“Rena,
tunggu dulu sebentar.” Mama menahanku sebelum aku turun untuk menemui papa.
“Sekolahmu
tinggal satu semester, berarti setelah ini kamu kuliah. Kamu jangan satu kampus
sama Ano, ya? Cari tempat kuliah yang lain, yang jauh dari Ano.”
“Mama..” Aku
tidak mau jauh dari Ano, bagaimana bisa mama tetap ‘keukeuh’ setelah satu tahun
terlewati?
“Kali ini
kamu harus benar-benar nurut ya sama mama. Kamu sayang sama mama, kan?”
“Iya, aku
sayang mama, tapi ma—“
“Udah sana,
udah ditunggu papa.” Mama membalikkan badannya, aku turun dengan lemas. Malam
tahun baru yang mebuatku tidak bersemangat sama sekali.
*******
4 Juni 2006
Hari ini angkatanku akan resmi
menjadi alumni SMA Pelita Bangsa. Ya, kami di wisuda. Setelah acara selesai,
Ano mengajakku pergi untuk sekedar berjalan-jalan, mungkin tanda perpisahan.
Kami menikmati kopi di kafe favorit kami.
“Kok diem
aja sih, non? Nggak enak ya kopinya?” Ano meraih cangkir kopiku dan meminumnya,
aku tetap diam.
“Enak gini,
kayak biasanya. Kenapa, sih? Sedih? Yaelah ini kan cuma wisuda, mi.”
“Kita harus
berjauhan.” Aku membuka mulutku.
“Lah,
emangnya kenapa? Kamu kena rabies, mi? Kok harus jauh-jauhan segala.” Dia
mencoba bercanda, tetap saja garing.
“Aku serius.
Kita harus jauh, mungkin dengan itu kita bisa saling lupa. Aku nggak mau
nyakitin perasaan mamaku terus dan tetap egois bareng kamu, aku nggak mau.” Aku
tetap duduk tegak, seakan tidak keluar apa-apa dari mulut bodohku.
“Mi? Kamu
sadar, kan? Nggak lagi mabok, kan? Sini aku cium napasmu, bau alkohol nggak
tuh.” Ano tetap bercanda, tidak lucu sama sekali.
“Ano, aku
serius. Kita udahan aja, ya. Aku bakalan kuliah jauh dari kamu, di Malang.”
“Hmm. Kita
keluar dulu, yuk. Cari udara baru, sumpek disini.” Ano menggandeng tanganku,
kami menuju keluar kafe, namun ternyata hujan turun.
“Duh, sebel
banget. Pake hujan segala ih!” Kebiasaanku mengutuk hujan sudah sering didengar
oleh Ano, dia hanya tersenyum kecil.
“Kamu masih
benci sama hujan? Ya ampun, udah dua tahun kita ketemu, kamu masih sama aja
kayak anak kecil, benci hujan. Emangnya hujan punya salah apa sih ke kamu?
Padahal namamu ada kata ‘Rainy’ yang artinya hujan.” Ano mengacak poniku.
“Ya banyak!
Hujan udah bikin aku ditaruh di depan pintu panti oleh ibuku, hujan membuat
ibuku mati karena hanyut dalam banjir, hujan bikin aku nggak bisa keluar, hujan
bikin semua jemuranku basah nggak kering-kering, pokoknya banyaak. Kamu nggak
bakalan ngerti.”
Tiba-tiba
Ano menarikku keluar, bertemu hujan. Sial! Basah semua. Ano benar-benar tidak
mengerti.
“Ano!
Apa-apaan sih kam—“ Ano menyentuh bibirku dengan tangannya, menyuruhku diam.
“Sekarang
kamu merem, ikutin aku.” Mau tak mau aku mengikuti perintahnya. Kami menyusuri
jalan, aku masih dengan mata tertutup. Dan ketika tiba di suatu tempat, Ano
berhenti dan menggenggam erat tanganku.
“Ketika
hujan turun, langit melepaskan seluruh keruh sesaknya. Seluruh emosi dan panas
yang ada akan meluruh bersama hujan. Aku sangat menyukai hujan, dia nggak
pernah ngerasa lelah walau dia tau harus jatuh ke bumi berkali-kali. Hujan itu
anugrah, Ami. Coba lihat dari sisi baiknya, hujan selalu rindu pada tanah,
selalu jatuh pada tanah dan menyatu bersama tanah. Aku adalah hujan, dan aku
berharap kamu bersedia menjadi ‘tanahku’. Bisakah, Ami?”
Aku masih memejamkan mataku, menikmati tiap tetes hujan yang
menyentuh wajahku. Ano tidak bohong, hujan memang tidak semenjengkelkan itu.
Bahkan sekarang, hujan terasa lebih berharga dari apapun. Aku sadar, mau
bagaimanapun, aku adalah tanah yang tiap saatnya dirindukan oleh hujan, hujan
itu adalah Ano.
“Ami, buka
matanya! Udahan yuk romantis-romantisannya, geli ih.” Ano memaksaku membuka
mataku.
“Ih, kamu!
Kebiasaan, merusak suasana indah. Nyebelin.” Seketika itu aku memeluk Ano,
berbisik padanya..
“Tetaplah
jadi hujanku..”
*******
11 Agustus
2006
Aku berdiam di atap bersama hujan
yang begitu derasnya, mengutuk segala yang ada, bukan hujan tapinya. Aku
menggenggam kotak hadiah berwarna merah, mendekapnya.
“Ano jahat!
Sialan! Mana janjimu buat jadi hujanku? Mana?!” Baru kali ini aku menangis,
sejak aku bisa mengontrol emosi ‘bayi’ku, aku tidak pernah menangis. Dan kenapa
tangisan pertamaku disebabkan oleh Ano? Kenapa?
Tadi pagi pak pos mengirim paket hadiah untukku, dari Ano.
“Dasar norak”, pikirku. Namun setelah kubuka, aku menyesal telah menerima
hadiah darinya. Dia memberiku sebuah payung lipat dan seuntai kalung bintang.
Dia juga menyertakan surat untukku, isinya adalah kalimat perpisahan yang
memuakkan, bagaimana tidak? Dia akan kuliah kedokteran di California! Bocah
gila! Aku dibiarkannya sendiri, menunggunya tanpa ada kepastian, tanpa ada perantara
apapun untuk menghubunginya, yang ada hanya suatu keyakinan, bahwa dia adalah
hujanku, aku adalah tanahnya, dan kita akan saling rindu dan menyatu pada
waktunya nanti.
*******
23 Februari
2014
“Cut!! Ami,
apa kamu belom ngapalin skripnya? Dari tadi selalu salah. Break dulu.”
Sutradara menyebalkan itu sensitif sekali hari ini, aku hanya salah empat kali
tapi dia sudah berlebihan begitu. Hari ini perasaanku tidak enak, mungkin
karena kelelahan.
“Ya,
action!” Aku berakting semaksimal mungkin, berharap syuting ini bisa cepat
selesai dan aku bisa pulang ke rumah. Beberapa jam kemudian, aku pulang dengan
mengendarai mobilku sendiri. Ponselku berdering, ada nomor asing yang
menelponku.
“Ya? Halo?”
Aku berhenti
mendadak, ponselku terjatuh dan jantungku berdebar-debar. Aku harus putar
balik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar