Rabu, 22 Juli 2015

Hujan, Tanah, dan Atap (part 4/End)



“Ya? Halo?”

Aku berhenti mendadak, ponselku terjatuh dan jantungku berdebar-debar. Aku harus putar balik.

“Ibu Ristya Ayunda berada di ruang Melati kelas II, silahkan berbelok ke kiri.” Suster itu menunjukkan jalanku untuk bertemu wanita yang paling kucintai, mama.

“Mama.. Ke-kenapa bisa begini?” Aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh.

“Nggak apa kok, mi. Tadi mama ngebut lagi di jalan, terus mama ngeliat Rena, dan mama oleng, jatoh, deh.” Mama mengelus tanganku, menenangkanku.

“Tuh, kan.. Udah Ami bilang jangan ngebut-ngebut, bandel, sih..” Aku mencium tangannya, merasakan tangan dinginnya.

“Ami, mama kangen banget sama Rena, abis ini mama mau nemuin dia, boleh ya?”

“Ih, mama apaan, sih? Rena sama kita beda alam, ma. Mama istirahat dulu, ya. Ami mau urusin administrasinya.”

“Ami.” Mama menahanku, lalu menatapku dalam-dalam.

“Kalo mama udah berangkat buat ketemu Rena, kamu jangan nyariin mama ya. Belajar masak, biar papa sama bang Ramon bisa makan. Jangan sampe putus kuliah. Sampaikan permintaan maaf mama buat Ano dan mamanya, ya. Oiya, seenggaknya seminggu sekali dateng ke atap, kamu bisa deket sama mama dan Rena. Sayang Am—“

Mama menghembuskan napas terakhirnya. Mama berangkat untuk bertemu Rena. Mama meninggalkanku bersama tiga laki-laki yang kadangkala membuatku pusing: Papa, bang Ramon, dan Ano. Aku terkulai lemas, juga terheran bagaimana bisa mama secerewet tadi ketika akan meninggalkanku? Air mataku bahkan lebih deras dari hujan di luar. Mama Ayun, Ami sayang mama.

*******

17 Mei 2015

             Sudah setahun lebih mama meninggalkanku. Setahun ini pula aku selalu ke atap untuk ‘menemui’ mama. Setahun ini pula aku berusaha mencari kabar Ano, untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf mama, tapi nihil, Ano ditelan bumi California.

“Mi, ada e-mail masuk, nih.” Bang Ramon iseng membuka ponselku.

“Ih, tangan nggak bisa diem banget sih, bang! Jangan buka-buka privasi orang, dong!”

“Yaelah gitu doang marah, dah. Ya maaf kali, non.” Bang Ramon langsung pergi begitu saja.

Ku buka e-mail itu, dari sahabatku, Arin. Dia bekerja di California.

“Mi! Aku udah dapet kabar tentang Ano! Kemarin aku ngeliat dia duduk di kafe, masih pake seragam dokter. Dia udah jadi dokter sekarang! Duh, jadi aku yang excited, hehe. Buruan hubungi dia, aku tau nomor telpon rumah sakit tempat dia kerja, ini ya..” Begitu isi e-mail dari Arin.

Aku tidak terlalu yakin, apa Ano masih mencintaiku? Ah, bahkan untuk memikirkanku saja, aku ragu dia melakukannya. Bayangkan, kerja di luar negeri dikelilingi wanita cantik asal California, dan memiliki harta dari pekerjaannya sebagai dokter, yang benar saja! Dia akan melupakan tanah usangnya disini, yang ditinggalkannya 9 tahun yang lalu. Walau dia akan selalu jadi hujanku, aku berpikir bahwa dia telah menemukan tanah yang lain disana.

Ponselku bergetar lagi, tanda ada e-mail baru yang masuk. Pasti dari Arin lagi. Rupanya Arin masih tetap saja bersemangat dengan ketidakpastian ini. Kubuka e-mail yang baru saja masuk.

“Aku akan jatuh ke tanahku, tunggu aku. Besok di kafe biasanya.”

Disitu tertera nama pengirim, bukan Arin, tapi Ano, Galzyndiano Ranobia.

*******

            Senja kelabu masih menemaniku, secangkir kopi telah mendingin. Aku menantinya sore ini, menanti jatuhnya pada tanah usang ini. Tapi entah kenapa, setelah sekian lama menunggu, sekian kali berjuang, dan sekian  kali merindu, aku tetap saja menelan pahitnya keraguan. Entah itu apa, aku masih ragu pada Ano. Bahkan sampai saat ini, dia belum juga datang, apa aku dikerjai?

            Aku mendengarkan radio dari ponselku, memilih channel berita. Heran, beberapa hari ini banyak sekali pemberitaan tentang narkoba, juga pembunuhan. Berita beralih ke topik kecelakaan. Pesawat R303 milik Amerika Serikat hilang kontak setelah diterjang hujan deras, diperkirakan pesawat jatuh ke laut sekitar kepulauan Hawai, semua tim SAR berupaya untuk menemukan pesawat beserta seluruh penumpangnya. Tuhan, mengerikan sekali jika aku berada di pesawat itu.

            Aku membuka ponselku yang sedari tadi kubiarkan, membaca seluruh e-mail yang masuk. Ada e-mail dari Ano, dikirim 4 jam yang lalu.

“Maaf, mi. Hari ini awan belum kelihatan mendung, jadi hujan belum bisa jatuh ke tanah. Apa tanah bisa menemui hujan duluan? Hujan tetep kangen sama tanah, Ano sayang Ami.”

            Apa sih maksudnya Ano? Bilang saja kalau e-mail kemarin salah kirim, bukan untuk tanah usang disini, tapi tanah segar disana. Aku pulang dengan hati dipenuhi kekesalan. Ano bukan hujan yang menentramkanku seperti dulu, dia sudah menjadi hujan asam yang menyebalkan dan merusak hatiku.

*******

            Aku terduduk di atap. Gerimis mulai turun. Pesan dari Ano kemarin, adalah pesan cinta dan rindu yang terakhir, sebelum kami bertemu, sebelum kami menyatu kembali. Hujan tidak akan pernah jatuh lagi ke tanah, sudah saatnya kemarau yang datang mengoyak jiwa. Baru saja, Arin mengirimiku pesan bahwa Ano hilang dalam kecelakaan pesawat itu. Tanah sudah melebur bersama gerimis, Ano. Malam ini, di atap ini, aku menemui mama, Rena, dan Ano. Aku hampir saja meraih tangan mereka, tapi gagal, karena itu hanyalah ilusi.

            Aku berjalan perlahan dengan seuntai kalung bintang yang kukenakan, dan kugunakan payung lipat dari Ano. Aku berjalan menuju tepi atap ini, mengabulkan pesan dari Ano. “Apa tanah bisa menemui hujan duluan?”. Bisa, Ano. Aku akan menemuimu.


            Seketika semua gelap.
            Dan aku melihat bang Ramon di atap, wajahnya murung sekali.
            Kami melihat bang Ramon. Kami: Aku, mama, Rena, dan Ano.
            Kami semua melihatnya.
            Dari sini, di sekeliling bintang-bintang.

--END--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar