Minggu, 16 Agustus 2015

Aku dan Gitar Kecilku



Setiap hari aku berkelana
Naik dari satu bis ke bis yang lain
Menyanyikan lagu dengan suara seadanya, dengan gitar kecilku
Umurku masih sepuluh tahun, masih perlu pergi ke sekolah
Tapi apa daya, Tuhan memberiku ujian yang cukup membuatku tangguh
Aku harus mengamen demi recehan penyambung hidup
Bapak? Bapak sudah lama dipanggil olehNya untuk pulang
Hanya gitar tua kecil ini yang ia berikan untuk kelangsungan hidupku
Ibu? Sosok yang selalu aku rindukan, aku impikan
Entah dimana ibu berada, Bapak tidak pernah memberitahuku
Yang bapak bilang hanyalah “Ibumu pergi ke tempat lain, yang lebih nyaman baginya.”
Aku hidup bersama kedua adikku, mereka masih kecil dan begitu polos
Mereka makan seadanya, semampu aku memberinya

Kadang aku berteriak pada Tuhan
“Kenapa hidup begitu tidak adil?”
“Kenapa tak Kau sertakan kami untuk ikut bapak pergi ke rumahMu?”
“Kami lelah, Ya Tuhan!!”
Selanjutnya aku menangis
Dan entah bagaimana, tiap tetes tangisan malah menguatkanku kembali

Dengan kaos kumal aku mengusap peluhku
Menadahkan kaleng bekas untuk diisi logam-logam uang
Kadang mereka melihatku iba, kadang mereka tak peduli
Terlebih lagi, para preman yang tega mengambil beberapa keeping uangku
Aku harus makan apa?
Aku harus bagaimana?
Mencuri? Tidak, bapak mengajarkanku untuk hidup jujur, sepahit apapun hidup
Aku tak mau bertindak bodoh
Aku tak bersekolah, bukan berarti aku bodoh
Aku masih bisa menjalani hidup dengan cara yang benar
Aku tak mau seperti anak-anak sekolah yang berjejer di pinggir jalan
Bukannya sekolah, mereka malah membolos, berpacaran, merokok, dan melakukan hal-hal bodoh lainnya

Apa mereka tak pernah belajar bagaimana bersyukur?
Bersyukur dapat hidup layak dan bersekolah dengan patut
Apa mereka lupa cara berterima kasih?
Berterima kasih pada Tuhan yang memberikan kemudahan dalam hidup
Aku tahu, mungkin mereka belum pernah berkenalan dengan orang sepertiku
Mungkin mereka belum pernah merasakan pahitnya hidup, sulitnya mencari uang
Mungkin mereka belum pernah merasakan
Betapa inginnya orang sepertiku untuk bersekolah

Kamis, 13 Agustus 2015

Catatan Harian: Piatu yang Merindukan Ibu






Ibu, sebentar lagi hari Kemerdekaan, masih ingatkah engkau pada perayaan 7 tahun lalu?
Engkau sengaja menjual gorengan di pinggir lapangan
Sembari melihatku yang sedang berlomba membawa kelereng diatas sendok
Engkau menyemangatiku, meyakinkanku bahwa aku bisa mencapai garis akhir
Namun sampai pada setengah perjalanan, aku terjatuh
Aku malu dan mulai menangis melihat lawan-lawanku masih melanjutkan perlombaan
Tak ada yang peduli padaku, bahkan panitia pun acuh
Namun tiba-tiba ada tangan lembut menyentuh pipiku, mengusap air mataku
Tangan ibu menenangkanku, walau keriput dan penuh minyak gorengan
“Tak apa, nak. Kamu sudah berusaha, ayo bangun lagi. Selesaikan sampai akhir, perlahan dan hati-hati.”

Aku merindukan hangat kasihmu, Ibu
Aku iri pada setiap anak yang masih bisa bertemu dengan ibunya
Aku iri pada setiap anak yang bisa bercanda dengan ibunya
Aku iri pada setiap anak yang bisa memeluk ibunya
Aku ingin bertemu denganmu, Ibu

Dalam tiap langkah hidupku, aku selalu benci pada mereka
Mereka yang tak pernah mendengarkan ibunya
Mereka yang menunda perintah dari ibunya hanya karena tak ingin ketinggalan berita di sosial media
Mereka yang membentak ibunya, membanting pintu karena ibunya tak menuruti apa kehendaknya
Mereka yang masa bodoh dengan kesehatan ibunya
Mereka yang menganggap sepele ketika ibunya demam
Mereka yang tak pernah ada waktu luang untuk bercengkrama dengan ibunya
Aku benci mereka, Bu..

Apa mereka tahu, rasanya kehilangan separuh jiwanya?
Apa mereka tahu, tak ada yang mampu menggantikan hangatnya pelukan dari seorang ibu?
Apa mereka tahu, betapa sakitnya merindu pada ibu yang telah tiada?
Tidak, bu, aku pikir mereka tak tahu apapun
Mereka belum merasakan apapun
Sebelum kehilangan, sebelum ditinggalkan,
Mereka tak akan pernah tahu
Betapa pilu merindu pada ibu...