Hai, tulisan ini bukan berupa puisi. Tapi, perlu juga kok
buat dibaca ;)
Kamu pernah nggak menanti sesuatu yang nggak pasti? Nggak
tau apa yang harus dinanti dan diharapkan, tetapi tetap kamu lakukan demi
mengikuti perasaan yang bimbang. Layaknya drama Godot, pada akhirnya kamu
menyadari bahwa apa yang dinanti itu nggak akan datang, bukan sebuah cita-cita
melainkan angan semata, ya, harapan kosong.
Jujur aku mengalaminya. Selama 2 tahun bertahan dalam
penantian tanpa kepastian. Ya, bisa dikatakan aku ini bodoh. Siapa atau apa
yang kunanti pun tidak pernah merasa dinantikan. Kalau sudah begini, siapa yang
salah? Takdir Tuhan? Oh bukan, Takdir nggak pernah bisa disalahkan, ini sudah
menjadi alur yang indah untuk dijalani.
Dan sekarang, aku mengalami perubahan. Bukannya aku lelah
dan enggan menanti lagi, tapi apa aku salah jika aku mencoba pindah ke halte
lain? Mungkin menunggu bus yang lebih mahal, atau yang lebih sederhana begitu.
Aku menemukan seseorang yang mampu membuatku membuka mata,
terbangun dari mimpi kosong, dia Green. Ada teman yang mengatakan bahwa Green
belum lebih baik dari sosok yang telah lama kunantikan, si “12”. Tapi entah
kenapa, dari segala keterbatasan Green, aku menangkap panggilan untuk “pindah”.
Iya, pindah. Apa kamu belum paham juga?
Hidup nggak semudah dongeng-dongeng Disney atau FTV siang,
Kawan. Apalagi soal Cinta di masa remaja yang badai mendunia ini. Rumit memang,
tapi indah untuk dijalani, dinikmati, dan dipelajari. Bahkan di zaman modern
seperti ini, masih banyak para gadis yang bertingkah konvensional, tradisional,
atau apalah itu namanya. Seperti, mencuri-curi pandang si dia, salting saat dia
menatap matamu, atau bahagia minta ampun saat dia menyapamu. Iya, kan? Jangan
gengsi untuk mengakui, aku juga begitu, kok.
Bagaimana dengan para pria? Ah, jangan tanyakan padaku, pria
sulit ditebak, bahkan jika kamu memberiku 10 clue untuk menebaknya. Para pria
berkata bahwa “Wanita itu sulit dimengerti”, heiii kau juga sulit ditebak,
Bung. Kita impas kan sekarang?
Pada intinya, aku sebagai seorang gadis remaja yang rentan
akan serangan cinta, menyadari bahwa cinta nggak perlu dinanti, tapi diusahakan
atau paling tidak dipantaskan. Ibarat pohon yang berbuah, jangan hanya menunggu
buah itu jatuh ke tanah, kita nggak akan pernah tau buah itu akan sampai ke
tanah siapa atau ke tangan siapa. Tapi usahakanlah, dengan galah atau memanjat
pohonnya, butuh perjuangan kan? Atau paling tidak, pantaskan diri kita dahulu
untuk menerima buah tersebut, kalau kita jarang merawat pohon tersebut, apa
pantas kita dapatkan buahnya?
Oke, Kawan.Terima kasih yaa sudah menyempatkan diri membaca
coretan anak remaja galau macam aku ini. Tuhan pasti tau kok, cinta mana yang
layak untuk kita, entah dari keluarga, sahabat, teman, atau bahkan si dia,
pantaskan diri saja dulu. ;)
Bye~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar