.

Brakk! Gelap. Semua gelap.
 
*******

“Genta! Lo gila, ya? Lihat, kan, mending kemarin lo ikut gue, kepala lo nggak bakal diperban kayak gini pastinya. Bandel sih lo!” Ya ya ya, si cerewet Mela mulai menyemprotku, aku hanya mengangguk-angguk saja.

“Bawel lo! Gue nggak apa-apa, Mel. Lihat, gue masih bisa jalan ke kampus gini, kan? Udah, ah. Gue mau cabut dulu.”

“Eh, mau kemana lo? Pulang? Sini gue anterin.”

“Duilee, sok perhatian banget lo. Nggak, gue mau ke lapangan basket. Mau maen sama anak kampus sebelah. Bye!”

Sementara aku berjalan dan melepas perban di kepalaku, aku masih mendengar teriakan Mela. Dia masih saja meneriakiku “gila, bocah gila”.

*******
 
            Matahari mulai tenggelam, aku masih di tribun bersama lelaki ini. Lelaki yang melemparkan bola basket padaku, menghajar kepalaku. Aku ingin pulang, tapi, kenapa dia diam saja sedari tadi? Tidak mengeluarkan kata ‘pulang’, ’cabut’, atau apalah itu sejenisnya.

“Gue minta maaf, ya. Tadi nggak sengaja.”

“Lo tau nggak? Udah seribu kali lo minta maaf dari tadi, udah sejam! Lebay banget sih lo. Gue maafin, kok.”
“Tapi, muka lo kayak kesel banget, pasti belom maafin gue.”

“Lo tuh nyebelin ya, muka gue emang gini dari sananya, jangan ngejek deh. Udah, ah. Gue mau pulang. Lama nungguin lo pamit duluan.”

“Oh, jadi dari tadi lo pengen pulang? Bilang dong. Ayo, gue anterin.”

            Kami pulang menaiki motor miliknya. Namanya Nanda, lebih mirip nama perempuan, ya? Dia dari kampus sebelah, fakultas kedokteran. Setelah 20 menit menuju rumahku, kami sampai juga.

“Makasih. Lain kali hati-hati kalo ngelempar bola. Pulang sana.”

“Yaelah, nggak ditawarin mampir dulu, non? Galak amat.”

“Yee, masih mending lo udah gue maafin. Mau ini? Hah?” Aku mengepalkan tinjuku, bersiap untuk memukulnya.

“Ampun, ampun. Iya gue pulang. Dah..”

*******

            Malam ini aku tidak bisa tidur, kepalaku masih berkedut. Tapi menurutku, bukan hanya itu penyebabnya. Aku memikirkan Nanda, lelaki sialan itu. Oh my God, kenapa aku harus memikirkan laki-laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu? Dan sialnya lagi, dia mengirimiku sebuah pesan singkat, “Good night, Genta. Cepet sembuh, ya..”. Padahal hanya pesan biasa, padahal sudah banyak lelaki yang kukenal dan cukup dekat denganku, tetapi kenapa semendebarkan ini jika memikirkan Nanda?

Ponselku berdering, Mela menelponku.

“Genta! Lo udah pulang?”

“Udah, kenapa sih nelpon jam segini? Mau tidur gue!”

“Gue khawatir sama lo, bego. Besok temuin gue di kantin, ada yang mau gue omongin. Oke?”

“Iya-iya, sok penting banget lo. Gue tidur dulu, bye!”

Telpon terputus. Mataku masih terang benderang. Nanda sialan!

*******

“Genta! Cepetan! Lama banget, sih..”

“Bentar napa!” Aku berlari menghampiri Mela yang sepertinya sudah menunggu lama di bangku kantin.

“Nih ya, to the point aja. Ada yang suka sama lo, Ta! Suka! Ya ampun gue seneng banget akhirnya ada juga cowok yang suke sama cewek kayak lo. Nih lihat..” Mela menyodorkan ponselnya.

“Apaan, sih? Lo salah makan, Mel? Ini apaan kok gue disuruh ngeliatin instagram lo?”

“Ih, lemot pikiran lo. Itu lihat, ada foto lo di akun cowok, lihat deh captionnya.”

            Aku melihat foto yang ditunjukkan Mela. Terlihat seseorang memakai kaos merah, skinny jeans, sneaker hitam, dan berambut sebahu. Tapi terlihat dari belakang, tidak tampak wajahnya, dia berada diantara banyak orang. Captionnya bertuliskan “Wanita berparas indah, aku mengikutimu dari belakang, aku melindungimu dari sini, memuja karakter dari dirimu. Love, forG.”. Caption yang aneh, pikirku.


“Ih, bukan gue ini mah. Lo baper banget, Mel. Gue kira ada hal yang penting gitu. Gue cabut ah.” Aku beranjak dari kursiku.

“Genta! Lo lihat baik-baik, ini baju yang lo pake kemaren sore, kan? Gue masih inget. Lihat tuh, inisialnya G. Jangan-jangan, lo emang kencan sama cowok ya kemaren? Ngaku lo! Anak mana? Akhirnyaa lo jadi cewek tulen, Ta. Gue mau syukuran abis ini.” Mela menggodaku, mencolek lenganku. Aku melihat foto itu sekali lagi. Sial, itu memang aku. Tapi, apa lelaki yang memposting foto ini benar-benar ingin menunjukkan sosokku? Kulihat nama akun lelaki ini, Fernandariga. Astaga, apa ini Nanda?

“Apaan, sih! Lebay banget lo. Lo kan tau sendiri gue nggak pernah pacaran. Lagian jangan baper dulu, jangan kegeeran dulu. Logika lah, inisial G banyak, bukan gue doang. Udah, gue cabut, nggak penting banget.” Aku bangkit dari kursiku dan meninggalkan Mela yang masih memperhatikan foto di akun instagram lelaki itu. Sementara itu, hatiku makin berdebar saja. Jangan baper, Ta. Jangan ge’er.

*******

            Aku menunggu bis di halte depan kampus. Sore ini bis seperti punah, tak ada satu pun yang lewat sedari tadi. Tiba-tiba ada lelaki yang menghentikan motornya di depanku, dia Nanda.

“Sendirian aja, cewek? Yuk, pulang bareng abang. Hehehe.” Dia mengerlingkan matanya, candaannya tidak lucu bagiku, tapi di dalam dada ini, tiba-tiba saja berdebar.

“Sok manis lo. Gue bisa pulang sendiri.”

“Genta, lo masih ngarep ada bis yang lewat jam segini? Mereka hari ini libur, pada demo di Senayan. Sini naik, mumpung gue belom berubah pikiran.” Nanda mengelus-elus jok belakangnya, seakan jok itu akan diduduki oleh ratu. Berlebihan.

“Yaudahlah. Langsung pulang ke rumah gue, cepet!” Akhirnya, kunaiki motornya. Mau bagaimana lagi.

            Jalan ke rumahku harusnya berbelok ke kanan, kenapa dia masih lurus? Apa dia lupa jalan menuju rumahku? Dia berhenti di depan restoran fast food, menyuruhku turun dan menggandeng tanganku, mengajakku masuk ke dalam restoran itu.

“Mbak, pesen curry beef burger dua, lasagna besar satu, sama ice mocca dua, ya.” Nanda memesan makanan untuk kami. Aku masih kebingungan, bercampur kesal tentunya.

“Nanda, apa-apaan, sih? Gue kan mau pulang, bukan mau makan! Seenaknya aja bawa gue kesini.” Aku memasang wajah jutek. Ini menjengkelkan, tapi di hati kecilku, ada ledakan kecil disana. Ya, aku sungguh senang.

“Anggap aja ini ‘dinner permintaan maaf’ dari gue. Ayolah, lo jangan jutek-jutek banget ke gue. Siapa tau besok-besok bukan ‘dinner permintaan maaf’ lagi, hehe.”

            Aku hanya diam. Lelaki ini telah menculikku ke restoran fast food, juga mencuri hatiku ke hatinya. Tadi dia menggandeng tanganku, kenapa? Dan juga, apa maksud dari kalimat “Siapa tau besok-besok bukan ‘dinner permintaan maaf’ lagi”? Oh, jangan-jangan…

*******

“Genta Galista, lo ini kenapa? Jatuh cinta? Bertemu pangeran berkuda? Kenapa lo baper dan ge’er banget? Jangan yakin banget Cuma gara-gara kata ‘forG’..”

“Ta, kurang tanda apa lagi coba? Itu udah jelas banget kalo Nanda suka sama lo. Itu bukan baper yang sia-sia kok, baper lo itu bener..”

“Genta, logika deh, nama berinisial G itu banyak, nggak Cuma lo doang. Lo kenapa sih baper banget? Biasanya juga nyantai gitu dirangkul sama cowok-cowok temen lo itu..”

“Ta, logika deh, mana ada sih cowok yang ngirimin ucapan ‘good night’, ngasih kode ‘forG’ yang jelas-jelas itu buat lo, mau ditebengin pulang pas nggak ada bis, dan ngajak dinner bareng, kalo tuh cowok nggak suka sama lo? Mana ada?”

“Genta! Ayo turun! Makan malem udah ada nih!” Ibu menyadarkanku dari pergolakan batinku. Aku bingung, harus percaya pada ucapan batin yang mana. Tapi, kurasa 80 persen aku berada di kubu sang batin ‘nanda-emang-suka-sama-lo’. Oke, namanya sangat dipaksakan. Kurasa 80 persen aku meyakini kalau Nanda menyukaiku.

*******

“Ta, maen basket yuk, gue tunggu di lapangan. Cepetan!” Pesan singkat dari Nanda. Tunggu apa lagi? Aku segera berangkat.

            Aku pergi menuju lapangan dengan setengah berlari. Setelah sampai, kuletakkan tasku di samping tas Nanda. Tunggu, resleting tas Nanda terbuka, dan di dalamnya terlihat beberapa kuntum bunga mawar. Oh, kenapa aku begitu gugup?

“Ta! Sini cepetan! Temen-temen udah nunggu.” Nanda memanggilku dan tersenyum sangat manis kepadaku.

“Oke!” Langsung saja kami mulai permainannya.

            Setelah lelah bermain basket, aku dan Nanda membersihkan diri dan menuju restoran untuk dinner. Kali ini dia mengajakku ke sebuah resto yang cukup romantis. Oh, apa ini pertanda?

“Sorry ya, Ta. Restonya bukan ‘lo banget’ ya? Gue suka kesini karena ini resto favorit mama gue.”

“Nggak apa-apa kok, gue mah nyantai aja, resto apa aja asal ada yang bisa dimakan. Hehehe.”

“Hahaha bisa aja lo, Ta. Oh iya, ada yang mau gue tanyain.”

“Tanya aja kali, serius amat lo.” Aku mulai harap-harap cemas. Jangan sampai wajahku memerah.

“Tapi gue agak malu, Ta.” Nanda terlihat agak ragu. Come on, boy.

“Hmm, lo punya insta, kan? Lo udah lihat foto yang gue posting terakhir belom?”

“Udah, yang foto cewek diantara banyak orang itu, kan?”

“Iya, yang aku kasih caption ‘forG’. Syukur deh kalo lo udah tau, gue nggak perlu ngejelasin panjang-panjang lagi.”

“Apaan sih maksudnya?” Yak, Genta mulai ketar-ketir, Bung.

“Itu inisial cewek dalam foto itu, gue udah lama banget naksir sama cewek itu, Ta. Menurut lo gimana?” Jedug. Ada yang memberontak keluar dari dadaku, jantungku berdetak secara berlebihan. Aku hanya terdiam. Speechless.

“Ta? Kok diem? Cewek itu cantik, kan?” Nanda masih bermain tebak-tebakan, tapi sangat buruk, sudah dapat ditebak, Kawan.

“Cantik gimana? Nggak keliatan mukanya gitu..” Aku masih pura-pura tidak tahu.

“Loh, kok nggak keliatan? Ini loh, yang ini.. rambutnya panjang, pakai cardigan ungu ini.. Ini temen lo, kan? Kenalin ke gue doong, please..” Nanda menunjuk satu wajah dalam foto itu.

Foto wanita diantara banyak orang.

Wanita yang mengahadap ke kamera, di sampingku.

Wanita berambut panjang, memakai cardigan ungu.

Wanita itu Mela, sahabatku.

For G, Gamelia Gisela.

-End-