Selasa, 21 Juli 2015

Hujan, Tanah, dan Atap (part 3)



“Rena, tunggu dulu sebentar.” Mama menahanku sebelum aku turun untuk menemui papa.

“Sekolahmu tinggal satu semester, berarti setelah ini kamu kuliah. Kamu jangan satu kampus sama Ano, ya? Cari tempat kuliah yang lain, yang jauh dari Ano.”

“Mama..” Aku tidak mau jauh dari Ano, bagaimana bisa mama tetap ‘keukeuh’ setelah satu tahun terlewati?

“Kali ini kamu harus benar-benar nurut ya sama mama. Kamu sayang sama mama, kan?”

“Iya, aku sayang mama, tapi ma—“

“Udah sana, udah ditunggu papa.” Mama membalikkan badannya, aku turun dengan lemas. Malam tahun baru yang mebuatku tidak bersemangat sama sekali.

*******

4 Juni 2006

            Hari ini angkatanku akan resmi menjadi alumni SMA Pelita Bangsa. Ya, kami di wisuda. Setelah acara selesai, Ano mengajakku pergi untuk sekedar berjalan-jalan, mungkin tanda perpisahan. Kami menikmati kopi di kafe favorit kami.

“Kok diem aja sih, non? Nggak enak ya kopinya?” Ano meraih cangkir kopiku dan meminumnya, aku tetap diam.

“Enak gini, kayak biasanya. Kenapa, sih? Sedih? Yaelah ini kan cuma wisuda, mi.”

“Kita harus berjauhan.” Aku membuka mulutku.

“Lah, emangnya kenapa? Kamu kena rabies, mi? Kok harus jauh-jauhan segala.” Dia mencoba bercanda, tetap saja garing.

“Aku serius. Kita harus jauh, mungkin dengan itu kita bisa saling lupa. Aku nggak mau nyakitin perasaan mamaku terus dan tetap egois bareng kamu, aku nggak mau.” Aku tetap duduk tegak, seakan tidak keluar apa-apa dari mulut bodohku.

“Mi? Kamu sadar, kan? Nggak lagi mabok, kan? Sini aku cium napasmu, bau alkohol nggak tuh.” Ano tetap bercanda, tidak lucu sama sekali.

“Ano, aku serius. Kita udahan aja, ya. Aku bakalan kuliah jauh dari kamu, di Malang.”

“Hmm. Kita keluar dulu, yuk. Cari udara baru, sumpek disini.” Ano menggandeng tanganku, kami menuju keluar kafe, namun ternyata hujan turun.

“Duh, sebel banget. Pake hujan segala ih!” Kebiasaanku mengutuk hujan sudah sering didengar oleh Ano, dia hanya tersenyum kecil.

“Kamu masih benci sama hujan? Ya ampun, udah dua tahun kita ketemu, kamu masih sama aja kayak anak kecil, benci hujan. Emangnya hujan punya salah apa sih ke kamu? Padahal namamu ada kata ‘Rainy’ yang artinya hujan.” Ano mengacak poniku.

“Ya banyak! Hujan udah bikin aku ditaruh di depan pintu panti oleh ibuku, hujan membuat ibuku mati karena hanyut dalam banjir, hujan bikin aku nggak bisa keluar, hujan bikin semua jemuranku basah nggak kering-kering, pokoknya banyaak. Kamu nggak bakalan ngerti.”

Tiba-tiba Ano menarikku keluar, bertemu hujan. Sial! Basah semua. Ano benar-benar tidak mengerti.

“Ano! Apa-apaan sih kam—“ Ano menyentuh bibirku dengan tangannya, menyuruhku diam.

“Sekarang kamu merem, ikutin aku.” Mau tak mau aku mengikuti perintahnya. Kami menyusuri jalan, aku masih dengan mata tertutup. Dan ketika tiba di suatu tempat, Ano berhenti dan menggenggam erat tanganku.

“Ketika hujan turun, langit melepaskan seluruh keruh sesaknya. Seluruh emosi dan panas yang ada akan meluruh bersama hujan. Aku sangat menyukai hujan, dia nggak pernah ngerasa lelah walau dia tau harus jatuh ke bumi berkali-kali. Hujan itu anugrah, Ami. Coba lihat dari sisi baiknya, hujan selalu rindu pada tanah, selalu jatuh pada tanah dan menyatu bersama tanah. Aku adalah hujan, dan aku berharap kamu bersedia menjadi ‘tanahku’. Bisakah, Ami?”

Aku masih memejamkan mataku, menikmati tiap tetes hujan yang menyentuh wajahku. Ano tidak bohong, hujan memang tidak semenjengkelkan itu. Bahkan sekarang, hujan terasa lebih berharga dari apapun. Aku sadar, mau bagaimanapun, aku adalah tanah yang tiap saatnya dirindukan oleh hujan, hujan itu adalah Ano.

“Ami, buka matanya! Udahan yuk romantis-romantisannya, geli ih.” Ano memaksaku membuka mataku.
“Ih, kamu! Kebiasaan, merusak suasana indah. Nyebelin.” Seketika itu aku memeluk Ano, berbisik padanya..

“Tetaplah jadi hujanku..”

*******

11 Agustus 2006

            Aku berdiam di atap bersama hujan yang begitu derasnya, mengutuk segala yang ada, bukan hujan tapinya. Aku menggenggam kotak hadiah berwarna merah, mendekapnya.
“Ano jahat! Sialan! Mana janjimu buat jadi hujanku? Mana?!” Baru kali ini aku menangis, sejak aku bisa mengontrol emosi ‘bayi’ku, aku tidak pernah menangis. Dan kenapa tangisan pertamaku disebabkan oleh Ano? Kenapa?

Tadi pagi pak pos mengirim paket hadiah untukku, dari Ano. “Dasar norak”, pikirku. Namun setelah kubuka, aku menyesal telah menerima hadiah darinya. Dia memberiku sebuah payung lipat dan seuntai kalung bintang. Dia juga menyertakan surat untukku, isinya adalah kalimat perpisahan yang memuakkan, bagaimana tidak? Dia akan kuliah kedokteran di California! Bocah gila! Aku dibiarkannya sendiri, menunggunya tanpa ada kepastian, tanpa ada perantara apapun untuk menghubunginya, yang ada hanya suatu keyakinan, bahwa dia adalah hujanku, aku adalah tanahnya, dan kita akan saling rindu dan menyatu pada waktunya nanti.

*******

23 Februari 2014

“Cut!! Ami, apa kamu belom ngapalin skripnya? Dari tadi selalu salah. Break dulu.” Sutradara menyebalkan itu sensitif sekali hari ini, aku hanya salah empat kali tapi dia sudah berlebihan begitu. Hari ini perasaanku tidak enak, mungkin karena kelelahan.

“Ya, action!” Aku berakting semaksimal mungkin, berharap syuting ini bisa cepat selesai dan aku bisa pulang ke rumah. Beberapa jam kemudian, aku pulang dengan mengendarai mobilku sendiri. Ponselku berdering, ada nomor asing yang menelponku.

“Ya? Halo?”

Aku berhenti mendadak, ponselku terjatuh dan jantungku berdebar-debar. Aku harus putar balik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar