Aku menaiki
bis ke sekolah, duduk di bangku urutan ketiga dari belakang bersama seorang
laki-laki yang memakai jaket hitam. Sebentar lagi aku akan turun, aku
menyiapkan uang untuk membayar. Kulihat lelaki di sampingku agak ‘ribet’
seperti mencari-cari sesuatu.
“Mbak, misi
ya, saya boleh pinjem uangnya dulu? Uang saya hilang deh kayaknya.” Wajahnya
memelas bercampur malu. Dalam hati sebenarnya aku malas bertemu dan berbincang
dengan lelaki tidak dikenal, meminjamkan uang untuknya pula. Ya ampun.
“Iya saya
bayarin dulu. Balikinnya kapan? Kan tadi bilangnya minjem.”
“Nanti ya
diomongin pas udah turun.”
Lalu kami turun dan berjalan bersebelahan. Namun ketika
kutanya soal bayar hutang, dia malah berlari.
“Makasih ya
Mbak! Ikhlasin aja duitnyaaa!!”
Eh dasar. Maksudku bukan benar-benar untuk menagih hutangnya,
aku hanya ingin berkenalan dengannya, dia sungguh menarik.
*******
Setelah upacara, aku memasuki ruang
kelasku, kelas 2-A. Bel tanda pelajaran dimulai berbunyi, namun bangku di
sebelahku masih kosong, apa mungkin teman sebangku ku tidak masuk? Ah, hari
pertama sekolah yang mengecewakan.
Dua puluh menit sudah guru Sejarah
ku ‘berceramah’ di depan, membosankan. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas
dan masuk.
“Maaf, Pak.
Saya terlambat.” Lelaki itu terlihat kacau sekali, dengan sepatu yang terlihat
kotor, rambut berantakan, dan jaket hitam yang ‘melorot’.
“Kamu ini..
Jangan dibiasakan. Berhubung ini hari pertama sekolah, kamu saya maafkan. Cepat
duduk!”
Lelaki itu menuju bangku di sampingku dengan
wajah cengengesan. Oh tidak, apa ini teman sebangku ku?
“Hai, temen
baru. Maaf terlambat, hehe.” Dia cengengesan lagi.
“Eh, ehm,
iya, hai.” Benar saja, orang seperti ini adalah teman sebangku ku. Tunggu dulu,
dia yang punya hutang itu, kan?
“Btw, bayar
dong utangmu.” Aku tersenyum jahil.
“Utang? Kita
kan baru ketem–“ Belum selesai bicara, wajahnya langsung menjadi merah padam
ketika melihat wajahku.
“Kenapa?
Nggak mau bayar, ya?”
“Hehehe,
besok ya, Kamila.” Dia menggaruk kepalanya dan memalingkan wajahnya.
“Ami,
panggil Ami. Kamila itu kepanjangan, lihat di seragamku, ya? Kamu itu Galz..
Galzy.. Galzyi.. Duh, susah banget sih namanya.” Aku kesulitan membaca nama
yang tertera di seragamnya.
“Namaku
Galzyndiano Ranobia. Panggil aja Ano.” Dia tersenyum lebar, seakan bangga
dengan nama anehnya itu.
*******
26 Desember
2004
Pulang sekolah hari ini aku
bersiap-siap untuk mengajak Ano bertemu dengan orang tua serta abangku. Iya,
Kawan, aku resmi berpacaran dengan Ano, sungguh cepat, ya? Semenjak hari
pertama berkenalan, kami mulai saling tertarik. Hari demi hari menjadi bulan
demi bulan, pada hari ulang tahunku di tanggal 3 September, dia memberiku
hadiah yang spesial, dia ‘menembakku’. Mungkin caranya tidak seromantis
drama-drama korea, tapi tetap membuatku terkenang. Dan hari ini dia bersikeras
untuk menemui keluargaku. Pertemuan pertama, jadi mungkin akan sedikit canggung
dan gugup, pikirku.
Aku mengetuk pintu dan mengajak Ano masuk ke dalam,
kupersilahkan dia untuk duduk di ruang tamu, sementara aku memanggilkan orang
tua serta abangku.
“Pa, Ma,
kenalin, ini Ano..”
“Selamat
siang Om, Tante.” Ano bersalaman dengan orang tuaku, dia tidak terlihat gugup
sama sekali.
“Oh iya, Ano
rumahnya dimana?” Mamaku bersikap ramah seperti biasanya.
“Di komplek
Graha Kirana, te. Lengkapnya di blok J sampingnya portal sama pohon pete, hehe.”
Ano tampak seperti biasanya, cengengesan. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu
cara bersikap di hadapan orang tua pacarnya.
Anehnya, senyum ramah mama memudar
begitu saja, dan aku bisa melihat sorot matanya menjadi sangat khawatir
bercampur marah. Apa Ano salah bicara?
“Ka-kamu
anak dari dokter Bella Ranobia?” Mamaku menjadi sangat aneh.
“Iya, tante.
Tante kenal mama saya, ya?”
“Hah! Bukan
sekedar kenal lagi. Mamamu adalah wanita jahat yang sudah membunuh anakku! Asal
kamu tau, dulu kami punya anak perempuan seusia Ami, namanya Rena. Ketika
berusia 8 tahun, Rena ditabrak oleh mobil yang dikemudikan mamamu, ya, mamamu
mabuk. Anakku mati di tempat, mati! Aku nggak akan pernah memaafkan wanita
brengsek seperti mamamu! Dan mulai sekarang, kamu nggak boleh berhubungan
dengan Ami lagi! Sekarang, silahkan pulang dan jangan berhadapan dengan kami
lagi!” Mama mengeluarkan semua kalimat itu dengan suara bergetar, air matanya
mengalirkan setumpuk amarah dan kesedihan, serta dendam. Ano dipaksa keluar
oleh mama, papa hanya diam tidak berkata atau berbuat apapun. Aku diam
mematung, tidak menangis sedikitpun. Apa ini sebuah drama TV? Kenapa sangat
tidak masuk akal bagiku?
*******
31 Desember
2005
Setahun
sudah aku berjuang untuk membuat mama mengerti, bahwa aku dan Ano tidak bisa
saling membenci. Mungkin tedengar kekanakan, tapi inilah nyatanya. Cinta kami
terhalang restu, aku benci kalimat ini. Tapi walau sekeras apapun usaha mama
untuk menjauhkan kami karena rasa dendam terhadap masa lalunya, kami tetap
menjalin hubungan, walaupun itu bukan berpacaran, kami masih tetap saling
cinta. Malam ini malam tahun baru, aku pergi ke atap, menemui mama.
“Ma, malem
tahun baru kok disini aja, nggak bosen? Yuk keluar.”
“Nggak, mi.
Mama lebih seneng disini. Tuh, lihat. Banyak bintang di malem tahun baru ini,
tapi mereka sebentar lagi akan hilang diusir ribuan kembang api.” Mamaku
pecinta bintang, entah kenapa dia sangat tergila-gila dengan batu bersinar itu.
“Yah.. Padahal
papa sama bang Ramon udah nunggu di bawah buat jalan-jalan keluar. Ayo, ma.
Kenapa sih betah banget di atap, huft.”
“Ami, kamu
sama papa dan bang Ramon pergi aja, mama tetep disini. Kamu tahu? Atap adalah
tempat mama menyendiri, menikmati—“
“Menikmati
keindahan ciptaan Tuhan, bintang. Ia adalah benda kecil yang memiliki sinar
sendiri, tidak seperti bulan. Ketika mama berada di atap, mama akan lebih dekat
dengan mereka, dan akan lebih dekat juga dengan Rena, Renata Bintang Cahyanias,
anakku.. Karena itu, mama juga menyukai atap. Right?” Aku memotong ucapan mama.
Mama menatapku penuh tanya.
“Kenapa kamu
tau lanjutannya?”
“Ratusan
kali mama ngomong kayak gitu setiap aku tanya kenapa mama suka sama atap,
gimana bisa aku lupa? Hapal banget aku mah..” Aku mencubit pipi mama, dan kami
tertawa bersama.
“Rena,
tunggu dulu sebentar.” Mama menahanku sebelum aku turun untuk menemui papa.
“Sekolahmu
tinggal satu semester, berarti setelah ini kamu kuliah. Kamu jangan satu kampus
sama Ano, ya? Cari tempat kuliah yang lain, yang jauh dari Ano.”
“Mama..” Aku
tidak mau jauh dari Ano, bagaimana bisa mama tetap ‘keukeuh’ setelah satu tahun
terlewati?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar