Senja kelabu
menemaniku dalam hati yang penuh ragu dan pilu, mengenang semua kenangan
tentangnya, bersamanya. Entah apa yang telah ia perbuat, aku tidak mampu
mencintainya dalam serbuk pasir yang kecil, tak mampu pula membencinya dalam
bongkahan tebing yang besar. Hanya hujan yang mengerti seberapa tulusnya cinta
ini, seberapa kuatnya aku berjuang, seberapa pahitnya menelan keraguan.
*******
24 Juni 2004
Hari ini tanggal yang cantik bukan?
Kuharap secantik ibu yang akan mengadopsiku. Ya, aku adalah gadis berusia 17
tahun yang sudah dari bayi tinggal di panti asuhan ini. Mungkin karena
keajaiban, ada orang yang mau mengadopsi anak seusiaku, kupikir aku sudah
terlalu tua untuk diadopsi. Aku berpakaian sebaik mungkin agar terlihat menarik
di hadapan ibu baruku. Andai saja ibuku di surga melihatku, ku yakin dia pun
akan jatuh cinta padaku dan menyesal telah meninggalkanku. Aku menunggu mobil
yang akan datang, yang pasti itu adalah mobil ibu baruku. Seperempat jam aku
menunggu, malah hujan yang datang.
“Duuuh,
kenapa harus hujan, sih? Gimana kalau nanti ibu baruku nggak bisa kesini
gara-gara hujan sialan ini? Ah.” Gerutuku pada diriku sendiri.
“Tenang,
Ami. Sebentar lagi ibu barumu bakalan datang, kok.” Ibu panti yang baik hati
ini menyuruhku tenang, padahal dia tahu betapa bencinya aku kepada hujan.
“Iya iya, Bu
Nimas. Tapi aku kesel, selalu aja hujan nggak datang disaat yang tepat. Kalo
ibu baruku kehujanan gimana? Trus nggak jadi mengadopsi aku, gimana?”
“Iya sabar,
ya. Kan kemarin kamu sendiri yang bilang kalau ibu barumu bakalan dateng kesini
naik mobil pribadi yang mewah, jadi nggak akan kehujanan, kan? Hihihi.” Bu
Nimas menggodaku.
“Ehmm, itu
kan cuma khayalanku aja, Bu. Aku kan nggak tau aslinya seperti apa.” Aku hanya
menggaruk kepalaku yang aslinya tidak gatal sama sekali.
Tiba-tiba bel panti berbunyi. Sontak aku berdiri dan
membenahi dandananku, menyisir ulang rambut panjangku dengan jari-jariku. Oh
Tuhan, aku sangat berdebar. Sementara itu, Bu Nimas membukakan pintu dan
muncullah sosok itu, ibu baruku.
“Permisi, Bu
Nimas. Maaf saya baru datang, tadi hujan di tengah perjalanan dan seperti biasa
banjir, kena macet.” Ibu itu meluruskan celana panjangnya yang semula digulung.
Bajunya basah kuyup sampai bawah, hanya bagian kepalanya saja yang masih
kering. Apa dia tidak menaiki mobil?
“Oh, iya,
nggak apa-apa, Bu. Ini saya sama Ami juga baru nunggu sebentar. Ayo silahkan
duduk, Bu.” Bu Nimas berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman hangat,
sementara di ruang tamu ini tinggalah aku dan ibu baruku.
“Hai, Ami.
Apa kabar?” Ibu itu tersenyum ramah kepadaku.
“Baik,
Tante.” Aku gugup. Aku tidak bisa memastikan bagaimana wajahku saat ini,
mungkin warnanya merah padam, atau pucat pasi?
“Lho, jangan
manggil “tante”, dong. Panggil “mama” aja, ya?” Hangat sekali. Matanya menyipit
ketika tersenyum. Oh, otakku tidak salah ketika membayangkan sosok wanita
cantik sebagai ibu baruku.
“Iya, Mama.”
Kali ini aku mencoba untuk tersenyum, walau agak kaku.
“Gitu, dong.
Oh iya, nama lengkap kamu siapa, sayang?”
“Kamila
Rainy Adista, Ma. Kalau nama Mama, siapa?”
“Wah
cantiknya nama kamu.. Nama Mama Ristya Ayunda. Panggil aja Mama Ayun.”
Hampir saja aku tertawa. Baru kali ini aku mendengar nama
panggilan sekonyol itu, dan melihat bahwa pemilik nama ini adalah wanita
secantik ini, hihihi. Setelah mengobrol cukup panjang, Bu Nimas datang membawa
3 cangkir teh panas dan beberapa camilan.
Setelah berbincang dan mengurusi beberapa persyaratan, aku
dan mama Ayun meninggalkan panti. Sedih memang harus meninggalkan tempat
tinggal yang sudah menampungku selama 17 tahun ini, meninggalkan Bu Nimas serta
pengasuh yang lain, dan meninggalkan teman-temanku. Tapi aku juga bahagia
karena akan tinggal bersama keluarga baru, keluarga mama Ayun. Aku membawa satu
tas besar dan satu tas kecil, sedangkan mama membawa satu tas besar yang
lainnya. Di luar hujan sudah berhenti, aku melihat sekeliling namun tidak ada
satu pun mobil pribadi, hanya ada satu motor besar yang biasanya digunakan oleh
pria dewasa. Tapi kenapa mama menghampiri motor itu?
“Sini, Ami.
Jangan bengong disitu. Ayo naik, tas yang gede itu kamu pangku aja, ya. Yang
satunya lagi ditaro di depannya mama, oke?”
“Kita mau
naik motor ini, Ma? Aku takut, Ma, nungging gitu jok belakangnya..”
“Duh nggak
usah takut, Mi. Nanti pegangan yang kuat, ya.”
Yah, mau tidak mau aku harus menaiki motor itu. Hilang sudah
bayanganku tentang mobil pribadi yang mewah, digantikan oleh kenyataan di
depanku, motor besar berwarna merah. Dan gilanya, mama kebut-kebutan di jalan.
Oh God, apa mamaku mantan pembalap liar?
*******
17 Juli 2004
Sudah hampir sebulan aku di rumah
baruku. Rumah minimalis yang memiliki 4 kamar tidur, juga memiliki atap yang
bisa digunakan untuk sekedar bersantai. Hari ini adalah hari pertama aku masuk
sekolah di sekolah baruku. Agak gugup namun aku sungguh bersemangat.
“Pa, Ma, aku
berangkat dulu, ya.”
“Lho, Ami
nggak bareng sama Papa pake mobil? Atau sama bang Ramon pake motor gitu?” Mama
menahanku.
“Nggak, Ma.
Ami mau nyoba berangkat sendiri, masa dari awal Ami ke rumah ini, apa-apa serba
dianterin, kan kasihan Papa sama abang.”
“Iya, Ma.
Lagian kalo Ramon kuliah sambil nganterin si Ami dulu, kan kepagian. Males
banget.” Bang Ramon memang blak-blakan, dingin, dan cuek. Tapi dia sangat baik
menjadi seorang kakak, usia kami berbeda 4 tahun.
“Yaudah kalo
emang Ami maunya begitu nggak apa-apa. Sini papa tambahin ongkosnya.” Papaku
ini sangat dermawan, apalagi kepada anak istrinya, hihi. Papa adalah seorang
pria yang tinggi besar dan berkumis, bekerja di suatu perusahaan perhotelan di
Bogor ini. Oh iya, ternyata papa dan mama dulunya bertemu di acara pensi
kampus. Papa sebagai panitia dan mama sebagai peserta. Dan kau tahu? Mama
adalah gitaris band kampus yang beraliran pop-rock. Ya pantas saja kalau waktu
itu mama menggunakan motor pria dan ugal-ugalan seenaknya di jalan, mamaku
sangat tomboy.
******
Aku menaiki bis ke sekolah, duduk di
bangku urutan ketiga dari belakang bersama seorang laki-laki yang memakai jaket
hitam. Sebentar lagi aku akan turun, aku menyiapkan uang untuk membayar.
Kulihat lelaki di sampingku agak ‘ribet’ seperti mencari-cari sesuatu.
“Mbak, misi
ya, saya boleh pinjem uangnya dulu? Uang saya hilang deh kayaknya.” Wajahnya
memelas bercampur malu. Dalam hati sebenarnya aku malas bertemu dan berbincang
dengan lelaki tidak dikenal, meminjamkan uang untuknya pula. Ya ampun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar