Senin, 20 Juli 2015

Hujan, Tanah, dan Atap (part 1)



Senja kelabu menemaniku dalam hati yang penuh ragu dan pilu, mengenang semua kenangan tentangnya, bersamanya. Entah apa yang telah ia perbuat, aku tidak mampu mencintainya dalam serbuk pasir yang kecil, tak mampu pula membencinya dalam bongkahan tebing yang besar. Hanya hujan yang mengerti seberapa tulusnya cinta ini, seberapa kuatnya aku berjuang, seberapa pahitnya menelan keraguan.
*******

24 Juni 2004
            Hari ini tanggal yang cantik bukan? Kuharap secantik ibu yang akan mengadopsiku. Ya, aku adalah gadis berusia 17 tahun yang sudah dari bayi tinggal di panti asuhan ini. Mungkin karena keajaiban, ada orang yang mau mengadopsi anak seusiaku, kupikir aku sudah terlalu tua untuk diadopsi. Aku berpakaian sebaik mungkin agar terlihat menarik di hadapan ibu baruku. Andai saja ibuku di surga melihatku, ku yakin dia pun akan jatuh cinta padaku dan menyesal telah meninggalkanku. Aku menunggu mobil yang akan datang, yang pasti itu adalah mobil ibu baruku. Seperempat jam aku menunggu, malah hujan yang datang.
“Duuuh, kenapa harus hujan, sih? Gimana kalau nanti ibu baruku nggak bisa kesini gara-gara hujan sialan ini? Ah.” Gerutuku pada diriku sendiri.
“Tenang, Ami. Sebentar lagi ibu barumu bakalan datang, kok.” Ibu panti yang baik hati ini menyuruhku tenang, padahal dia tahu betapa bencinya aku kepada hujan.
“Iya iya, Bu Nimas. Tapi aku kesel, selalu aja hujan nggak datang disaat yang tepat. Kalo ibu baruku kehujanan gimana? Trus nggak jadi mengadopsi aku, gimana?”
“Iya sabar, ya. Kan kemarin kamu sendiri yang bilang kalau ibu barumu bakalan dateng kesini naik mobil pribadi yang mewah, jadi nggak akan kehujanan, kan? Hihihi.” Bu Nimas menggodaku.
“Ehmm, itu kan cuma khayalanku aja, Bu. Aku kan nggak tau aslinya seperti apa.” Aku hanya menggaruk kepalaku yang aslinya tidak gatal sama sekali.
Tiba-tiba bel panti berbunyi. Sontak aku berdiri dan membenahi dandananku, menyisir ulang rambut panjangku dengan jari-jariku. Oh Tuhan, aku sangat berdebar. Sementara itu, Bu Nimas membukakan pintu dan muncullah sosok itu, ibu baruku.
“Permisi, Bu Nimas. Maaf saya baru datang, tadi hujan di tengah perjalanan dan seperti biasa banjir, kena macet.” Ibu itu meluruskan celana panjangnya yang semula digulung. Bajunya basah kuyup sampai bawah, hanya bagian kepalanya saja yang masih kering. Apa dia tidak menaiki mobil?
“Oh, iya, nggak apa-apa, Bu. Ini saya sama Ami juga baru nunggu sebentar. Ayo silahkan duduk, Bu.” Bu Nimas berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman hangat, sementara di ruang tamu ini tinggalah aku dan ibu baruku.
“Hai, Ami. Apa kabar?” Ibu itu tersenyum ramah kepadaku.
“Baik, Tante.” Aku gugup. Aku tidak bisa memastikan bagaimana wajahku saat ini, mungkin warnanya merah padam, atau pucat pasi?
“Lho, jangan manggil “tante”, dong. Panggil “mama” aja, ya?” Hangat sekali. Matanya menyipit ketika tersenyum. Oh, otakku tidak salah ketika membayangkan sosok wanita cantik sebagai ibu baruku.
“Iya, Mama.” Kali ini aku mencoba untuk tersenyum, walau agak kaku.
“Gitu, dong. Oh iya, nama lengkap kamu siapa, sayang?”
“Kamila Rainy Adista, Ma. Kalau nama Mama, siapa?”
“Wah cantiknya nama kamu.. Nama Mama Ristya Ayunda. Panggil aja Mama Ayun.”
Hampir saja aku tertawa. Baru kali ini aku mendengar nama panggilan sekonyol itu, dan melihat bahwa pemilik nama ini adalah wanita secantik ini, hihihi. Setelah mengobrol cukup panjang, Bu Nimas datang membawa 3 cangkir teh panas dan beberapa camilan.
Setelah berbincang dan mengurusi beberapa persyaratan, aku dan mama Ayun meninggalkan panti. Sedih memang harus meninggalkan tempat tinggal yang sudah menampungku selama 17 tahun ini, meninggalkan Bu Nimas serta pengasuh yang lain, dan meninggalkan teman-temanku. Tapi aku juga bahagia karena akan tinggal bersama keluarga baru, keluarga mama Ayun. Aku membawa satu tas besar dan satu tas kecil, sedangkan mama membawa satu tas besar yang lainnya. Di luar hujan sudah berhenti, aku melihat sekeliling namun tidak ada satu pun mobil pribadi, hanya ada satu motor besar yang biasanya digunakan oleh pria dewasa. Tapi kenapa mama menghampiri motor itu?
“Sini, Ami. Jangan bengong disitu. Ayo naik, tas yang gede itu kamu pangku aja, ya. Yang satunya lagi ditaro di depannya mama, oke?”
“Kita mau naik motor ini, Ma? Aku takut, Ma, nungging gitu jok belakangnya..”
“Duh nggak usah takut, Mi. Nanti pegangan yang kuat, ya.”
Yah, mau tidak mau aku harus menaiki motor itu. Hilang sudah bayanganku tentang mobil pribadi yang mewah, digantikan oleh kenyataan di depanku, motor besar berwarna merah. Dan gilanya, mama kebut-kebutan di jalan. Oh God, apa mamaku mantan pembalap liar?
*******

17 Juli 2004
            Sudah hampir sebulan aku di rumah baruku. Rumah minimalis yang memiliki 4 kamar tidur, juga memiliki atap yang bisa digunakan untuk sekedar bersantai. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah di sekolah baruku. Agak gugup namun aku sungguh bersemangat.
“Pa, Ma, aku berangkat dulu, ya.”
“Lho, Ami nggak bareng sama Papa pake mobil? Atau sama bang Ramon pake motor gitu?” Mama menahanku.
“Nggak, Ma. Ami mau nyoba berangkat sendiri, masa dari awal Ami ke rumah ini, apa-apa serba dianterin, kan kasihan Papa sama abang.”
“Iya, Ma. Lagian kalo Ramon kuliah sambil nganterin si Ami dulu, kan kepagian. Males banget.” Bang Ramon memang blak-blakan, dingin, dan cuek. Tapi dia sangat baik menjadi seorang kakak, usia kami berbeda 4 tahun.
“Yaudah kalo emang Ami maunya begitu nggak apa-apa. Sini papa tambahin ongkosnya.” Papaku ini sangat dermawan, apalagi kepada anak istrinya, hihi. Papa adalah seorang pria yang tinggi besar dan berkumis, bekerja di suatu perusahaan perhotelan di Bogor ini. Oh iya, ternyata papa dan mama dulunya bertemu di acara pensi kampus. Papa sebagai panitia dan mama sebagai peserta. Dan kau tahu? Mama adalah gitaris band kampus yang beraliran pop-rock. Ya pantas saja kalau waktu itu mama menggunakan motor pria dan ugal-ugalan seenaknya di jalan, mamaku sangat tomboy.
******

            Aku menaiki bis ke sekolah, duduk di bangku urutan ketiga dari belakang bersama seorang laki-laki yang memakai jaket hitam. Sebentar lagi aku akan turun, aku menyiapkan uang untuk membayar. Kulihat lelaki di sampingku agak ‘ribet’ seperti mencari-cari sesuatu.
“Mbak, misi ya, saya boleh pinjem uangnya dulu? Uang saya hilang deh kayaknya.” Wajahnya memelas bercampur malu. Dalam hati sebenarnya aku malas bertemu dan berbincang dengan lelaki tidak dikenal, meminjamkan uang untuknya pula. Ya ampun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar