Memasak memang terlihat baik untuk
perempuan, tapi tidak untukku. Yah, entah kenapa, memasak nasi pun aku tak
bisa. Rok? Benda terkutuk yang menyulitkanku ketika berjalan, tak pernah ada di
lemariku. Kata ibuku, dari kecil aku lebih suka bermain kelereng bersama teman
laki-laki dari pada masak-masakan di rumah. Aku lebih senang memakai celana
jeans untuk pergi ke pesta ulang tahun dari pada harus memakai dress.
Sebenarnya aku ini apa? Lelaki atau perempuan? Huh. Pertanyaan yang
menjengkelkan dari mulut teman-temanku.
*******
“Ta, lo
besok bisa ikut nggak?” Mela tiba-tiba saja muncul membuyarkan lamunanku.
“Ih ngagetin
mulu lo kerjaannya. Ikut kemana?” Aku membalikkan badan untuk menghadap lurus
ke arah Mela.
“Lo pasti
nggak buka SMS gue, ya kan? Duh, Genta sayang.. Besok gue bikin pajama’s party,
lo ikut, ya? Gue tunggu jam 8 malem.”
“Yah, gue
nggak bisa, Mel. Besok gue ada janji sama abang gue.”
“Yaelah,
janjian mulu lo kayak orang pacaran, janji apaan, sih? Segitu pentingnya ya
sampe nggak bisa ikutan acara sahabatnya?” Wajah Mela berubah dari antusias
menjadi cemberut.
“Biasa, Mel.
Gue janjian nonton bola bareng besok, gue taruhan sama abang gue. Yang kalah
harus mecahin semangka yang dibeli mbok Minem, pake kepala. Hahaha.” Aku
tertawa sendiri di hadapan Mela yang cemberut dari tadi. Sudah dapat
kubayangkan betapa sakitnya kepala abangku ketika memecahkan semangka-semangka
itu.
“Duh,
Gentaaa! Lo kapan sih mau jadi cewek? Maenan lo sama abang lo tuh ‘enggak
banget’. Iwh..”
“Eh, non.
Kan lo tau sendiri kalo gue nggak suka sama acara-acara gaya lo. Apalagi
pajama’s party, itu ngegossip sampe malem, ngomongin cowok-cowok, ngobrolin
barang-barang yang lagi diskon, gitu kan? Ih males banget gue, repot!” Kali ini
aku yang cerewet menanggapi sahabatku ini.
“Itu wajar,
Ta. Cewek emang begitu, elonya aja yang nggak normal. Ayolah ikut gue aja, gue
ajarin cara jadi cewek tulen kayak gue, pelan-pelan, kok.” Mela memegang
tanganku, sepertinya rasa kasihannya terhadap karakterku muncul lagi.
“Ih, lo
ngapain sih megang-megang tangan segala? Geli tau. Gini ya, kita emang sahabat,
Mel. Tapi bukan berarti kita harus sama, kan? Lo itu cewek tulen yang
fashionable banget, cantik, banyak cowok yang ngelirik lo. Pertahanin aja gaya
lo sendiri. Gue juga pertahanin gaya gue sendiri. Okay, sista? Gue cabut dulu,
laper..” Aku mengambil ranselku dan keluar untuk mencari makan siang. Mela
hanya berdiri, diam. Mungkin dia mulai menyerah untuk membujukku.
*******
Malam ini pertandingan bola akan
dimulai. Ada dua botol minuman ringan, dua bungkus popcorn, sepiring pizza, dan
tentu saja, dua buah semangka besar. Aku tidak sabar merekam video abangku
ketika dia memecahkan semangka-semangka itu.
“Yak! Maju
terus! Oper kiri! Yak! Goooaaaal!! Wuhuuuu!” Aku berlari-lari mengelilingi
abangku yang ketar-ketir dengan kepalanya.
“Duh berisik
banget sih lo! Duduk. Baru juga 2-1, masih ada 20 menit lagi woy.” Abangku
menenangkan dirinya sendiri rupanya, padahal dia tahu, bagaimana nasib
kepalanya 20 menit ke depan.
Pertandingan telah selesai. Kami menyiapkan
dua semangka itu, menempatkan serbet besar agar tidak mengotori ruangan, dan
juga menyiapkan sekantung es batu untuk menyegarkan sang kepala yang malang.
“Ayo!
Pecahin tuh semangka pertama! Semangat ya, Sayang… Hehehe.”
“Ish, rame
lo. Lihat ya, gue bisa mecahin dalam sekali pukul.” Aku memperhatikan semangka
itu. Ya, Kawan. Abangku yang menang. Tuhan, kuatkanlah kepalaku, sekuat omelan
ibu pada tiap harinya.
Brak!
Pukulan pertama, belum berhasil.
Dug! Pukulan
kedua, masih gagal. Kali ini harus berhasil, kepalaku mulai berkedut.
Prak! Krek!
Berhasil! Walau hanya retakan kecil, setidaknya itu sudah bisa dikatakan pecah.
Yess!
“Boleh, lah.
Lumayan juga kepala lo, haha. Sekarang yang kedua, fighting!” Abangku makin
menyebalkan saja, dia malah enak-enakan memakan sepiring pizza, sambil menonton
aksi debusku tentunya.
Untuk buah yang kedua ini, aku harus
berhasil memecahkannya dalam sekali pukul, penglihatanku sudah mulai tidak
fokus.
Brakk!
Gelap. Semua gelap.
*******
“Genta! Lo
gila, ya? Lihat, kan, mending kemarin lo ikut gue, kepala lo nggak bakal
diperban kayak gini pastinya. Bandel sih lo!” Ya ya ya, si cerewet Mela mulai
menyemprotku, aku hanya mengangguk-angguk saja.
“Bawel lo!
Gue nggak apa-apa, Mel. Lihat, gue masih bisa jalan ke kampus gini, kan? Udah,
ah. Gue mau cabut dulu.”
“Eh, mau
kemana lo? Pulang? Sini gue anterin.”
“Duilee, sok
perhatian banget lo. Nggak, gue mau ke lapangan basket. Mau maen sama anak
kampus sebelah. Bye!”
Sementara aku berjalan dan melepas perban di kepalaku, aku
masih mendengar teriakan Mela. Dia masih saja meneriakiku “gila, bocah gila”.
*******
Matahari mulai tenggelam, aku masih
di tribun bersama lelaki ini. Lelaki yang melemparkan bola basket padaku,
menghajar kepalaku. Aku ingin pulang, tapi, kenapa dia diam saja sedari tadi?
Tidak mengeluarkan kata ‘pulang’, ’cabut’, atau apalah itu sejenisnya.
“Gue minta
maaf, ya. Tadi nggak sengaja.”
“Lo tau
nggak? Udah seribu kali lo minta maaf dari tadi, udah sejam! Lebay banget sih
lo. Gue maafin, kok.”
“Tapi, muka
lo kayak kesel banget, pasti belom maafin gue.”
“Lo tuh
nyebelin ya, muka gue emang gini dari sananya, jangan ngejek deh. Udah, ah. Gue
mau pulang. Lama nungguin lo pamit duluan.”
“Oh, jadi
dari tadi lo pengen pulang? Bilang dong. Ayo, gue anterin.”
Kami pulang menaiki motor miliknya.
Namanya Nanda, lebih mirip nama perempuan, ya? Dia dari kampus sebelah,
fakultas kedokteran. Setelah 20 menit menuju rumahku, kami sampai juga.
“Makasih.
Lain kali hati-hati kalo ngelempar bola. Pulang sana.”
“Yaelah,
nggak ditawarin mampir dulu, non? Galak amat.”
“Yee, masih
mending lo udah gue maafin. Mau ini? Hah?” Aku mengepalkan tinjuku, bersiap
untuk memukulnya.
“Ampun,
ampun. Iya gue pulang. Dah..”
*******
Malam ini aku tidak bisa tidur,
kepalaku masih berkedut. Tapi menurutku, bukan hanya itu penyebabnya. Aku
memikirkan Nanda, lelaki sialan itu. Oh my God, kenapa aku harus memikirkan
laki-laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu? Dan sialnya lagi, dia
mengirimiku sebuah pesan singkat, “Good night, Genta. Cepet sembuh, ya..”.
Padahal hanya pesan biasa, padahal sudah banyak lelaki yang kukenal dan cukup
dekat denganku, tetapi kenapa semendebarkan ini jika memikirkan Nanda?
Ponselku berdering, Mela menelponku.
“Genta! Lo
udah pulang?”
“Udah,
kenapa sih nelpon jam segini? Mau tidur gue!”
“Gue
khawatir sama lo, bego. Besok temuin gue di kantin, ada yang mau gue omongin.
Oke?”
“Iya-iya,
sok penting banget lo. Gue tidur dulu, bye!”
Telpon terputus. Mataku masih terang benderang. Nanda sialan!
*******
“Genta!
Cepetan! Lama banget, sih..”
“Bentar
napa!” Aku berlari menghampiri Mela yang sepertinya sudah menunggu lama di
bangku kantin.
“Nih ya, to
the point aja. Ada yang suka sama lo, Ta! Suka! Ya ampun gue seneng banget
akhirnya ada juga cowok yang suke sama cewek kayak lo. Nih lihat..” Mela
menyodorkan ponselnya.
“Apaan, sih?
Lo salah makan, Mel? Ini apaan kok gue disuruh ngeliatin instagram lo?”
“Ih, lemot
pikiran lo. Itu lihat, ada foto lo di akun cowok, lihat deh captionnya.”
Aku melihat foto yang ditunjukkan
Mela. Terlihat seseorang memakai kaos merah, skinny jeans, sneaker hitam, dan
berambut sebahu. Tapi terlihat dari belakang, tidak tampak wajahnya, dia berada
diantara banyak orang. Captionnya bertuliskan “Wanita berparas indah, aku
mengikutimu dari belakang, aku melindungimu dari sini, memuja karakter dari
dirimu. Love, forG.”. Caption yang aneh, pikirku.
“Ih, bukan
gue ini mah. Lo baper banget, Mel. Gue kira ada hal yang penting gitu. Gue
cabut ah.” Aku beranjak dari kursiku.
“Genta! Lo
lihat baik-baik, ini baju yang lo pake kemaren sore, kan? Gue masih inget.
Lihat tuh, inisialnya G. Jangan-jangan, lo emang kencan sama cowok ya kemaren?
Ngaku lo! Anak mana? Akhirnyaa lo jadi cewek tulen, Ta. Gue mau syukuran abis
ini.” Mela menggodaku, mencolek lenganku. Aku melihat foto itu sekali lagi.
Sial, itu memang aku. Tapi, apa lelaki yang memposting foto ini benar-benar
ingin menunjukkan sosokku? Kulihat nama akun lelaki ini, Fernandariga. Astaga,
apa ini Nanda?
“Apaan, sih!
Lebay banget lo. Lo kan tau sendiri gue nggak pernah pacaran. Lagian jangan
baper dulu, jangan kegeeran dulu. Logika lah, inisial G banyak, bukan gue
doang. Udah, gue cabut, nggak penting banget.” Aku bangkit dari kursiku dan
meninggalkan Mela yang masih memperhatikan foto di akun instagram lelaki itu. Sementara
itu, hatiku makin berdebar saja. Jangan baper, Ta. Jangan ge’er.
*******
Aku menunggu bis di halte depan
kampus. Sore ini bis seperti punah, tak ada satu pun yang lewat sedari tadi.
Tiba-tiba ada lelaki yang menghentikan motornya di depanku, dia Nanda.
“Sendirian
aja, cewek? Yuk, pulang bareng abang. Hehehe.” Dia mengerlingkan matanya,
candaannya tidak lucu bagiku, tapi di dalam dada ini, tiba-tiba saja berdebar.
“Sok manis
lo. Gue bisa pulang sendiri.”
“Genta, lo
masih ngarep ada bis yang lewat jam segini? Mereka hari ini libur, pada demo di
Senayan. Sini naik, mumpung gue belom berubah pikiran.” Nanda mengelus-elus jok
belakangnya, seakan jok itu akan diduduki oleh ratu. Berlebihan.
“Yaudahlah.
Langsung pulang ke rumah gue, cepet!” Akhirnya, kunaiki motornya. Mau bagaimana
lagi.
Jalan ke rumahku harusnya berbelok
ke kanan, kenapa dia masih lurus? Apa dia lupa jalan menuju rumahku? Dia
berhenti di depan restoran fast food, menyuruhku turun dan menggandeng
tanganku, mengajakku masuk ke dalam restoran itu.
“Mbak, pesen
curry beef burger dua, lasagna besar satu, sama ice mocca dua, ya.” Nanda
memesan makanan untuk kami. Aku masih kebingungan, bercampur kesal tentunya.
“Nanda,
apa-apaan, sih? Gue kan mau pulang, bukan mau makan! Seenaknya aja bawa gue kesini.”
Aku memasang wajah jutek. Ini menjengkelkan, tapi di hati kecilku, ada ledakan
kecil disana. Ya, aku sungguh senang.
“Anggap aja
ini ‘dinner permintaan maaf’ dari gue. Ayolah, lo jangan jutek-jutek banget ke
gue. Siapa tau besok-besok bukan ‘dinner permintaan maaf’ lagi, hehe.”
Aku hanya diam. Lelaki ini telah
menculikku ke restoran fast food, juga mencuri hatiku ke hatinya. Tadi dia
menggandeng tanganku, kenapa? Dan juga, apa maksud dari kalimat “Siapa tau
besok-besok bukan ‘dinner permintaan maaf’ lagi”? Oh, jangan-jangan…
*******
“Genta
Galista, lo ini kenapa? Jatuh cinta? Bertemu pangeran berkuda? Kenapa lo baper
dan ge’er banget? Jangan yakin banget Cuma gara-gara kata ‘forG’..”
“Ta, kurang
tanda apa lagi coba? Itu udah jelas banget kalo Nanda suka sama lo. Itu bukan
baper yang sia-sia kok, baper lo itu bener..”
“Genta,
logika deh, nama berinisial G itu banyak, nggak Cuma lo doang. Lo kenapa sih
baper banget? Biasanya juga nyantai gitu dirangkul sama cowok-cowok temen lo
itu..”
“Ta, logika
deh, mana ada sih cowok yang ngirimin ucapan ‘good night’, ngasih kode ‘forG’
yang jelas-jelas itu buat lo, mau ditebengin pulang pas nggak ada bis, dan
ngajak dinner bareng, kalo tuh cowok nggak suka sama lo? Mana ada?”
“Genta! Ayo
turun! Makan malem udah ada nih!” Ibu menyadarkanku dari pergolakan batinku.
Aku bingung, harus percaya pada ucapan batin yang mana. Tapi, kurasa 80 persen
aku berada di kubu sang batin ‘nanda-emang-suka-sama-lo’. Oke, namanya sangat
dipaksakan. Kurasa 80 persen aku meyakini kalau Nanda menyukaiku.
*******
“Ta, maen
basket yuk, gue tunggu di lapangan. Cepetan!” Pesan singkat dari Nanda. Tunggu
apa lagi? Aku segera berangkat.
Aku pergi menuju lapangan dengan
setengah berlari. Setelah sampai, kuletakkan tasku di samping tas Nanda. Tunggu,
resleting tas Nanda terbuka, dan di dalamnya terlihat beberapa kuntum bunga
mawar. Oh, kenapa aku begitu gugup?
“Ta! Sini
cepetan! Temen-temen udah nunggu.” Nanda memanggilku dan tersenyum sangat manis
kepadaku.
“Oke!”
Langsung saja kami mulai permainannya.
Setelah lelah bermain basket, aku
dan Nanda membersihkan diri dan menuju restoran untuk dinner. Kali ini dia
mengajakku ke sebuah resto yang cukup romantis. Oh, apa ini pertanda?
“Sorry ya,
Ta. Restonya bukan ‘lo banget’ ya? Gue suka kesini karena ini resto favorit
mama gue.”
“Nggak
apa-apa kok, gue mah nyantai aja, resto apa aja asal ada yang bisa dimakan.
Hehehe.”
“Hahaha bisa
aja lo, Ta. Oh iya, ada yang mau gue tanyain.”
“Tanya aja
kali, serius amat lo.” Aku mulai harap-harap cemas. Jangan sampai wajahku
memerah.
“Tapi gue
agak malu, Ta.” Nanda terlihat agak ragu. Come on, boy.
“Hmm, lo
punya insta, kan? Lo udah lihat foto yang gue posting terakhir belom?”
“Udah, yang
foto cewek diantara banyak orang itu, kan?”
“Iya, yang
aku kasih caption ‘forG’. Syukur deh kalo lo udah tau, gue nggak perlu
ngejelasin panjang-panjang lagi.”
“Apaan sih
maksudnya?” Yak, Genta mulai ketar-ketir, Bung.
“Itu inisial
cewek dalam foto itu, gue udah lama banget naksir sama cewek itu, Ta. Menurut
lo gimana?” Jedug. Ada yang memberontak keluar dari dadaku, jantungku berdetak
secara berlebihan. Aku hanya terdiam. Speechless.
“Ta? Kok
diem? Cewek itu cantik, kan?” Nanda masih bermain tebak-tebakan, tapi sangat
buruk, sudah dapat ditebak, Kawan.
“Cantik
gimana? Nggak keliatan mukanya gitu..” Aku masih pura-pura tidak tahu.
“Loh, kok
nggak keliatan? Ini loh, yang ini.. rambutnya panjang, pakai cardigan ungu
ini.. Ini temen lo, kan? Kenalin ke gue doong, please..” Nanda menunjuk satu
wajah dalam foto itu.
Foto wanita
diantara banyak orang.
Wanita yang
mengahadap ke kamera, di sampingku.
Wanita
berambut panjang, memakai cardigan ungu.
Wanita itu
Mela, sahabatku.
-End-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar