Kamis, 13 Agustus 2015

Catatan Harian: Piatu yang Merindukan Ibu






Ibu, sebentar lagi hari Kemerdekaan, masih ingatkah engkau pada perayaan 7 tahun lalu?
Engkau sengaja menjual gorengan di pinggir lapangan
Sembari melihatku yang sedang berlomba membawa kelereng diatas sendok
Engkau menyemangatiku, meyakinkanku bahwa aku bisa mencapai garis akhir
Namun sampai pada setengah perjalanan, aku terjatuh
Aku malu dan mulai menangis melihat lawan-lawanku masih melanjutkan perlombaan
Tak ada yang peduli padaku, bahkan panitia pun acuh
Namun tiba-tiba ada tangan lembut menyentuh pipiku, mengusap air mataku
Tangan ibu menenangkanku, walau keriput dan penuh minyak gorengan
“Tak apa, nak. Kamu sudah berusaha, ayo bangun lagi. Selesaikan sampai akhir, perlahan dan hati-hati.”

Aku merindukan hangat kasihmu, Ibu
Aku iri pada setiap anak yang masih bisa bertemu dengan ibunya
Aku iri pada setiap anak yang bisa bercanda dengan ibunya
Aku iri pada setiap anak yang bisa memeluk ibunya
Aku ingin bertemu denganmu, Ibu

Dalam tiap langkah hidupku, aku selalu benci pada mereka
Mereka yang tak pernah mendengarkan ibunya
Mereka yang menunda perintah dari ibunya hanya karena tak ingin ketinggalan berita di sosial media
Mereka yang membentak ibunya, membanting pintu karena ibunya tak menuruti apa kehendaknya
Mereka yang masa bodoh dengan kesehatan ibunya
Mereka yang menganggap sepele ketika ibunya demam
Mereka yang tak pernah ada waktu luang untuk bercengkrama dengan ibunya
Aku benci mereka, Bu..

Apa mereka tahu, rasanya kehilangan separuh jiwanya?
Apa mereka tahu, tak ada yang mampu menggantikan hangatnya pelukan dari seorang ibu?
Apa mereka tahu, betapa sakitnya merindu pada ibu yang telah tiada?
Tidak, bu, aku pikir mereka tak tahu apapun
Mereka belum merasakan apapun
Sebelum kehilangan, sebelum ditinggalkan,
Mereka tak akan pernah tahu
Betapa pilu merindu pada ibu...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar