Kamis, 25 Juni 2015

Cerpen: Dipermainkan Cinta (part 1)



Waktu menunjukkan pukul 3 sore, namun hujan belum juga reda. Lagi-lagi terjebak hujan, pikirku. Sambil menunggu hujan reda, ku putuskan untuk membaca buku, buku apapun yang ada di toko ini. Dan setelah menyusuri semua rak buku, pilihanku jatuh pada novel berjudul “Till We Meet Again”. Judul ini mengingatkanku pada pria berkacamata itu.
*******
            “Baca buku apa, Ga?” Dia mulai menyapaku dengan hiasan lesung pipi dalam senyumnya.
            “Eh, ehmm, aku.. aku baca novel aja, nih. Kok belum pulang, No?” Yah, seperti biasa, aku selalu grogi di hadapannya.
            “Lho, kamu nggak tau, ya? Di luar kan lagi hujan deras banget. Keasyikan baca, sih..”
            Entah dia berkata apa, aku masih menikmati indah wajahnya. Matanya, aku belum pernah berhasil untuk memandangnya, entah kenapa terasa begitu sulit. Rino, kapan kamu bisa peka dan memahami? Tiga tahun sudah aku memendam rasa ini, menyukai, mengharapkanmu, bahkan berpikir bahwa kamu adalah segalanya buatku. Dan sebentar lagi kita akan berpisah, lulus dari SMA dan meneruskan perjalanan untuk menggapai impian kia masing-masing. Kapan kamu bisa mengerti dan mengukuhkan perasaanku ini? Apakah penantianku selama ini akan sia-sia begitu saja? Akan hilang seiring guyuran hujan? Rino, Rino…
            “Hey! Kok malah bengong, sih! Udah deh nggak usah mikirin kegantengan aku.” Rino mengagetkanku, membuyarkan lamunanku.
            “Ih, apaan, sih! Pede banget dikau. Maaf, ya, Anda belum mencukupi level ganteng buat masuk ke dalam pikiran saya.”
            Candaan ini bukan untuk kali pertama, sudah sangat sering kami bercanda seperti ini, bahkan seringkali aku mengeluarkan beberapa tanda atau sinyal padanya, tapi tetap saja, dia tidak pernah peka.
            Sejurus kemudian, dia menatapku, dengan tatapan serius, tidak seperti biasanya. Namun alangkah bodohnya, kenapa aku masih saja belum bisa membalas tatapannya? Hanya novel yang berada di tanganku yang bisa aku jadikan pusat pandanganku.
            “Mega…” Suaranya melembut, setengah berbisik. Belum pernah dia selembut ini.
            “Ya? Ada apa?” Tanyaku penuh harap.
            “Aku mau ngomong sesuatu.”
            Deg. Jantungku tak malu-malu memamerkan kerja ekstranya. Harapanku semakin tinggi, melambung bersama pelangi di langit Malang saat ini. Apapun itu, katakan saja, Rino. Aku hanya terdiam, mataku mengisyaratkan “Silahkan lanjutkan”.
            “Ehmm, sebentar lagi kan kita akan berpisah, lulus dan berpencar kemana-mana. Terima kasih ya, selama 3 tahun ini kamu udah mau bersahabat denganku. Dan aku…” Kalimatnya terputus. Dia melihat sekeliling, dan kini keringatku mulai berkeliaran, hawa dingin melekat pada tubuhku, mungkin wajahku juga memerah saat ini.
“Aku mau ngasih ini…” Dia mengeluarkan benda berkilau. Seuntai kalung dengan bentuk daun semanggi. Tuhan, bagaimana ini? Rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin, betapa bahagianya aku.
“Apa maksudnya? Kenapa kamu ngasih aku kalung?” Aku bertanya dengan suara sedikit bergetar, berlebihan memang, tapi mau bagaimana lagi? Wajahku mulai panas sepertinya.
“Aku… aku ngasih itu sebagai tanda. Tanda persahabatan kita. Setelah ini aku akan kuliah di Jakarta. Kalau kamu kangen aku, lihat aja daun semanggi itu. Semoga kamu beruntung dengan daun semanggi itu. Dipakai, ya.” Dia tersenyum polos tanpa merasa berdosa.
Hanya itu? Tak ada lagi? “Tanda persahabatan” katanya? Lebur sudah harapanku. Jatuh, ambruk dan pecah berkeping-keping. Entah kamu yang tidak pernah peka atau aku yang terlalu berharap. Aku tak bisa menahan air mataku.
“Mega? Kamu kok nangis? Udah, cup-cup, nanti kita bakalan ketemu lagi kok. Jangan nangis, dong…” Rino mengusap air mataku. Tapi tetap saja, pipiku tak bisa kering walau diusap bagaimanapun. Air mataku deras seakan tak bisa berhenti.
Rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin, betapa bodohnya aku, betapa perihnya hatiku. Mulai saat ini, detik ini, aku bertekad untuk melupakan Rino, harus.
*******
“Dor! Nah, ini dia nih pegawai yang tak patut dicontoh. Bukannya kerja malah bengong aja dari tadi.”
“Ih, apaan, sih! Jam kerjaku kan udah abis, ini nunggu hujan reda aja. Kamu tuh yang harusnya kerja, nggak gangguin orang. Hus-hus pergi sana.”
“Ya ya ya, Nyonya Mega. Pulang, gih. Hujannya udah berhenti, tuh.”
“Iya ini juga siap-siap mau pulang. Terima kasih Tuan Arya yang sok tampan, bye!”
Aku keluar dari toko dengan wajah jutek yang kutujukan untuk Arya, pria yang aneh dan misterius, sewaktu-waktu ada dan sewaktu-waktu menghilang. Dia berwajah lugu, namun sangat menyebalkan. Rupanya dia sulit bersosialisasi, buktinya, hanya aku orang yang dia ajak berbicara selama bekerja di toko. Ah sudahlah, memikirkan dia bukanla
h sesuatu yang penting.
Senja dengan langit yang terlihat lega setelah menangis, rerumputan yang masih basah serta bau khas tanah basah mengiringi langkahku menuju kost. Sesampai di kost, ku rebahkan tubuhku dan ku pejamkan mata. Tidak untuk tidur, aku hanya lelah, lelah badan dan pikiran. Lelah mengingat Rino dan semua kenangan tentangnya. Lelah berusaha untuk melupakannya. Lelah mecari jalan keluar dari jebakan rasaku sendiri. Kalung itu masih menggantung di leherku. Apa ini yang menghalangiku? Ku lepaskan kalung itu, ku tatap benda berkilau itu lekat-lekat. Harus ku apakan benda ini? Terlalu sakit untuk didekap namun terlalu sulit untuk dicampakkan.
Adzan maghrib terdengar, menyadarkanku dari segala pikiran tentang Rino. Waktunya bangkit untuk mandi dan menjalankan kewajibanku. Setelah selesai, kurasa ini saatnya untuk mengisi perutku yang sedari tadi memberontak minta diisi.
Saat sedang menikmati makan malamku yang sederhana –dengan nasi, sayur asem, dan tempe goreng- tiba-tiba ponselku berdering tanda ada SMS yang masuk.
Ga, besok mata kuliah Pak Joni kosong, orangnya ke luar kota. Temenin aku nyari buku ya. Bisa kan?

     SMS dari Yuki, temanku sejak SMA yang cerewetnya minta ampun, tapi dia supel dan penyayang. Segera ku balas SMS nya.
Ok siap Ki. Jam 1 ketemuan di taman kampus ya…

     Setelah membalas SMS untuk Yuki, ku non-aktifkan ponselku. Lalu fokus untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang rasanya tidak pernah habis. Setelah selesai, aku pergi tidur. Semoga tidak memimpikan Rino lagi.
*******
            Siang ini terik matahari tak seganas kemarin. Dengan santai ku langkahkan kakiku menuju bangku taman yang kosong tepat di bawah pohon palem yang besar. Jam tanganku masih menunjukkan pukul 12.45, seperti biasanya, aku selalu datang 15 menit sebelum waktu yang dijanjikan. Sembari mendengarkan lagu dari ponselku, aku mengamati sekeliling. Ada muda-mudi yang berjalan bersama kumpulannya, ada yang sedang pacaran, ada yang sedang makan di bawah tiang lampu, dan ada yang menyendiri seperti posisiku saat ini. Sebenarnya aku benci bila disuruh menunggu tanpa ada teman yang bisa kuajak bicara.
            Bunyi klakson mobil menggetkanku dan membuatku menengok pada mobil tersebut. Sepasang muda-mudi turun dari mobil dan salah satu dari mereka adalah Yuki. Tanpa ragu aku menghampiri mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 13.10, aku harus bergegas karena jam 3 sore nanti aku harus bekerja.
            “Hai, Mega! Aduuuh maaf ya udah nunggu lama, macet banget sih. Oh iya kenalin ini cowok aku, namanya Kiki. Ganteng kan? Hehehe”
Dengan cepat ku ulurkan tanganku untuk berjabat tangan, bukan karena antusias, tapi aku buru-buru mengejar waktu.
            “Yaudah, berangkat yuk. Aku juga tau kamu nanti kerja sore, jadi harus cepet. Oh iya, bye, sayang! Nanti nggak usah jemput aku, aku naik angkot aja. Kabarin aku pas kamu lagi dimana, sama siapa, dan ngapain aja. See you, Dear…” Lalu dua sejoli itu berpelukan. Aku paling sebal melihat adegan seperti ini.
            Sesampai di toko buku, aku dan Yuki langsung menjelajahi rak-rak buku.
“Maaf ya, Ga, aku ngerepotin kamu buat nemenin ke toko buku yang jauh gini. Kemarin aku udah nyari di toko tempat kamu kerja, tapi nggak ada.”
            “Iya nggak apa-apa kok, Ki, nyantai aja. Kamu nyari buku Ensiklopedia Peradaban Dunia kan ya? Ini bukan?” Aku menyerahkan sebuah buku tebal bersampul biru.
            “Nah! Iya bener,Ga. Cepet banget nemunya, Ga? Oh iya lupa, maklum sih anak toko buku. Hehehe.”
            “Hahaha apaan, sih. Udah itu doang bukunya?”
            “Iya ini doang. Kamu nggak beli apa-apa?”
            “Enggak, deh.Yuk ke kasir.”
            Setelah mengantri dan membayar di kasir, aku dan Yuki bergegas keluar toko dan menunggu angkutan umum di halte terdekat. Namun ada yang aneh, sejak tadi aku merasa ada yang memperhatikan bahkan menguntit kami diam-diam, entah itu siapa. Dan benar saja, aku melihat sosok penguntit itu di seberang halte. Dia menggunakan pakaian serba hitam bahkan kacamata hitam. Mencurigakan, bukan?
            “Ga, angkotnya udah ada, nih. Ayo naik, bengong mulu dari tadi.”
            Masih dengan rasa penasaran, aku bergegas naik angkutan umum. Setengah jam kemudian, sampai juga di toko buku tempatku bekerja. Aku memasuki toko buku dengan wajah penuh pemikiran, siapa sosok penguntit itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar