Waktu menunjukkan pukul 3 sore, namun hujan belum
juga reda. Lagi-lagi terjebak hujan, pikirku. Sambil menunggu hujan reda, ku
putuskan untuk membaca buku, buku apapun yang ada di toko ini. Dan setelah
menyusuri semua rak buku, pilihanku jatuh pada novel berjudul “Till We Meet
Again”. Judul ini mengingatkanku pada pria berkacamata itu.
*******
“Baca
buku apa, Ga?” Dia mulai menyapaku dengan hiasan lesung pipi dalam senyumnya.
“Eh,
ehmm, aku.. aku baca novel aja, nih. Kok belum pulang, No?” Yah, seperti biasa,
aku selalu grogi di hadapannya.
“Lho,
kamu nggak tau, ya? Di luar kan lagi hujan deras banget. Keasyikan baca, sih..”
Entah
dia berkata apa, aku masih menikmati indah wajahnya. Matanya, aku belum pernah
berhasil untuk memandangnya, entah kenapa terasa begitu sulit. Rino, kapan kamu
bisa peka dan memahami? Tiga tahun sudah aku memendam rasa ini, menyukai,
mengharapkanmu, bahkan berpikir bahwa kamu adalah segalanya buatku. Dan
sebentar lagi kita akan berpisah, lulus dari SMA dan meneruskan perjalanan
untuk menggapai impian kia masing-masing. Kapan kamu bisa mengerti dan
mengukuhkan perasaanku ini? Apakah penantianku selama ini akan sia-sia begitu
saja? Akan hilang seiring guyuran hujan? Rino, Rino…
“Hey!
Kok malah bengong, sih! Udah deh nggak usah mikirin kegantengan aku.” Rino
mengagetkanku, membuyarkan lamunanku.
“Ih,
apaan, sih! Pede banget dikau. Maaf, ya, Anda belum mencukupi level ganteng
buat masuk ke dalam pikiran saya.”
Candaan
ini bukan untuk kali pertama, sudah sangat sering kami bercanda seperti ini,
bahkan seringkali aku mengeluarkan beberapa tanda atau sinyal padanya, tapi
tetap saja, dia tidak pernah peka.
Sejurus
kemudian, dia menatapku, dengan tatapan serius, tidak seperti biasanya. Namun
alangkah bodohnya, kenapa aku masih saja belum bisa membalas tatapannya? Hanya
novel yang berada di tanganku yang bisa aku jadikan pusat pandanganku.
“Mega…”
Suaranya melembut, setengah berbisik. Belum pernah dia selembut ini.
“Ya?
Ada apa?” Tanyaku penuh harap.
“Aku
mau ngomong sesuatu.”
Deg.
Jantungku tak malu-malu memamerkan kerja ekstranya. Harapanku semakin tinggi,
melambung bersama pelangi di langit Malang saat ini. Apapun itu, katakan saja,
Rino. Aku hanya terdiam, mataku mengisyaratkan “Silahkan lanjutkan”.
“Ehmm,
sebentar lagi kan kita akan berpisah, lulus dan berpencar kemana-mana. Terima
kasih ya, selama 3 tahun ini kamu udah mau bersahabat denganku. Dan aku…”
Kalimatnya terputus. Dia melihat sekeliling, dan kini keringatku mulai
berkeliaran, hawa dingin melekat pada tubuhku, mungkin wajahku juga memerah
saat ini.
“Aku mau ngasih ini…”
Dia mengeluarkan benda berkilau. Seuntai kalung dengan bentuk daun semanggi.
Tuhan, bagaimana ini? Rasanya aku ingin berteriak sekeras mungkin, betapa
bahagianya aku.
“Apa maksudnya? Kenapa
kamu ngasih aku kalung?” Aku bertanya dengan suara sedikit bergetar, berlebihan
memang, tapi mau bagaimana lagi? Wajahku mulai panas sepertinya.
“Aku… aku ngasih itu
sebagai tanda. Tanda persahabatan kita. Setelah ini aku akan kuliah di Jakarta.
Kalau kamu kangen aku, lihat aja daun semanggi itu. Semoga kamu beruntung
dengan daun semanggi itu. Dipakai, ya.” Dia tersenyum polos tanpa merasa
berdosa.
Hanya itu? Tak ada
lagi? “Tanda persahabatan” katanya? Lebur sudah harapanku. Jatuh, ambruk dan pecah
berkeping-keping. Entah kamu yang tidak pernah peka atau aku yang terlalu
berharap. Aku tak bisa menahan air mataku.
“Mega? Kamu kok nangis?
Udah, cup-cup, nanti kita bakalan ketemu lagi kok. Jangan nangis, dong…” Rino
mengusap air mataku. Tapi tetap saja, pipiku tak bisa kering walau diusap
bagaimanapun. Air mataku deras seakan tak bisa berhenti.
Rasanya aku ingin
berteriak sekeras mungkin, betapa bodohnya aku, betapa perihnya hatiku. Mulai
saat ini, detik ini, aku bertekad untuk melupakan Rino, harus.
*******
“Dor! Nah, ini dia nih
pegawai yang tak patut dicontoh. Bukannya kerja malah bengong aja dari tadi.”
“Ih, apaan, sih! Jam
kerjaku kan udah abis, ini nunggu hujan reda aja. Kamu tuh yang harusnya kerja,
nggak gangguin orang. Hus-hus pergi sana.”
“Ya ya ya, Nyonya Mega.
Pulang, gih. Hujannya udah berhenti, tuh.”
“Iya ini juga siap-siap
mau pulang. Terima kasih Tuan Arya yang sok tampan, bye!”
Aku keluar dari toko
dengan wajah jutek yang kutujukan untuk Arya, pria yang aneh dan misterius,
sewaktu-waktu ada dan sewaktu-waktu menghilang. Dia berwajah lugu, namun sangat
menyebalkan. Rupanya dia sulit bersosialisasi, buktinya, hanya aku orang yang
dia ajak berbicara selama bekerja di toko. Ah sudahlah, memikirkan dia bukanla
h
sesuatu yang penting.
Senja dengan langit
yang terlihat lega setelah menangis, rerumputan yang masih basah serta bau khas
tanah basah mengiringi langkahku menuju kost. Sesampai di kost, ku rebahkan
tubuhku dan ku pejamkan mata. Tidak untuk tidur, aku hanya lelah, lelah badan
dan pikiran. Lelah mengingat Rino dan semua kenangan tentangnya. Lelah berusaha
untuk melupakannya. Lelah mecari jalan keluar dari jebakan rasaku sendiri.
Kalung itu masih menggantung di leherku. Apa ini yang menghalangiku? Ku
lepaskan kalung itu, ku tatap benda berkilau itu lekat-lekat. Harus ku apakan
benda ini? Terlalu sakit untuk didekap namun terlalu sulit untuk dicampakkan.
Adzan maghrib
terdengar, menyadarkanku dari segala pikiran tentang Rino. Waktunya bangkit
untuk mandi dan menjalankan kewajibanku. Setelah selesai, kurasa ini saatnya
untuk mengisi perutku yang sedari tadi memberontak minta diisi.
Saat sedang menikmati
makan malamku yang sederhana –dengan nasi, sayur asem, dan tempe goreng-
tiba-tiba ponselku berdering tanda ada SMS yang masuk.
|
Ga, besok mata
kuliah Pak Joni kosong, orangnya ke luar kota. Temenin aku nyari buku ya.
Bisa kan?
|
SMS
dari Yuki, temanku sejak SMA yang cerewetnya minta ampun, tapi dia supel dan
penyayang. Segera ku balas SMS nya.
|
Ok siap Ki.
Jam 1 ketemuan di taman kampus ya…
|
Setelah
membalas SMS untuk Yuki, ku non-aktifkan ponselku. Lalu fokus untuk mengerjakan
tugas-tugas kuliah yang rasanya tidak pernah habis. Setelah selesai, aku pergi
tidur. Semoga tidak memimpikan Rino lagi.
*******
Siang
ini terik matahari tak seganas kemarin. Dengan santai ku langkahkan kakiku
menuju bangku taman yang kosong tepat di bawah pohon palem yang besar. Jam
tanganku masih menunjukkan pukul 12.45, seperti biasanya, aku selalu datang 15
menit sebelum waktu yang dijanjikan. Sembari mendengarkan lagu dari ponselku,
aku mengamati sekeliling. Ada muda-mudi yang berjalan bersama kumpulannya, ada
yang sedang pacaran, ada yang sedang makan di bawah tiang lampu, dan ada yang
menyendiri seperti posisiku saat ini. Sebenarnya aku benci bila disuruh menunggu
tanpa ada teman yang bisa kuajak bicara.
Bunyi
klakson mobil menggetkanku dan membuatku menengok pada mobil tersebut. Sepasang
muda-mudi turun dari mobil dan salah satu dari mereka adalah Yuki. Tanpa ragu
aku menghampiri mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 13.10, aku harus bergegas
karena jam 3 sore nanti aku harus bekerja.
“Hai,
Mega! Aduuuh maaf ya udah nunggu lama, macet banget sih. Oh iya kenalin ini
cowok aku, namanya Kiki. Ganteng kan? Hehehe”
Dengan cepat ku ulurkan tanganku untuk berjabat
tangan, bukan karena antusias, tapi aku buru-buru mengejar waktu.
“Yaudah,
berangkat yuk. Aku juga tau kamu nanti kerja sore, jadi harus cepet. Oh iya,
bye, sayang! Nanti nggak usah jemput aku, aku naik angkot aja. Kabarin aku pas
kamu lagi dimana, sama siapa, dan ngapain aja. See you, Dear…” Lalu dua sejoli
itu berpelukan. Aku paling sebal melihat adegan seperti ini.
Sesampai
di toko buku, aku dan Yuki langsung menjelajahi rak-rak buku.
“Maaf ya, Ga, aku
ngerepotin kamu buat nemenin ke toko buku yang jauh gini. Kemarin aku udah
nyari di toko tempat kamu kerja, tapi nggak ada.”
“Iya
nggak apa-apa kok, Ki, nyantai aja. Kamu nyari buku Ensiklopedia Peradaban
Dunia kan ya? Ini bukan?” Aku menyerahkan sebuah buku tebal bersampul biru.
“Nah!
Iya bener,Ga. Cepet banget nemunya, Ga? Oh iya lupa, maklum sih anak toko buku.
Hehehe.”
“Hahaha
apaan, sih. Udah itu doang bukunya?”
“Iya
ini doang. Kamu nggak beli apa-apa?”
“Enggak,
deh.Yuk ke kasir.”
Setelah
mengantri dan membayar di kasir, aku dan Yuki bergegas keluar toko dan menunggu
angkutan umum di halte terdekat. Namun ada yang aneh, sejak tadi aku merasa ada
yang memperhatikan bahkan menguntit kami diam-diam, entah itu siapa. Dan benar
saja, aku melihat sosok penguntit itu di seberang halte. Dia menggunakan pakaian
serba hitam bahkan kacamata hitam. Mencurigakan, bukan?
“Ga,
angkotnya udah ada, nih. Ayo naik, bengong mulu dari tadi.”
Masih
dengan rasa penasaran, aku bergegas naik angkutan umum. Setengah jam kemudian,
sampai juga di toko buku tempatku bekerja. Aku memasuki toko buku dengan wajah penuh pemikiran, siapa sosok penguntit itu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar