“Ehmm. Makasih buat kejujuranmu, tapi Yuki gimana?”
“Hubunganku
sama Yuki udah berakhir satu tahun yang lalu, Ga.”
Setelah
berpikir. Mungkin ini kesempatan emas dimana aku bisa move on dari si Rino
sialan itu, melupakan segala tentang Rino dan memberikan hatiku untuk Kiki. Aku
akan mencobanya walau tak yakin dengan perasaanku kepada Kiki.
“Oke,
Kiki. Aku akan menyayangimu.” Hanya itu jawabanku. Lalu Kiki memelukku dengan
erat seakan tak mau lepas.
*******
Beberapa
hari kemudian, aku menjalani hidup normal seperti biasanya: kuliah, bekerja
part time di toko buku, dan ditambah lagi kehadiran seorang Kiki, cinta yang
kujalani saat ini.
Pagi
ini aku duduk manis di balik meja kasir, tiba-tiba Manda, rekan kerjaku,
menghampiriku.
“Hei,
Ga. Udah sembuh? Enak banget nggak masuk beberapa hari.”
“Hehehe,
udah, Man. Si Arya kemana kok nggak keliatan?”
“Arya?
Arya siapa, Ga? Disini nggak ada yang namanya Arya, deh.”
“Yaelah
Man, jangan bercanda. Arya yang tinggi, nyebelin, yang mukanya flat itu loh,
bagian distribusi. Parah nih masa nggak kenal temen kerjanya sendiri.”
“Serius,
Ga. Nggak ada yang namanya Arya, ada juga Alya. Aku kan bagian data pegawai,
pasti tau semuanya. Nggak ada yang namanya Arya, Ga. Jangan ngarang, deh.”
Deg. Apa maksud Manda?
Aku atau Manda yang salah? Tidak ada nama Arya? Sungguh, aku bingung.
“Ga? Malah bengong. Aku
mau nanya, selama ini kamu kok sering keliatan ngomong sendiri gitu? Kamu punya
masalah atau emang punya indera keenam, Ga? Hehe” Manda mencolek lenganku,
bermaksud untuk bercanda.
“Aku nggak ngomong
sendiri, Man. Aku ngomong sama Arya. Masa kamu nggak tau Arya, sih?”
“Ga. Kayaknya kamu
masih sakit, deh. Mau aku anterin pulang?”
“Aku nggak sakit!” Aku
terbawa emosi karena bingung dan cemas. Manda terkejut dan meninggalkanku
dengan wajahnya yang keheranan.
Seketika itu aku
berpikir sendiri, dimana Arya? Aku akan membuktikan pada Manda bahwa Arya itu
ada. Aku mencari ponselku di tas, namun yang ku temukan malah secarik kertas.
Ku ambil kertas itu namun belum sempat ku buka karena ada pengunjung yang
masuk. Dia bertubuh tegap dengan balutan kemeja cokelat. Terlihat lesung
pipnya, dan memakai kacamata. Oh tidak, bukan, ini pasti salah, bukan, bukan
dia.
“Hai, Mega. Masih inget
aku?” Dia tersenyum, senyumnya tidak berubah sejak dulu.
“I-iya inget. Ada apa?”
Aku menjawab seacuh mungkin.
“Bisa ngobrol sebentar,
Ga? Masa nggak kangen sih sama temennya sendiri?”
“Yaudah ayo keluar
sebentar.”
Tuhan, apa salahku?
Kenapa dia muncul kembali? Dan sekarang, dia mengajakku berbincang. Dasar Rino
sialan.
“Ngobrolnya sebentar
aja, ya. Langsung to the point aja. Aku masih kerja.”
“Oke. Kamu masih inget
kalung daun semanggi dari aku? Masih kamu simpen?”
“Iya masih. Kenapa?”
“Sebenarnya, dulu aku
ngasih itu ke kamu, bukan sebagai tanda persahabatan.” Rino menatapku
dalam-dalam, aku menunduk, masih sama seperti dulu.
“Itu adalah tanda
cinta, Mega. Aku mencintaimu, sejak kelas dua SMA. Dulu ketika memberikan
kalung itu, aku begitu gugup dan nggak yakin. Jadi, yang keluar dari bibirku
adalah “tanda persahabatan” bukan “tanda cinta”. Aku nyesel banget setelah itu,
tapi aku bertekad, sepulang dari Jakarta, aku bakal nemuin kamu dan ngungkapin
semuanya, seperti sekarang ini.”
“Ta-tapi Rino—” Rino
menempelkan jari telunjuknya di bibirku, dia memotong ucapanku. Dan kamu tau?
Aku rasa mataku mulai basah.
“Jangan memotong
omonganku dulu, Mega. Aku tau, kok, kamu udah dimiliki cowok lain.”
“Tau dari mana?”
“Beberapa hari yang
lalu, aku melihatmu di bangku taman sama seorang cowok, aku ngeliat kamu
bercanda bareng sama dia, dan kamu kelihatan bahagia banget disitu.”
Apa yang dimaksud Rino
itu Arya? Berarti Rino bisa melihat Arya? Benar kataku, Manda salah. Rino itu
ada, Manda membuatku takut saja.
“Oh, itu bukan—”
Lagi-lagi Rino menghentikan omonganku.
“Nggak usah menyangkal,
Mega. Lagipula, aku seneng kok ngeliat kamu bahagia gitu. Sekarang aku sadar,
aku terlambat, bukan? Maaf kalo aku terlalu jujur dan ngomongin ini tiba-tiba.”
Rino bodoh! Kenapa dia
baru mengatakan ini sekarang? Kenapa dia harus terlambat? Di saat aku menemukan
dinding kokoh untuk melupakannya, dia malah hadir meretakkan dinding itu. Mega,
kamu harus tangguh.
“Nggak apa-apa. Udah
ngomongnya?” Aku pura-pura bersikap acuh tak acuh. Padahal ada setumpuk amarah
dan air mata yang terbendung dalam kelopak mataku.
“Iya, maaf, Mega. Dan
makasih, ya. Kita masih bisa temenan, kan? Besok makan bareng di kafe yuk?”
Rino terlihat menabahkan hatinya dan merubah wajahnya menjadi riang, tapi tetap
saja, terlihat dipaksakan.
“Aku dipanggil boss,
No. Udah dulu, ya. Makasih.” Aku berlalu begitu saja, meninggalkan Rino dan
mengacuhkan tawarannya. Aku masuk ke dalam toko, mengambil tasku dan keluar
lagi lewat pintu belakang, pergi menuju kafe tempatku dan Arya biasanya
bertemu. Aku butuh Arya. Air mataku mengalir dengan tenang, kupaksakan diriku
untuk tetap tangguh.
Sesampai di kafe, aku
memesan moccacino panas, mungkin bisa menenangkanku. Aku menelpon Arya –masih
dengan berlinang air mata- namun ponselnya tidak aktif. Kemana, sih, Arya? Aku
terdiam. Ah! Aku teringat secarik kertas tadi, kubuka dan kubaca semua
kata-kata dalam kertas itu.
Untuk
Mega tercinta, wanita terindah dari dunia nyata.
Maafkan
aku, Mega, aku pergi tanpa pamit. Aku yakin sekarang kamu lagi kebingungan,
biar aku jelasin. Aku Arya, abang ganteng yang bukan manusia. Aku cowok yang
mencintai perempuan dari dunia nyata, itu kamu. Gimanapun caranya, aku nggak
akan pernah bisa memiliki kamu, bahkan dapetin cintamu aja mustahil, karena
dunia kita berbeda. Karena itu, yang bisa aku lakukan cuma melindungi dan
mendampingi kamu selama kamu belum menemukan cintamu. Dan sekarang udah ada
Kiki, kan? Aku rasa tugas ku udah selesai, ya walaupun aku nggak akan pernah
berhenti mencintai kamu. Oh iya, kalo kamu sekarang dituduh suka ngomong
sendiri, itu bener. Aku ini nggak kasat mata tau. Hebat, kan? Cuma kamu yang
bisa ngeliat aku, dan kamu inget cincinku? Itu sarana buat menampakkan diri.
Kalo aku ngelepas cincin itu, aku akan terlihat sebagai manusia biasa, semua
orang bisa melihatku. Dan kalo cincin itu aku pakai lagi, aku kembali ke wujud
semula, nggak terlihat. Yaudah gitu aja, mega. Makasih atas semuanya, maafin
semua kesalahanku, ya? Semoga kamu bahagia bersama cintamu. Jangan kangen sama
abang ganteng ini.
Salam
cinta, Arya.
Air
mataku semakin deras, menyusuri pahitnya kenyataan yang aneh ini. Mimpi macam
apa ini? Arya bodoh! Aku masih membutuhkannya! Tugas kamu belum selesai, Arya,
aku masih sangat membutuhkanmu. Tolong kembalilah, Arya, kumohon…
Moccacino
di hadapanku sudah dingin, aku tidak menyentuhnya sedari tadi. Mungkin sekarang
mataku sudah bengkak, dua jam sudah aku menangis sendiri di kafe ini, berharap
Arya akan kembali, aku butuh bahu tangguh dari sosok Arya. Aku masih belum
percaya semua ini, aku tidak pernah berpikir akan seperti ini, aku tidak pernah
menginginkan kenyataan seperti ini. Aku kacau! Aku merasa bodoh dan dungu.
Merasa dipermainkan cinta.
Dalam
isak tangisku, aku memejamkan mataku. Berharap Arya akan kembali dan juga waktu
bisa ku putar, kembali ke masa dimana Rino memberikanku kalung daun semanggi.
Aku merasakan ada yang menyentuh bahuku. Aku berharap itu Arya. Ku buka mataku
dan berbalik.
Dia
tersenyum, tangannya menyentuh pipiku dan menghapus air mataku. Tetap saja, air
mataku makin deras, aku merasa hancur dan merasa bersalah secara bersamaan. Orang
yang ada di depanku bukanlah Arya yang kubutuhkan saat ini, bukan pula Rino
yang sampai saat ini kuharapkan meskipun cintanya terlambat. Tapi Kiki, orang
yang mecintaiku namun aku hanya memanfaatkannya sebagai alat untuk melupakan
Rino, aku tidak benar-benar mencintai Kiki.
Maafkan aku, Kiki. Maafkan aku…
Cinta benar-benar mempermainkanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar