Kamis, 02 Juli 2015

Dipermainkan Cinta (part 3-end)



“Ehmm. Makasih buat kejujuranmu, tapi Yuki gimana?”
            “Hubunganku sama Yuki udah berakhir satu tahun yang lalu, Ga.”
            Setelah berpikir. Mungkin ini kesempatan emas dimana aku bisa move on dari si Rino sialan itu, melupakan segala tentang Rino dan memberikan hatiku untuk Kiki. Aku akan mencobanya walau tak yakin dengan perasaanku kepada Kiki.
            “Oke, Kiki. Aku akan menyayangimu.” Hanya itu jawabanku. Lalu Kiki memelukku dengan erat seakan tak mau lepas.
*******
            Beberapa hari kemudian, aku menjalani hidup normal seperti biasanya: kuliah, bekerja part time di toko buku, dan ditambah lagi kehadiran seorang Kiki, cinta yang kujalani saat ini.
            Pagi ini aku duduk manis di balik meja kasir, tiba-tiba Manda, rekan kerjaku, menghampiriku.
            “Hei, Ga. Udah sembuh? Enak banget nggak masuk beberapa hari.”
            “Hehehe, udah, Man. Si Arya kemana kok nggak keliatan?”
            “Arya? Arya siapa, Ga? Disini nggak ada yang namanya Arya, deh.”
            “Yaelah Man, jangan bercanda. Arya yang tinggi, nyebelin, yang mukanya flat itu loh, bagian distribusi. Parah nih masa nggak kenal temen kerjanya sendiri.”
            “Serius, Ga. Nggak ada yang namanya Arya, ada juga Alya. Aku kan bagian data pegawai, pasti tau semuanya. Nggak ada yang namanya Arya, Ga. Jangan ngarang, deh.”
Deg. Apa maksud Manda? Aku atau Manda yang salah? Tidak ada nama Arya? Sungguh, aku bingung.
“Ga? Malah bengong. Aku mau nanya, selama ini kamu kok sering keliatan ngomong sendiri gitu? Kamu punya masalah atau emang punya indera keenam, Ga? Hehe” Manda mencolek lenganku, bermaksud untuk bercanda.
“Aku nggak ngomong sendiri, Man. Aku ngomong sama Arya. Masa kamu nggak tau Arya, sih?”
“Ga. Kayaknya kamu masih sakit, deh. Mau aku anterin pulang?”
“Aku nggak sakit!” Aku terbawa emosi karena bingung dan cemas. Manda terkejut dan meninggalkanku dengan wajahnya yang keheranan.
Seketika itu aku berpikir sendiri, dimana Arya? Aku akan membuktikan pada Manda bahwa Arya itu ada. Aku mencari ponselku di tas, namun yang ku temukan malah secarik kertas. Ku ambil kertas itu namun belum sempat ku buka karena ada pengunjung yang masuk. Dia bertubuh tegap dengan balutan kemeja cokelat. Terlihat lesung pipnya, dan memakai kacamata. Oh tidak, bukan, ini pasti salah, bukan, bukan dia.
“Hai, Mega. Masih inget aku?” Dia tersenyum, senyumnya tidak berubah sejak dulu.
“I-iya inget. Ada apa?” Aku menjawab seacuh mungkin.
“Bisa ngobrol sebentar, Ga? Masa nggak kangen sih sama temennya sendiri?”
“Yaudah ayo keluar sebentar.”
Tuhan, apa salahku? Kenapa dia muncul kembali? Dan sekarang, dia mengajakku berbincang. Dasar Rino sialan.
“Ngobrolnya sebentar aja, ya. Langsung to the point aja. Aku masih kerja.”
“Oke. Kamu masih inget kalung daun semanggi dari aku? Masih kamu simpen?”
“Iya masih. Kenapa?”
“Sebenarnya, dulu aku ngasih itu ke kamu, bukan sebagai tanda persahabatan.” Rino menatapku dalam-dalam, aku menunduk, masih sama seperti dulu.
“Itu adalah tanda cinta, Mega. Aku mencintaimu, sejak kelas dua SMA. Dulu ketika memberikan kalung itu, aku begitu gugup dan nggak yakin. Jadi, yang keluar dari bibirku adalah “tanda persahabatan” bukan “tanda cinta”. Aku nyesel banget setelah itu, tapi aku bertekad, sepulang dari Jakarta, aku bakal nemuin kamu dan ngungkapin semuanya, seperti sekarang ini.”
“Ta-tapi Rino—” Rino menempelkan jari telunjuknya di bibirku, dia memotong ucapanku. Dan kamu tau? Aku rasa mataku mulai basah.
“Jangan memotong omonganku dulu, Mega. Aku tau, kok, kamu udah dimiliki cowok lain.”
“Tau dari mana?”
“Beberapa hari yang lalu, aku melihatmu di bangku taman sama seorang cowok, aku ngeliat kamu bercanda bareng sama dia, dan kamu kelihatan bahagia banget disitu.”
Apa yang dimaksud Rino itu Arya? Berarti Rino bisa melihat Arya? Benar kataku, Manda salah. Rino itu ada, Manda membuatku takut saja.
“Oh, itu bukan—” Lagi-lagi Rino menghentikan omonganku.
“Nggak usah menyangkal, Mega. Lagipula, aku seneng kok ngeliat kamu bahagia gitu. Sekarang aku sadar, aku terlambat, bukan? Maaf kalo aku terlalu jujur dan ngomongin ini tiba-tiba.”
Rino bodoh! Kenapa dia baru mengatakan ini sekarang? Kenapa dia harus terlambat? Di saat aku menemukan dinding kokoh untuk melupakannya, dia malah hadir meretakkan dinding itu. Mega, kamu harus tangguh.
“Nggak apa-apa. Udah ngomongnya?” Aku pura-pura bersikap acuh tak acuh. Padahal ada setumpuk amarah dan air mata yang terbendung dalam kelopak mataku.
“Iya, maaf, Mega. Dan makasih, ya. Kita masih bisa temenan, kan? Besok makan bareng di kafe yuk?” Rino terlihat menabahkan hatinya dan merubah wajahnya menjadi riang, tapi tetap saja, terlihat dipaksakan.
“Aku dipanggil boss, No. Udah dulu, ya. Makasih.” Aku berlalu begitu saja, meninggalkan Rino dan mengacuhkan tawarannya. Aku masuk ke dalam toko, mengambil tasku dan keluar lagi lewat pintu belakang, pergi menuju kafe tempatku dan Arya biasanya bertemu. Aku butuh Arya. Air mataku mengalir dengan tenang, kupaksakan diriku untuk tetap tangguh.
Sesampai di kafe, aku memesan moccacino panas, mungkin bisa menenangkanku. Aku menelpon Arya –masih dengan berlinang air mata- namun ponselnya tidak aktif. Kemana, sih, Arya? Aku terdiam. Ah! Aku teringat secarik kertas tadi, kubuka dan kubaca semua kata-kata dalam kertas itu.

Untuk Mega tercinta, wanita terindah dari dunia nyata.
Maafkan aku, Mega, aku pergi tanpa pamit. Aku yakin sekarang kamu lagi kebingungan, biar aku jelasin. Aku Arya, abang ganteng yang bukan manusia. Aku cowok yang mencintai perempuan dari dunia nyata, itu kamu. Gimanapun caranya, aku nggak akan pernah bisa memiliki kamu, bahkan dapetin cintamu aja mustahil, karena dunia kita berbeda. Karena itu, yang bisa aku lakukan cuma melindungi dan mendampingi kamu selama kamu belum menemukan cintamu. Dan sekarang udah ada Kiki, kan? Aku rasa tugas ku udah selesai, ya walaupun aku nggak akan pernah berhenti mencintai kamu. Oh iya, kalo kamu sekarang dituduh suka ngomong sendiri, itu bener. Aku ini nggak kasat mata tau. Hebat, kan? Cuma kamu yang bisa ngeliat aku, dan kamu inget cincinku? Itu sarana buat menampakkan diri. Kalo aku ngelepas cincin itu, aku akan terlihat sebagai manusia biasa, semua orang bisa melihatku. Dan kalo cincin itu aku pakai lagi, aku kembali ke wujud semula, nggak terlihat. Yaudah gitu aja, mega. Makasih atas semuanya, maafin semua kesalahanku, ya? Semoga kamu bahagia bersama cintamu. Jangan kangen sama abang ganteng ini.
Salam cinta, Arya.

            Air mataku semakin deras, menyusuri pahitnya kenyataan yang aneh ini. Mimpi macam apa ini? Arya bodoh! Aku masih membutuhkannya! Tugas kamu belum selesai, Arya, aku masih sangat membutuhkanmu. Tolong kembalilah, Arya, kumohon…
            Moccacino di hadapanku sudah dingin, aku tidak menyentuhnya sedari tadi. Mungkin sekarang mataku sudah bengkak, dua jam sudah aku menangis sendiri di kafe ini, berharap Arya akan kembali, aku butuh bahu tangguh dari sosok Arya. Aku masih belum percaya semua ini, aku tidak pernah berpikir akan seperti ini, aku tidak pernah menginginkan kenyataan seperti ini. Aku kacau! Aku merasa bodoh dan dungu. Merasa dipermainkan cinta.
            Dalam isak tangisku, aku memejamkan mataku. Berharap Arya akan kembali dan juga waktu bisa ku putar, kembali ke masa dimana Rino memberikanku kalung daun semanggi. Aku merasakan ada yang menyentuh bahuku. Aku berharap itu Arya. Ku buka mataku dan berbalik.
            Dia tersenyum, tangannya menyentuh pipiku dan menghapus air mataku. Tetap saja, air mataku makin deras, aku merasa hancur dan merasa bersalah secara bersamaan. Orang yang ada di depanku bukanlah Arya yang kubutuhkan saat ini, bukan pula Rino yang sampai saat ini kuharapkan meskipun cintanya terlambat. Tapi Kiki, orang yang mecintaiku namun aku hanya memanfaatkannya sebagai alat untuk melupakan Rino, aku tidak benar-benar mencintai Kiki.
Maafkan aku, Kiki. Maafkan aku…
Cinta benar-benar mempermainkanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar