Rabu, 22 Juli 2015

For G



            Memasak memang terlihat baik untuk perempuan, tapi tidak untukku. Yah, entah kenapa, memasak nasi pun aku tak bisa. Rok? Benda terkutuk yang menyulitkanku ketika berjalan, tak pernah ada di lemariku. Kata ibuku, dari kecil aku lebih suka bermain kelereng bersama teman laki-laki dari pada masak-masakan di rumah. Aku lebih senang memakai celana jeans untuk pergi ke pesta ulang tahun dari pada harus memakai dress. Sebenarnya aku ini apa? Lelaki atau perempuan? Huh. Pertanyaan yang menjengkelkan dari mulut teman-temanku.

*******

“Ta, lo besok bisa ikut nggak?” Mela tiba-tiba saja muncul membuyarkan lamunanku.

“Ih ngagetin mulu lo kerjaannya. Ikut kemana?” Aku membalikkan badan untuk menghadap lurus ke arah Mela.

“Lo pasti nggak buka SMS gue, ya kan? Duh, Genta sayang.. Besok gue bikin pajama’s party, lo ikut, ya? Gue tunggu jam 8 malem.”

“Yah, gue nggak bisa, Mel. Besok gue ada janji sama abang gue.”

“Yaelah, janjian mulu lo kayak orang pacaran, janji apaan, sih? Segitu pentingnya ya sampe nggak bisa ikutan acara sahabatnya?” Wajah Mela berubah dari antusias menjadi cemberut.

“Biasa, Mel. Gue janjian nonton bola bareng besok, gue taruhan sama abang gue. Yang kalah harus mecahin semangka yang dibeli mbok Minem, pake kepala. Hahaha.” Aku tertawa sendiri di hadapan Mela yang cemberut dari tadi. Sudah dapat kubayangkan betapa sakitnya kepala abangku ketika memecahkan semangka-semangka itu.

“Duh, Gentaaa! Lo kapan sih mau jadi cewek? Maenan lo sama abang lo tuh ‘enggak banget’. Iwh..”

“Eh, non. Kan lo tau sendiri kalo gue nggak suka sama acara-acara gaya lo. Apalagi pajama’s party, itu ngegossip sampe malem, ngomongin cowok-cowok, ngobrolin barang-barang yang lagi diskon, gitu kan? Ih males banget gue, repot!” Kali ini aku yang cerewet menanggapi sahabatku ini.

“Itu wajar, Ta. Cewek emang begitu, elonya aja yang nggak normal. Ayolah ikut gue aja, gue ajarin cara jadi cewek tulen kayak gue, pelan-pelan, kok.” Mela memegang tanganku, sepertinya rasa kasihannya terhadap karakterku muncul lagi.

“Ih, lo ngapain sih megang-megang tangan segala? Geli tau. Gini ya, kita emang sahabat, Mel. Tapi bukan berarti kita harus sama, kan? Lo itu cewek tulen yang fashionable banget, cantik, banyak cowok yang ngelirik lo. Pertahanin aja gaya lo sendiri. Gue juga pertahanin gaya gue sendiri. Okay, sista? Gue cabut dulu, laper..” Aku mengambil ranselku dan keluar untuk mencari makan siang. Mela hanya berdiri, diam. Mungkin dia mulai menyerah untuk membujukku.

*******

            Malam ini pertandingan bola akan dimulai. Ada dua botol minuman ringan, dua bungkus popcorn, sepiring pizza, dan tentu saja, dua buah semangka besar. Aku tidak sabar merekam video abangku ketika dia memecahkan semangka-semangka itu.

“Yak! Maju terus! Oper kiri! Yak! Goooaaaal!! Wuhuuuu!” Aku berlari-lari mengelilingi abangku yang ketar-ketir dengan kepalanya.

“Duh berisik banget sih lo! Duduk. Baru juga 2-1, masih ada 20 menit lagi woy.” Abangku menenangkan dirinya sendiri rupanya, padahal dia tahu, bagaimana nasib kepalanya 20 menit ke depan.

            Pertandingan telah selesai. Kami menyiapkan dua semangka itu, menempatkan serbet besar agar tidak mengotori ruangan, dan juga menyiapkan sekantung es batu untuk menyegarkan sang kepala yang malang.

“Ayo! Pecahin tuh semangka pertama! Semangat ya, Sayang… Hehehe.”

“Ish, rame lo. Lihat ya, gue bisa mecahin dalam sekali pukul.” Aku memperhatikan semangka itu. Ya, Kawan. Abangku yang menang. Tuhan, kuatkanlah kepalaku, sekuat omelan ibu pada tiap harinya.

Brak! Pukulan pertama, belum berhasil.

Dug! Pukulan kedua, masih gagal. Kali ini harus berhasil, kepalaku mulai berkedut.

Prak! Krek! Berhasil! Walau hanya retakan kecil, setidaknya itu sudah bisa dikatakan pecah. Yess!

“Boleh, lah. Lumayan juga kepala lo, haha. Sekarang yang kedua, fighting!” Abangku makin menyebalkan saja, dia malah enak-enakan memakan sepiring pizza, sambil menonton aksi debusku tentunya.

            Untuk buah yang kedua ini, aku harus berhasil memecahkannya dalam sekali pukul, penglihatanku sudah mulai tidak fokus.

Brakk! Gelap. Semua gelap.
 
*******

“Genta! Lo gila, ya? Lihat, kan, mending kemarin lo ikut gue, kepala lo nggak bakal diperban kayak gini pastinya. Bandel sih lo!” Ya ya ya, si cerewet Mela mulai menyemprotku, aku hanya mengangguk-angguk saja.

“Bawel lo! Gue nggak apa-apa, Mel. Lihat, gue masih bisa jalan ke kampus gini, kan? Udah, ah. Gue mau cabut dulu.”

“Eh, mau kemana lo? Pulang? Sini gue anterin.”

“Duilee, sok perhatian banget lo. Nggak, gue mau ke lapangan basket. Mau maen sama anak kampus sebelah. Bye!”

Sementara aku berjalan dan melepas perban di kepalaku, aku masih mendengar teriakan Mela. Dia masih saja meneriakiku “gila, bocah gila”.

*******
 
            Matahari mulai tenggelam, aku masih di tribun bersama lelaki ini. Lelaki yang melemparkan bola basket padaku, menghajar kepalaku. Aku ingin pulang, tapi, kenapa dia diam saja sedari tadi? Tidak mengeluarkan kata ‘pulang’, ’cabut’, atau apalah itu sejenisnya.

“Gue minta maaf, ya. Tadi nggak sengaja.”

“Lo tau nggak? Udah seribu kali lo minta maaf dari tadi, udah sejam! Lebay banget sih lo. Gue maafin, kok.”
“Tapi, muka lo kayak kesel banget, pasti belom maafin gue.”

“Lo tuh nyebelin ya, muka gue emang gini dari sananya, jangan ngejek deh. Udah, ah. Gue mau pulang. Lama nungguin lo pamit duluan.”

“Oh, jadi dari tadi lo pengen pulang? Bilang dong. Ayo, gue anterin.”

            Kami pulang menaiki motor miliknya. Namanya Nanda, lebih mirip nama perempuan, ya? Dia dari kampus sebelah, fakultas kedokteran. Setelah 20 menit menuju rumahku, kami sampai juga.

“Makasih. Lain kali hati-hati kalo ngelempar bola. Pulang sana.”

“Yaelah, nggak ditawarin mampir dulu, non? Galak amat.”

“Yee, masih mending lo udah gue maafin. Mau ini? Hah?” Aku mengepalkan tinjuku, bersiap untuk memukulnya.

“Ampun, ampun. Iya gue pulang. Dah..”

*******

            Malam ini aku tidak bisa tidur, kepalaku masih berkedut. Tapi menurutku, bukan hanya itu penyebabnya. Aku memikirkan Nanda, lelaki sialan itu. Oh my God, kenapa aku harus memikirkan laki-laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu? Dan sialnya lagi, dia mengirimiku sebuah pesan singkat, “Good night, Genta. Cepet sembuh, ya..”. Padahal hanya pesan biasa, padahal sudah banyak lelaki yang kukenal dan cukup dekat denganku, tetapi kenapa semendebarkan ini jika memikirkan Nanda?

Ponselku berdering, Mela menelponku.

“Genta! Lo udah pulang?”

“Udah, kenapa sih nelpon jam segini? Mau tidur gue!”

“Gue khawatir sama lo, bego. Besok temuin gue di kantin, ada yang mau gue omongin. Oke?”

“Iya-iya, sok penting banget lo. Gue tidur dulu, bye!”

Telpon terputus. Mataku masih terang benderang. Nanda sialan!

*******

“Genta! Cepetan! Lama banget, sih..”

“Bentar napa!” Aku berlari menghampiri Mela yang sepertinya sudah menunggu lama di bangku kantin.

“Nih ya, to the point aja. Ada yang suka sama lo, Ta! Suka! Ya ampun gue seneng banget akhirnya ada juga cowok yang suke sama cewek kayak lo. Nih lihat..” Mela menyodorkan ponselnya.

“Apaan, sih? Lo salah makan, Mel? Ini apaan kok gue disuruh ngeliatin instagram lo?”

“Ih, lemot pikiran lo. Itu lihat, ada foto lo di akun cowok, lihat deh captionnya.”

            Aku melihat foto yang ditunjukkan Mela. Terlihat seseorang memakai kaos merah, skinny jeans, sneaker hitam, dan berambut sebahu. Tapi terlihat dari belakang, tidak tampak wajahnya, dia berada diantara banyak orang. Captionnya bertuliskan “Wanita berparas indah, aku mengikutimu dari belakang, aku melindungimu dari sini, memuja karakter dari dirimu. Love, forG.”. Caption yang aneh, pikirku.


“Ih, bukan gue ini mah. Lo baper banget, Mel. Gue kira ada hal yang penting gitu. Gue cabut ah.” Aku beranjak dari kursiku.

“Genta! Lo lihat baik-baik, ini baju yang lo pake kemaren sore, kan? Gue masih inget. Lihat tuh, inisialnya G. Jangan-jangan, lo emang kencan sama cowok ya kemaren? Ngaku lo! Anak mana? Akhirnyaa lo jadi cewek tulen, Ta. Gue mau syukuran abis ini.” Mela menggodaku, mencolek lenganku. Aku melihat foto itu sekali lagi. Sial, itu memang aku. Tapi, apa lelaki yang memposting foto ini benar-benar ingin menunjukkan sosokku? Kulihat nama akun lelaki ini, Fernandariga. Astaga, apa ini Nanda?

“Apaan, sih! Lebay banget lo. Lo kan tau sendiri gue nggak pernah pacaran. Lagian jangan baper dulu, jangan kegeeran dulu. Logika lah, inisial G banyak, bukan gue doang. Udah, gue cabut, nggak penting banget.” Aku bangkit dari kursiku dan meninggalkan Mela yang masih memperhatikan foto di akun instagram lelaki itu. Sementara itu, hatiku makin berdebar saja. Jangan baper, Ta. Jangan ge’er.

*******

            Aku menunggu bis di halte depan kampus. Sore ini bis seperti punah, tak ada satu pun yang lewat sedari tadi. Tiba-tiba ada lelaki yang menghentikan motornya di depanku, dia Nanda.

“Sendirian aja, cewek? Yuk, pulang bareng abang. Hehehe.” Dia mengerlingkan matanya, candaannya tidak lucu bagiku, tapi di dalam dada ini, tiba-tiba saja berdebar.

“Sok manis lo. Gue bisa pulang sendiri.”

“Genta, lo masih ngarep ada bis yang lewat jam segini? Mereka hari ini libur, pada demo di Senayan. Sini naik, mumpung gue belom berubah pikiran.” Nanda mengelus-elus jok belakangnya, seakan jok itu akan diduduki oleh ratu. Berlebihan.

“Yaudahlah. Langsung pulang ke rumah gue, cepet!” Akhirnya, kunaiki motornya. Mau bagaimana lagi.

            Jalan ke rumahku harusnya berbelok ke kanan, kenapa dia masih lurus? Apa dia lupa jalan menuju rumahku? Dia berhenti di depan restoran fast food, menyuruhku turun dan menggandeng tanganku, mengajakku masuk ke dalam restoran itu.

“Mbak, pesen curry beef burger dua, lasagna besar satu, sama ice mocca dua, ya.” Nanda memesan makanan untuk kami. Aku masih kebingungan, bercampur kesal tentunya.

“Nanda, apa-apaan, sih? Gue kan mau pulang, bukan mau makan! Seenaknya aja bawa gue kesini.” Aku memasang wajah jutek. Ini menjengkelkan, tapi di hati kecilku, ada ledakan kecil disana. Ya, aku sungguh senang.

“Anggap aja ini ‘dinner permintaan maaf’ dari gue. Ayolah, lo jangan jutek-jutek banget ke gue. Siapa tau besok-besok bukan ‘dinner permintaan maaf’ lagi, hehe.”

            Aku hanya diam. Lelaki ini telah menculikku ke restoran fast food, juga mencuri hatiku ke hatinya. Tadi dia menggandeng tanganku, kenapa? Dan juga, apa maksud dari kalimat “Siapa tau besok-besok bukan ‘dinner permintaan maaf’ lagi”? Oh, jangan-jangan…

*******

“Genta Galista, lo ini kenapa? Jatuh cinta? Bertemu pangeran berkuda? Kenapa lo baper dan ge’er banget? Jangan yakin banget Cuma gara-gara kata ‘forG’..”

“Ta, kurang tanda apa lagi coba? Itu udah jelas banget kalo Nanda suka sama lo. Itu bukan baper yang sia-sia kok, baper lo itu bener..”

“Genta, logika deh, nama berinisial G itu banyak, nggak Cuma lo doang. Lo kenapa sih baper banget? Biasanya juga nyantai gitu dirangkul sama cowok-cowok temen lo itu..”

“Ta, logika deh, mana ada sih cowok yang ngirimin ucapan ‘good night’, ngasih kode ‘forG’ yang jelas-jelas itu buat lo, mau ditebengin pulang pas nggak ada bis, dan ngajak dinner bareng, kalo tuh cowok nggak suka sama lo? Mana ada?”

“Genta! Ayo turun! Makan malem udah ada nih!” Ibu menyadarkanku dari pergolakan batinku. Aku bingung, harus percaya pada ucapan batin yang mana. Tapi, kurasa 80 persen aku berada di kubu sang batin ‘nanda-emang-suka-sama-lo’. Oke, namanya sangat dipaksakan. Kurasa 80 persen aku meyakini kalau Nanda menyukaiku.

*******

“Ta, maen basket yuk, gue tunggu di lapangan. Cepetan!” Pesan singkat dari Nanda. Tunggu apa lagi? Aku segera berangkat.

            Aku pergi menuju lapangan dengan setengah berlari. Setelah sampai, kuletakkan tasku di samping tas Nanda. Tunggu, resleting tas Nanda terbuka, dan di dalamnya terlihat beberapa kuntum bunga mawar. Oh, kenapa aku begitu gugup?

“Ta! Sini cepetan! Temen-temen udah nunggu.” Nanda memanggilku dan tersenyum sangat manis kepadaku.

“Oke!” Langsung saja kami mulai permainannya.

            Setelah lelah bermain basket, aku dan Nanda membersihkan diri dan menuju restoran untuk dinner. Kali ini dia mengajakku ke sebuah resto yang cukup romantis. Oh, apa ini pertanda?

“Sorry ya, Ta. Restonya bukan ‘lo banget’ ya? Gue suka kesini karena ini resto favorit mama gue.”

“Nggak apa-apa kok, gue mah nyantai aja, resto apa aja asal ada yang bisa dimakan. Hehehe.”

“Hahaha bisa aja lo, Ta. Oh iya, ada yang mau gue tanyain.”

“Tanya aja kali, serius amat lo.” Aku mulai harap-harap cemas. Jangan sampai wajahku memerah.

“Tapi gue agak malu, Ta.” Nanda terlihat agak ragu. Come on, boy.

“Hmm, lo punya insta, kan? Lo udah lihat foto yang gue posting terakhir belom?”

“Udah, yang foto cewek diantara banyak orang itu, kan?”

“Iya, yang aku kasih caption ‘forG’. Syukur deh kalo lo udah tau, gue nggak perlu ngejelasin panjang-panjang lagi.”

“Apaan sih maksudnya?” Yak, Genta mulai ketar-ketir, Bung.

“Itu inisial cewek dalam foto itu, gue udah lama banget naksir sama cewek itu, Ta. Menurut lo gimana?” Jedug. Ada yang memberontak keluar dari dadaku, jantungku berdetak secara berlebihan. Aku hanya terdiam. Speechless.

“Ta? Kok diem? Cewek itu cantik, kan?” Nanda masih bermain tebak-tebakan, tapi sangat buruk, sudah dapat ditebak, Kawan.

“Cantik gimana? Nggak keliatan mukanya gitu..” Aku masih pura-pura tidak tahu.

“Loh, kok nggak keliatan? Ini loh, yang ini.. rambutnya panjang, pakai cardigan ungu ini.. Ini temen lo, kan? Kenalin ke gue doong, please..” Nanda menunjuk satu wajah dalam foto itu.

Foto wanita diantara banyak orang.

Wanita yang mengahadap ke kamera, di sampingku.

Wanita berambut panjang, memakai cardigan ungu.

Wanita itu Mela, sahabatku.

For G, Gamelia Gisela.

-End-

Hujan, Tanah, dan Atap (part 4/End)



“Ya? Halo?”

Aku berhenti mendadak, ponselku terjatuh dan jantungku berdebar-debar. Aku harus putar balik.

“Ibu Ristya Ayunda berada di ruang Melati kelas II, silahkan berbelok ke kiri.” Suster itu menunjukkan jalanku untuk bertemu wanita yang paling kucintai, mama.

“Mama.. Ke-kenapa bisa begini?” Aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh.

“Nggak apa kok, mi. Tadi mama ngebut lagi di jalan, terus mama ngeliat Rena, dan mama oleng, jatoh, deh.” Mama mengelus tanganku, menenangkanku.

“Tuh, kan.. Udah Ami bilang jangan ngebut-ngebut, bandel, sih..” Aku mencium tangannya, merasakan tangan dinginnya.

“Ami, mama kangen banget sama Rena, abis ini mama mau nemuin dia, boleh ya?”

“Ih, mama apaan, sih? Rena sama kita beda alam, ma. Mama istirahat dulu, ya. Ami mau urusin administrasinya.”

“Ami.” Mama menahanku, lalu menatapku dalam-dalam.

“Kalo mama udah berangkat buat ketemu Rena, kamu jangan nyariin mama ya. Belajar masak, biar papa sama bang Ramon bisa makan. Jangan sampe putus kuliah. Sampaikan permintaan maaf mama buat Ano dan mamanya, ya. Oiya, seenggaknya seminggu sekali dateng ke atap, kamu bisa deket sama mama dan Rena. Sayang Am—“

Mama menghembuskan napas terakhirnya. Mama berangkat untuk bertemu Rena. Mama meninggalkanku bersama tiga laki-laki yang kadangkala membuatku pusing: Papa, bang Ramon, dan Ano. Aku terkulai lemas, juga terheran bagaimana bisa mama secerewet tadi ketika akan meninggalkanku? Air mataku bahkan lebih deras dari hujan di luar. Mama Ayun, Ami sayang mama.

*******

17 Mei 2015

             Sudah setahun lebih mama meninggalkanku. Setahun ini pula aku selalu ke atap untuk ‘menemui’ mama. Setahun ini pula aku berusaha mencari kabar Ano, untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf mama, tapi nihil, Ano ditelan bumi California.

“Mi, ada e-mail masuk, nih.” Bang Ramon iseng membuka ponselku.

“Ih, tangan nggak bisa diem banget sih, bang! Jangan buka-buka privasi orang, dong!”

“Yaelah gitu doang marah, dah. Ya maaf kali, non.” Bang Ramon langsung pergi begitu saja.

Ku buka e-mail itu, dari sahabatku, Arin. Dia bekerja di California.

“Mi! Aku udah dapet kabar tentang Ano! Kemarin aku ngeliat dia duduk di kafe, masih pake seragam dokter. Dia udah jadi dokter sekarang! Duh, jadi aku yang excited, hehe. Buruan hubungi dia, aku tau nomor telpon rumah sakit tempat dia kerja, ini ya..” Begitu isi e-mail dari Arin.

Aku tidak terlalu yakin, apa Ano masih mencintaiku? Ah, bahkan untuk memikirkanku saja, aku ragu dia melakukannya. Bayangkan, kerja di luar negeri dikelilingi wanita cantik asal California, dan memiliki harta dari pekerjaannya sebagai dokter, yang benar saja! Dia akan melupakan tanah usangnya disini, yang ditinggalkannya 9 tahun yang lalu. Walau dia akan selalu jadi hujanku, aku berpikir bahwa dia telah menemukan tanah yang lain disana.

Ponselku bergetar lagi, tanda ada e-mail baru yang masuk. Pasti dari Arin lagi. Rupanya Arin masih tetap saja bersemangat dengan ketidakpastian ini. Kubuka e-mail yang baru saja masuk.

“Aku akan jatuh ke tanahku, tunggu aku. Besok di kafe biasanya.”

Disitu tertera nama pengirim, bukan Arin, tapi Ano, Galzyndiano Ranobia.

*******

            Senja kelabu masih menemaniku, secangkir kopi telah mendingin. Aku menantinya sore ini, menanti jatuhnya pada tanah usang ini. Tapi entah kenapa, setelah sekian lama menunggu, sekian kali berjuang, dan sekian  kali merindu, aku tetap saja menelan pahitnya keraguan. Entah itu apa, aku masih ragu pada Ano. Bahkan sampai saat ini, dia belum juga datang, apa aku dikerjai?

            Aku mendengarkan radio dari ponselku, memilih channel berita. Heran, beberapa hari ini banyak sekali pemberitaan tentang narkoba, juga pembunuhan. Berita beralih ke topik kecelakaan. Pesawat R303 milik Amerika Serikat hilang kontak setelah diterjang hujan deras, diperkirakan pesawat jatuh ke laut sekitar kepulauan Hawai, semua tim SAR berupaya untuk menemukan pesawat beserta seluruh penumpangnya. Tuhan, mengerikan sekali jika aku berada di pesawat itu.

            Aku membuka ponselku yang sedari tadi kubiarkan, membaca seluruh e-mail yang masuk. Ada e-mail dari Ano, dikirim 4 jam yang lalu.

“Maaf, mi. Hari ini awan belum kelihatan mendung, jadi hujan belum bisa jatuh ke tanah. Apa tanah bisa menemui hujan duluan? Hujan tetep kangen sama tanah, Ano sayang Ami.”

            Apa sih maksudnya Ano? Bilang saja kalau e-mail kemarin salah kirim, bukan untuk tanah usang disini, tapi tanah segar disana. Aku pulang dengan hati dipenuhi kekesalan. Ano bukan hujan yang menentramkanku seperti dulu, dia sudah menjadi hujan asam yang menyebalkan dan merusak hatiku.

*******

            Aku terduduk di atap. Gerimis mulai turun. Pesan dari Ano kemarin, adalah pesan cinta dan rindu yang terakhir, sebelum kami bertemu, sebelum kami menyatu kembali. Hujan tidak akan pernah jatuh lagi ke tanah, sudah saatnya kemarau yang datang mengoyak jiwa. Baru saja, Arin mengirimiku pesan bahwa Ano hilang dalam kecelakaan pesawat itu. Tanah sudah melebur bersama gerimis, Ano. Malam ini, di atap ini, aku menemui mama, Rena, dan Ano. Aku hampir saja meraih tangan mereka, tapi gagal, karena itu hanyalah ilusi.

            Aku berjalan perlahan dengan seuntai kalung bintang yang kukenakan, dan kugunakan payung lipat dari Ano. Aku berjalan menuju tepi atap ini, mengabulkan pesan dari Ano. “Apa tanah bisa menemui hujan duluan?”. Bisa, Ano. Aku akan menemuimu.


            Seketika semua gelap.
            Dan aku melihat bang Ramon di atap, wajahnya murung sekali.
            Kami melihat bang Ramon. Kami: Aku, mama, Rena, dan Ano.
            Kami semua melihatnya.
            Dari sini, di sekeliling bintang-bintang.

--END--

Selasa, 21 Juli 2015

Hujan, Tanah, dan Atap (part 3)



“Rena, tunggu dulu sebentar.” Mama menahanku sebelum aku turun untuk menemui papa.

“Sekolahmu tinggal satu semester, berarti setelah ini kamu kuliah. Kamu jangan satu kampus sama Ano, ya? Cari tempat kuliah yang lain, yang jauh dari Ano.”

“Mama..” Aku tidak mau jauh dari Ano, bagaimana bisa mama tetap ‘keukeuh’ setelah satu tahun terlewati?

“Kali ini kamu harus benar-benar nurut ya sama mama. Kamu sayang sama mama, kan?”

“Iya, aku sayang mama, tapi ma—“

“Udah sana, udah ditunggu papa.” Mama membalikkan badannya, aku turun dengan lemas. Malam tahun baru yang mebuatku tidak bersemangat sama sekali.

*******

4 Juni 2006

            Hari ini angkatanku akan resmi menjadi alumni SMA Pelita Bangsa. Ya, kami di wisuda. Setelah acara selesai, Ano mengajakku pergi untuk sekedar berjalan-jalan, mungkin tanda perpisahan. Kami menikmati kopi di kafe favorit kami.

“Kok diem aja sih, non? Nggak enak ya kopinya?” Ano meraih cangkir kopiku dan meminumnya, aku tetap diam.

“Enak gini, kayak biasanya. Kenapa, sih? Sedih? Yaelah ini kan cuma wisuda, mi.”

“Kita harus berjauhan.” Aku membuka mulutku.

“Lah, emangnya kenapa? Kamu kena rabies, mi? Kok harus jauh-jauhan segala.” Dia mencoba bercanda, tetap saja garing.

“Aku serius. Kita harus jauh, mungkin dengan itu kita bisa saling lupa. Aku nggak mau nyakitin perasaan mamaku terus dan tetap egois bareng kamu, aku nggak mau.” Aku tetap duduk tegak, seakan tidak keluar apa-apa dari mulut bodohku.

“Mi? Kamu sadar, kan? Nggak lagi mabok, kan? Sini aku cium napasmu, bau alkohol nggak tuh.” Ano tetap bercanda, tidak lucu sama sekali.

“Ano, aku serius. Kita udahan aja, ya. Aku bakalan kuliah jauh dari kamu, di Malang.”

“Hmm. Kita keluar dulu, yuk. Cari udara baru, sumpek disini.” Ano menggandeng tanganku, kami menuju keluar kafe, namun ternyata hujan turun.

“Duh, sebel banget. Pake hujan segala ih!” Kebiasaanku mengutuk hujan sudah sering didengar oleh Ano, dia hanya tersenyum kecil.

“Kamu masih benci sama hujan? Ya ampun, udah dua tahun kita ketemu, kamu masih sama aja kayak anak kecil, benci hujan. Emangnya hujan punya salah apa sih ke kamu? Padahal namamu ada kata ‘Rainy’ yang artinya hujan.” Ano mengacak poniku.

“Ya banyak! Hujan udah bikin aku ditaruh di depan pintu panti oleh ibuku, hujan membuat ibuku mati karena hanyut dalam banjir, hujan bikin aku nggak bisa keluar, hujan bikin semua jemuranku basah nggak kering-kering, pokoknya banyaak. Kamu nggak bakalan ngerti.”

Tiba-tiba Ano menarikku keluar, bertemu hujan. Sial! Basah semua. Ano benar-benar tidak mengerti.

“Ano! Apa-apaan sih kam—“ Ano menyentuh bibirku dengan tangannya, menyuruhku diam.

“Sekarang kamu merem, ikutin aku.” Mau tak mau aku mengikuti perintahnya. Kami menyusuri jalan, aku masih dengan mata tertutup. Dan ketika tiba di suatu tempat, Ano berhenti dan menggenggam erat tanganku.

“Ketika hujan turun, langit melepaskan seluruh keruh sesaknya. Seluruh emosi dan panas yang ada akan meluruh bersama hujan. Aku sangat menyukai hujan, dia nggak pernah ngerasa lelah walau dia tau harus jatuh ke bumi berkali-kali. Hujan itu anugrah, Ami. Coba lihat dari sisi baiknya, hujan selalu rindu pada tanah, selalu jatuh pada tanah dan menyatu bersama tanah. Aku adalah hujan, dan aku berharap kamu bersedia menjadi ‘tanahku’. Bisakah, Ami?”

Aku masih memejamkan mataku, menikmati tiap tetes hujan yang menyentuh wajahku. Ano tidak bohong, hujan memang tidak semenjengkelkan itu. Bahkan sekarang, hujan terasa lebih berharga dari apapun. Aku sadar, mau bagaimanapun, aku adalah tanah yang tiap saatnya dirindukan oleh hujan, hujan itu adalah Ano.

“Ami, buka matanya! Udahan yuk romantis-romantisannya, geli ih.” Ano memaksaku membuka mataku.
“Ih, kamu! Kebiasaan, merusak suasana indah. Nyebelin.” Seketika itu aku memeluk Ano, berbisik padanya..

“Tetaplah jadi hujanku..”

*******

11 Agustus 2006

            Aku berdiam di atap bersama hujan yang begitu derasnya, mengutuk segala yang ada, bukan hujan tapinya. Aku menggenggam kotak hadiah berwarna merah, mendekapnya.
“Ano jahat! Sialan! Mana janjimu buat jadi hujanku? Mana?!” Baru kali ini aku menangis, sejak aku bisa mengontrol emosi ‘bayi’ku, aku tidak pernah menangis. Dan kenapa tangisan pertamaku disebabkan oleh Ano? Kenapa?

Tadi pagi pak pos mengirim paket hadiah untukku, dari Ano. “Dasar norak”, pikirku. Namun setelah kubuka, aku menyesal telah menerima hadiah darinya. Dia memberiku sebuah payung lipat dan seuntai kalung bintang. Dia juga menyertakan surat untukku, isinya adalah kalimat perpisahan yang memuakkan, bagaimana tidak? Dia akan kuliah kedokteran di California! Bocah gila! Aku dibiarkannya sendiri, menunggunya tanpa ada kepastian, tanpa ada perantara apapun untuk menghubunginya, yang ada hanya suatu keyakinan, bahwa dia adalah hujanku, aku adalah tanahnya, dan kita akan saling rindu dan menyatu pada waktunya nanti.

*******

23 Februari 2014

“Cut!! Ami, apa kamu belom ngapalin skripnya? Dari tadi selalu salah. Break dulu.” Sutradara menyebalkan itu sensitif sekali hari ini, aku hanya salah empat kali tapi dia sudah berlebihan begitu. Hari ini perasaanku tidak enak, mungkin karena kelelahan.

“Ya, action!” Aku berakting semaksimal mungkin, berharap syuting ini bisa cepat selesai dan aku bisa pulang ke rumah. Beberapa jam kemudian, aku pulang dengan mengendarai mobilku sendiri. Ponselku berdering, ada nomor asing yang menelponku.

“Ya? Halo?”

Aku berhenti mendadak, ponselku terjatuh dan jantungku berdebar-debar. Aku harus putar balik.