Sabtu, 27 Juni 2015

Cerpen: Dipermainkan Cinta (part 2)



            “Selamat sore, Nyonya Mega. Semoga pekerjaan hari ini menyenangkan.”
Aish, seperti biasa. Sambutan garing dari Arya dengan wajahnya yang sok manis itu.
            “Ya, Tuan Arya. Terima kasih, bisa bikinin kopi?” Aku meledeknya dengan senyum agak dipaksakan.
            “Yeee, emang kamu kira aku mirip abang-abang asongan tukang kopi? Ganteng gini kok disuruh bikin kopi, sembarangan.” Dia menata rambutnya yang tidak berantakan, bergaya layaknya model iklan shampo.

            Biasanya di waktu sore toko buku ini sepi, bahkan kosong. Dan benar, saat ini benar-benar kosong, hanya ada aku dan Arya di balik meja kasir.
            “Ya, kok belum pulang? Jam kerjamu kan udah abis.” Aku membuka percakapan dengan wajah lesu.
            “Ngusir, ya? Males ah. Aku masih betah disini. Lagian aku nungguin kamu buat curhat. Curhat, gih. Cepetan.” Arya melihat arlojinya. Sok sibuk, pikirku.
            “Yelah sok tau banget, sih. Nggak ada yang mau dicurhatin, kok. Nggak ada topik menarik.”
            “Udah, ah. Jangan ngeles mulu. Cepetan curhat, daripada ntar nangis di jalan, mending curhat sekarang ke abang ganteng ini.”
            Sudah biasa, Arya selalu tau saat-saat dimana aku ingin melampiaskan keluh kesahku. Dia pandai menebak perasaanku, kebutuhanku, pikiranku, pokoknya semua tentangku. Entah bakat dari turunan apa dia bisa seperti itu, apa mungkin dia cenayang?
            “Hmmm yaudah, deh. Keliatan banget ya kalo aku pengen curhat? Gini, aku lagi kepo sama sesuatu yang aneh. Tadi itu pas aku nganterin Yuki ke toko buku, ada cowok berpakaian serba hitam bahkan berkacamata hitam. Dia ngikutin kita, misterius banget. Ngeri, kan…”
            “Yaelah, mbak. Kepedean banget kau. Kok yakin banget kalo cowok itu ngikutin kalian? Bisa aja ternyata dia ngikutin orang lain, ya kan?”
            “Ih, bukannya kepedean. Ini feeling, f-e-e-l-i-n-g. Aku yakin banget dia ngikutin aku sama Yuki. Buktinya, pas aku mergokin dia yang lagi mengintai kita, dia langsung buru-buru kabur. Jelas, kan?”
            “Hmm yaudah sekarang waspada aja, Ga. Jangan kepedean dulu, tapi tetep hati-hati. Ntar kalo ada sesuatu yang darurat, cepet-cepet hubungi aku, ya?” Wajah Arya berubah menjadi serius sekarang. Apa itu wajah kekhawatiran? Ah, memangnya kamu siapa, Mega, membuat seorang Arya khawatir.
            “Oke, Ya. Yaudah sana pulang. Udah puas kan dicurhatin?”
            “Dih, jahat banget, sih. Selesai curhat malah diusir. Terimakasih kek, beliin kopi kek, atau sun pipi kek.” Arya mulai menggoda lagi.
            “Sun pipi? Pake sepatu mau? Hah?!”
            “Eh ampun, mbak, ampun. Yaudah pulang dulu, ya. Byeee!”
            Setelah Arya keluar dari toko buku, suasana sekitarku hening kembali. Hanya ada satu-dua orang yang lewat. Untuk memecah kejenuhanku, ku lanjutkan membaca buku kumpulan cerpen yang baru ku beli kemarin. Setidaknya ini mencegah pikiranku dari ingatan sosok Rino.
*******
            Hari kamis yang mendung, tidak terasa sudah 5 semester aku kuliah. Hari ini kuliah pagi dan aku berangkat terlalu pagi. Aku menunggu di bangku taman yang sama, di bawah pohon palem. Beberapa saat kemudian aku terusik oleh bunyi semak-semak di belakangku. Saat aku menoleh, kosong, tak ada apapun. Mungkin kucing, pikirku. Namun suara itu muncul kembali, ku tengok tetap tak ada apapun. Aku makin penasaran dan menghampiri semak-semak itu. Rupanya seorang pria! Karena kaget, dia terjengkang ke belakang lalu tersenyum kikuk kepadaku.
            “Kiki? Ngapain ngumpet disitu? Bikin orang kaget aja.”
            “Eh, anu, a-aku nggak ngumpet, kok. La-lagi nyari barang yang jatuh, Ga.” Kenapa dia gugup? Aku yakin dia tidak sedang mencari sesuatu.
            “Kok grogi gitu? Kamu—”
            “Yaudah aku pergi dulu ya, Ga. Bye!” Belum selesai aku berbicara, dia melengos begitu saja. Aneh.
            Setelah kuliah selesai, aku mampir ke kantin untuk mengisi perutku yang sudah mulai berdemonstrasi di dalamnya. Aku memesan semangkuk mie ayam dan segelas es teh manis. Saat menikmati santapanku, aku merasa ada yang memperhatikanku, lagi. Ku arahkan mataku untuk melihat ke segala penjuru, aku menemukan Kiki sedang melihatku, lalu dia tersenyum dan pergi begitu saja sebelum ku panggil. Sebenarnya ada apa?
            Setelah menyelesaikan makan siangku, aku terdiam. Apa mungkin, orang yang selama ini mengikutiku adalah Kiki? Ah, dugaan gila, memang. Aku harus menemui Arya, mungkin dia bisa membantuku. Langsung ku SMS Arya untuk bertemu di toko buku.
            Karena tergesa-gesa, aku menyeberang jalan dan tidak sengaja menjatuhkan ponselku. Ketika merunduk untuk mengambil ponsel, tiba-tiba dari arah kanan ada mobil yang melaju kencang, kaki ku terasa beku dan… Tiiiin!
            Aku terguling di trotoar dalam dekapan seorang pria, dekapan yang begitu kuat. Dan ternyata dia adalah Arya.
            “Ar-arya? Ma-makasih udah nolongin aku, ma—”
            “Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka? Ada yang sakit?” Belum selesai ku bicara, dia memotong ucapanku. Terlihat matanya penuh kekhawatiran, dia memastikan bahwa tubuhku tidak ada yang sakit.
            “Enggak, nggak apa-apa. Cuma luka kecil di siku. Tapi aku masih kaget.”
            “Makanya kalo nyebrang lihat-lihat dulu, jangan ceroboh. Lain kali kalo nggak ada aku gimana? Udah ayo, kita ke bangku situ.” Arya menunjuk bangku taman. Dia membantuku berjalan karena lututku masih terasa lemas sejak kejadian tadi. Setelah duduk, dia memeriksa luka di siku ku, mengambil plester penutup luka dan menempelkannya pada siku ku. Aku mengamatinya, kali ini dia penuh kelembutan. Kulihat jari-jarinya, tunggu, dia memakai cincin? Sejak kapan?
            “Makasih ya, Ya. By the way, nggak ngomong-ngomong nih kalo udah tunangan.” Aku meledeknya.
            “Sama-sama. Tunangan apaan?”
            “Tuh, cincin. Sama siapa, Ya? Kenalin dong, hehehe.”
            “Ih apaan, sih. Ini bukan cincin tunangan, cincin biasa.”
            “Oalah, kirain cincin tunangan gitu. Bagus, deh. Copot, gih. Pengen lihat.” Lalu dia melepas cincinnya dan memberikannya padaku. Wah, indah memang, tapi bentuknya agak aneh. Bagaimanapun itu, pasti mahal harganya.
            “Udah sini jangan kelamaan lihatnya, ntar rusak cincin orang ganteng.” Dia merampas kembali cincin miliknya.
            “Yeee, sok kegantengan banget. Cincin murah aja dibanggain. Eh, aku mau cerita.”
            “Mahal woy cincin ini, gajimu setahun juga nggak cukup buat beli. Yaudah mau cerita apa?”
            “Aku mikir, kayaknya cowok yang selama ini mengintai aku itu ternyata Kiki. Aku udah ngebuktiin, kok. Apa coba maksudnya? Aku harus gimana?”
            “Nah loh, kok Kiki? Pacarnya temen kamu yang namanya Yuki itu, kan? Mungkin dia punya tujuan khusus. Coba kamu face to face sama Kiki. Jangan buruk sangka dulu.”
            “Tapi aku belum berani, ntar aku coba, deh. Nanti kalo aku ada kesulitan, aku hubungin kamu, ya?”
            “Oke, boss. Kamu udah nggak apa-apa? Masih bisa kerja?”
            “Lebay banget, sih. Masih bisa lah, luka kecil doang, kok. Yuk berangkat ke toko buku, udah telat ntar dimarahin si boss.”
*******
            Malam harinya, aku termenung di atas kasur, melihat langit-langit kamar. Pikiranku menerawang jauh, apa maksud dari kelakuan Kiki? Dan juga, bagaimana bisa Arya muncul secara tiba-tiba di saat-saat genting seperti tadi? Aku tersadar dari segala pertanyaan dan dugaan karena ada yang mengetuk pintu. Siapa yang bertamu malam-malam begini?
            “Hai, Mega.” Kiki menyapaku dengan senyum ramahnya.
            “Oh, Ki-kiki? Ada apa malem-malem gini kesini?” tanyaku agak cemas.
            “Aku mau jenguk kamu. Aku denger katanya kamu abis kecelakaan, ini buat kamu.” Jawabnya sambil memberiku sebuah bingkisan.
            “Iya,  kecelakaan kecil doang. Makasih ya, Ki. Maaf ngerepotin.” Aku berusaha tersenyum sebisa mungkin walau masih bertanya-tanya. Kiki membalas senyumku dengan senyuman yang lebih tulus dan hangat. Dan selanjutnya dia meraih tanganku, Oh Tuhan..
            “Apaan, sih, Ki? Lepasin.” Aku melepas tangannya dari tanganku. Namun ia meraihnya lagi dan menatapku, matanya seakan menjelajahi seluruh pikiran dan perasaanku.
            “Ga, maaf kalau aku lancang. Aku cuma mau jujur dan mengatakan yang sebenarnya terjadi, apa boleh?”
            “Bo-boleh kok. Jujur gimana?” Perasaanku campur aduk, rasa penasaranku kian membuncah, dan jantungku berdebar menantikan apa yang selanjutnya akan Kiki katakan.
            “Kamu pasti udah tau kalo selama ini yang ngikutin kamu adalah aku. Aku ketahuan. Sebenarnya, itu karena aku punya perasaan yang beda. Entah itu apa, aku seperti dituntun untuk selalu memperhatikanmu—” Dia terdiam sejenak.
            “Ehmm, apa kamu mau menjadikanku sebagai seorang pria spesial dalam hidup kamu?” Ungakapannya singkat namun tajam, Kiki berbicara sambil terus menatapku dalam-dalam dan memegang erat tanganku. Aku bingung harus bagaimana. God, what should I do?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar