Selasa, 21 Juli 2015

Hujan, Tanah, dan Atap (part 2)



Aku menaiki bis ke sekolah, duduk di bangku urutan ketiga dari belakang bersama seorang laki-laki yang memakai jaket hitam. Sebentar lagi aku akan turun, aku menyiapkan uang untuk membayar. Kulihat lelaki di sampingku agak ‘ribet’ seperti mencari-cari sesuatu.

“Mbak, misi ya, saya boleh pinjem uangnya dulu? Uang saya hilang deh kayaknya.” Wajahnya memelas bercampur malu. Dalam hati sebenarnya aku malas bertemu dan berbincang dengan lelaki tidak dikenal, meminjamkan uang untuknya pula. Ya ampun.

“Iya saya bayarin dulu. Balikinnya kapan? Kan tadi bilangnya minjem.”

“Nanti ya diomongin pas udah turun.”

Lalu kami turun dan berjalan bersebelahan. Namun ketika kutanya soal bayar hutang, dia malah berlari.

“Makasih ya Mbak! Ikhlasin aja duitnyaaa!!”

Eh dasar. Maksudku bukan benar-benar untuk menagih hutangnya, aku hanya ingin berkenalan dengannya, dia sungguh menarik.

*******                                     
                          
            Setelah upacara, aku memasuki ruang kelasku, kelas 2-A. Bel tanda pelajaran dimulai berbunyi, namun bangku di sebelahku masih kosong, apa mungkin teman sebangku ku tidak masuk? Ah, hari pertama sekolah yang mengecewakan.

            Dua puluh menit sudah guru Sejarah ku ‘berceramah’ di depan, membosankan. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas dan masuk.

“Maaf, Pak. Saya terlambat.” Lelaki itu terlihat kacau sekali, dengan sepatu yang terlihat kotor, rambut berantakan, dan jaket hitam yang ‘melorot’.

“Kamu ini.. Jangan dibiasakan. Berhubung ini hari pertama sekolah, kamu saya maafkan. Cepat duduk!”
 Lelaki itu menuju bangku di sampingku dengan wajah cengengesan. Oh tidak, apa ini teman sebangku ku?
“Hai, temen baru. Maaf terlambat, hehe.” Dia cengengesan lagi.

“Eh, ehm, iya, hai.” Benar saja, orang seperti ini adalah teman sebangku ku. Tunggu dulu, dia yang punya hutang itu, kan?

“Btw, bayar dong utangmu.” Aku tersenyum jahil.

“Utang? Kita kan baru ketem–“ Belum selesai bicara, wajahnya langsung menjadi merah padam ketika melihat wajahku.

“Kenapa? Nggak mau bayar, ya?”

“Hehehe, besok ya, Kamila.” Dia menggaruk kepalanya dan memalingkan wajahnya.

“Ami, panggil Ami. Kamila itu kepanjangan, lihat di seragamku, ya? Kamu itu Galz.. Galzy.. Galzyi.. Duh, susah banget sih namanya.” Aku kesulitan membaca nama yang tertera di seragamnya.

“Namaku Galzyndiano Ranobia. Panggil aja Ano.” Dia tersenyum lebar, seakan bangga dengan nama anehnya itu.

*******

26 Desember 2004

            Pulang sekolah hari ini aku bersiap-siap untuk mengajak Ano bertemu dengan orang tua serta abangku. Iya, Kawan, aku resmi berpacaran dengan Ano, sungguh cepat, ya? Semenjak hari pertama berkenalan, kami mulai saling tertarik. Hari demi hari menjadi bulan demi bulan, pada hari ulang tahunku di tanggal 3 September, dia memberiku hadiah yang spesial, dia ‘menembakku’. Mungkin caranya tidak seromantis drama-drama korea, tapi tetap membuatku terkenang. Dan hari ini dia bersikeras untuk menemui keluargaku. Pertemuan pertama, jadi mungkin akan sedikit canggung dan gugup, pikirku.

Aku mengetuk pintu dan mengajak Ano masuk ke dalam, kupersilahkan dia untuk duduk di ruang tamu, sementara aku memanggilkan orang tua serta abangku.

“Pa, Ma, kenalin, ini Ano..”

“Selamat siang Om, Tante.” Ano bersalaman dengan orang tuaku, dia tidak terlihat gugup sama sekali.
“Oh iya, Ano rumahnya dimana?” Mamaku bersikap ramah seperti biasanya.

“Di komplek Graha Kirana, te. Lengkapnya di blok J sampingnya portal sama pohon pete, hehe.” Ano tampak seperti biasanya, cengengesan. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu cara bersikap di hadapan orang tua pacarnya.

            Anehnya, senyum ramah mama memudar begitu saja, dan aku bisa melihat sorot matanya menjadi sangat khawatir bercampur marah. Apa Ano salah bicara?

“Ka-kamu anak dari dokter Bella Ranobia?” Mamaku menjadi sangat aneh.

“Iya, tante. Tante kenal mama saya, ya?”

“Hah! Bukan sekedar kenal lagi. Mamamu adalah wanita jahat yang sudah membunuh anakku! Asal kamu tau, dulu kami punya anak perempuan seusia Ami, namanya Rena. Ketika berusia 8 tahun, Rena ditabrak oleh mobil yang dikemudikan mamamu, ya, mamamu mabuk. Anakku mati di tempat, mati! Aku nggak akan pernah memaafkan wanita brengsek seperti mamamu! Dan mulai sekarang, kamu nggak boleh berhubungan dengan Ami lagi! Sekarang, silahkan pulang dan jangan berhadapan dengan kami lagi!” Mama mengeluarkan semua kalimat itu dengan suara bergetar, air matanya mengalirkan setumpuk amarah dan kesedihan, serta dendam. Ano dipaksa keluar oleh mama, papa hanya diam tidak berkata atau berbuat apapun. Aku diam mematung, tidak menangis sedikitpun. Apa ini sebuah drama TV? Kenapa sangat tidak masuk akal bagiku?

*******

31 Desember 2005

            Setahun sudah aku berjuang untuk membuat mama mengerti, bahwa aku dan Ano tidak bisa saling membenci. Mungkin tedengar kekanakan, tapi inilah nyatanya. Cinta kami terhalang restu, aku benci kalimat ini. Tapi walau sekeras apapun usaha mama untuk menjauhkan kami karena rasa dendam terhadap masa lalunya, kami tetap menjalin hubungan, walaupun itu bukan berpacaran, kami masih tetap saling cinta. Malam ini malam tahun baru, aku pergi ke atap, menemui mama.

“Ma, malem tahun baru kok disini aja, nggak bosen? Yuk keluar.”

“Nggak, mi. Mama lebih seneng disini. Tuh, lihat. Banyak bintang di malem tahun baru ini, tapi mereka sebentar lagi akan hilang diusir ribuan kembang api.” Mamaku pecinta bintang, entah kenapa dia sangat tergila-gila dengan batu bersinar itu.

“Yah.. Padahal papa sama bang Ramon udah nunggu di bawah buat jalan-jalan keluar. Ayo, ma. Kenapa sih betah banget di atap, huft.”
 
“Ami, kamu sama papa dan bang Ramon pergi aja, mama tetep disini. Kamu tahu? Atap adalah tempat mama menyendiri, menikmati—“

“Menikmati keindahan ciptaan Tuhan, bintang. Ia adalah benda kecil yang memiliki sinar sendiri, tidak seperti bulan. Ketika mama berada di atap, mama akan lebih dekat dengan mereka, dan akan lebih dekat juga dengan Rena, Renata Bintang Cahyanias, anakku.. Karena itu, mama juga menyukai atap. Right?” Aku memotong ucapan mama. Mama menatapku penuh tanya.

“Kenapa kamu tau lanjutannya?”

“Ratusan kali mama ngomong kayak gitu setiap aku tanya kenapa mama suka sama atap, gimana bisa aku lupa? Hapal banget aku mah..” Aku mencubit pipi mama, dan kami tertawa bersama.

“Rena, tunggu dulu sebentar.” Mama menahanku sebelum aku turun untuk menemui papa.

“Sekolahmu tinggal satu semester, berarti setelah ini kamu kuliah. Kamu jangan satu kampus sama Ano, ya? Cari tempat kuliah yang lain, yang jauh dari Ano.”

“Mama..” Aku tidak mau jauh dari Ano, bagaimana bisa mama tetap ‘keukeuh’ setelah satu tahun terlewati?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar