Ibu, sebentar lagi hari Kemerdekaan, masih ingatkah engkau
pada perayaan 7 tahun lalu?
Engkau sengaja menjual gorengan di pinggir lapangan
Sembari melihatku yang sedang berlomba membawa kelereng
diatas sendok
Engkau menyemangatiku, meyakinkanku bahwa aku bisa mencapai
garis akhir
Namun sampai pada setengah perjalanan, aku terjatuh
Aku malu dan mulai menangis melihat lawan-lawanku masih
melanjutkan perlombaan
Tak ada yang peduli padaku, bahkan panitia pun acuh
Namun tiba-tiba ada tangan lembut menyentuh pipiku, mengusap
air mataku
Tangan ibu menenangkanku, walau keriput dan penuh minyak
gorengan
“Tak apa, nak. Kamu sudah berusaha, ayo bangun lagi.
Selesaikan sampai akhir, perlahan dan hati-hati.”
Aku merindukan hangat kasihmu, Ibu
Aku iri pada setiap anak yang masih bisa bertemu dengan
ibunya
Aku iri pada setiap anak yang bisa bercanda dengan ibunya
Aku iri pada setiap anak yang bisa memeluk ibunya
Aku ingin bertemu denganmu, Ibu
Dalam tiap langkah hidupku, aku selalu benci pada mereka
Mereka yang tak pernah mendengarkan ibunya
Mereka yang menunda perintah dari ibunya hanya karena tak
ingin ketinggalan berita di sosial media
Mereka yang membentak ibunya, membanting pintu karena ibunya
tak menuruti apa kehendaknya
Mereka yang masa bodoh dengan kesehatan ibunya
Mereka yang menganggap sepele ketika ibunya demam
Mereka yang tak pernah ada waktu luang untuk bercengkrama
dengan ibunya
Aku benci mereka, Bu..
Apa mereka tahu, rasanya kehilangan separuh jiwanya?
Apa mereka tahu, tak ada yang mampu menggantikan hangatnya
pelukan dari seorang ibu?
Apa mereka tahu, betapa sakitnya merindu pada ibu yang telah
tiada?
Tidak, bu, aku pikir mereka tak tahu apapun
Mereka belum merasakan apapun
Sebelum kehilangan, sebelum ditinggalkan,
Mereka tak akan pernah tahu
Betapa pilu merindu pada ibu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar